“Dia terlihat baik-baik saja, lalu apa aku masih perlu melakukannya?” *** Sekarang aku berada di dalam kamar dan memegang ponsel. Aku terus menatap layar ponselku yang menampilkan nomor telepon Gabriel yang entah Senior Gibran dapatkan dari mana. Niatnya malam ini aku akan menelpon Gabriel, tetapi aku perlu merangkai kata terlebih dahulu sebelum memencet tombol panggil. Dering pertama terlewati, begitupun dengan dering kedua. Jika dia tidak mengangkatnya di dering keempat, aku akan mematikan panggilannya tetapi di sebelum dering ketia benar-benar berakhir, dia mengangkat panggilanku. “Halo?” sapanya. “Gabriel,” balasku menyapa dengan langsung menyebut namanya. “Sila?” dia terdengar terkejut sejenak sebelum kemudian terdengar tawa kecil yang aku tidak mengerti maksudnya. “Ken

