Malaikat Hitam; 07

3350 Kata
Tidurnya sempat terganggu lantaran terus saja memikirkan sosok yang membuatnya berpikir keras akhir akhir ini. Malam ini saja ia belum bisa menutup matanya, gadis itu masih duduk termenung di atas kursi tempatnya belajar. Keheningan malam menjadi saat yang paling tepat untuk lamunannya bisa terbang kemana mana, hingga beberapa kali helaan nafas terdengar begitu saja. "Siapa Hans Raltfoy?" gumamnya, tangan si gadis terulur untuk mengambil koran yang sempat ia bawa pulang dengan cara yang cukup sulit.  Jadi sore itu saat Tea selesai membaca keseluruhan artikel ia segera membawanya untuk di bawa pulang namun, mendadak seorang wanita dengan badan berisi dan tampang tak bersahabat menghentikan langkah Tea. Karena merasa aneh gadis itu kemudian bertanya, "Maaf, aku terburu buru." ujarnya. "Kau tidak bisa membawa koran itu." ucap si wanita dengan nada tegas dan tampang yang datar, Tea mengernyit bingung, "Tunggu, apa maksudmu? Ini untuk umum, bukan?" wanita dengan dandanan tebal tersebut menggeleng dan mengarahkan tongkat kayu yang ia bawa kearah judul yang terpampang jelas di sana, "Kau bisa membacanya?" Si gadis tampak mengikuti arah gerak tongkat itu dan menggeleng tidak percaya, "Informasi? Bukankah itu boleh boleh saja?" tanya Tea, wanita berbadan besar dengan pakaian panjangnya berjalan mendekat dan mengambil koran yang ada di tangan Tea, "Tidak, tidak ada bantahan tentang itu, semua yang berada di informasi tidak bisa dibawa pulang."  "Apa? Hei, lagipula itu koran lama. Lihat!" manik si wanita mengarah pada judul dan tanggal yang tertera di sana, "Apa kau mengerti jika koran ini menjadi satu satunya informasi dari kejadian saat itu, ini bukan untuk umum, dengarkan itu!" tegas si wanita dengan menekankan setiap kata terakhir. Dari jauh seorang lelaki yang mendengar keributan antara Tea dan Nyonya Buku perlahan menghampiri keduanya dan bertanya, "Apa yang kalian ributkan di sini?" dua perempuan itu menoleh, saat Tea hendak menjawab si wanita yang disebut dengan Nyonya Buku itu memotong ucapan Tea, "Dia mengambil bagian penting dari perpustakaan."  Tea menatap tidak percaya dan menggeleng keras keras, "Aku hanya ingin meminjamnya, bukankah ini untuk umum, Sir?" lelaki tersebut mengambil koran yang di bawa Nyonya Buku dan memberikkannya pada Tea tanpa sedikitpun membacanya, "Ambil ini, aku memiliki beberapa salinan untuk koran." ucap si lelaki dengan senyuman manis. Gadis bersurai kecokelatan tersebut menerimanya dan memasukan koran tersebut kedalam tas, "Terima kasih, Sir." ia membalas dengan senyum simpul lalu menatap wanita yang kini menatapnya dengan pandangan tajam. "Sampai jumpa di lain waktu, Sir dan Nyonya Buku." ucap Tea kemudian, saat langkahnya mencapai angka tiga sebuah panggilan membuatnya menoleh, "Tunggu, siapa namamu?"  "Aku? Namaku Valaria."  Begitulah sore itu, terlewat begitu saja dengan sangat rumit dan menarik. Entah apa yang membuat si gadis memberikkan nama Valaria pada lelaki penjaga perpustakaan itu, mungkinkah ia mulai menyukai nama itu atau karena tidak ingin identitasnya diketahui? Entah, hal itu masih menjadi misteri hingga saat ini.  Baik, pada akhirnya Tea memilih tidur karena malam mulai larut. Matanya terpejam, menyelami dunia mimpi yang akan menjadi sebuah pelarian dari dunia nyata yang amat sangat menyakitkan. Ketika kau kecewa dengan apa yang ada di dunia, maka sebutlah mimpi sebagai dunia nyata yang hanya menjadi milikmu. Ya, milikmu yang akan tetap menjadi milikmu. Membuat sendiri cerita dan temanya, itu sangat menarik. Karena ketika pagi tiba, mata terbuka lagi untuk melihat kenyataan. Kenyataan yang sesungguhnya, menyakitkan memang jika membicarakan kenyataan pahit tentang dunia. Tapi mau bagaimanapun kau menghidar dari kepahitan dunia, tetap saja itu akan terus mengejarmu bahkan sampai dunia mimpi sekalipun. Hadapi dan tahan, tahan sampai ajal menjemputmu.   Waktunya Tea menghadapi dunianya, bahkan sekalipun dunia tersebut sangat menyakitkan. "Hei! Lihat dia! Si gadis cupu dengan kacamata kusamnya!" seru seorang gadis yang berdiri di samping Luvena, Flysi. Semua pasang mata langsung menatap kearah Tea dan juga gadis bersifat iblis itu. Mereka semua sekali tidak ada niatan untuk membantu, malahan menonton aksi jahat Luvena. Flysi, gadis berwajah lokal itu berjalan kearah Tea yang berdiri di samping lokernya. Sedangkan Luvena dari jauh berdiri menatap sahabatnya itu, "Hentikan tatapan koyol mu itu." sinis gadis bersurai hitam tersebut, ia menatap penampilan Tea dari atas sampai bawah dan menunjukkan raut semacam jijik. "Si upik abu, dasar gadis bodoh!" tandasnya dengan tawa di akhir kata. Semua siswa yang berlalu lalang sesekali berhenti dan ikut mengejek Tea, ada juga yang melewati begitu saja seolah tidak melihat mereka, ya begitulah. Melihat ada beberapa buku yang ada di tangan Tea membuat Flysi menemukan sebuah ide yang cukup bagus untuk membuat gadis di depannya ini merasakan malu. Gadis bersurai hitam yang bergelombang itu merebut paksa buku yang ada di tangan Tea dan menghamburkannya ke lantai. Luvena yang merasa aksi sahabatnya cukup baik pun menghampirinya dan menepuk pundak si gadis dengan bangga, "Kerja bagus!" puji Luvena. Kini pandangan mereka beradu, antara Tea dan Luvena. "Sekali lagi kau berani memandangku seperti itu, akan ku celupkan wajahmu itu pada tungku pemanas." ucap si gadis bersurai pirang tersebut dengan nada tajamnya. Tea segera berlutut dan mengambil buku bukunya yang berserakan, aksinya terhenti saat Flysi dengan tega menginjak tangan Tea dengan sangat keras, "AHH!" erang Tea merasa kesakitan, gadis bersifat iblis itu tertawa bahagia dan menatap sahabatnya, "Bagaimana? Itu sebagai balasan atas perbuatan mu kepada Luvena."  Pandangan Luvena mendadak teralihkan pada sebuah koran yang ada berada di antara buku Tea, karena penasaran ia mengambilnya dan membacanya sekilas, "Death day?" gumamnya, ia menatap gadis di hadapannya dengan raut aneh sekaligus terkejut. "Kau? Jadi kau adalah orang di balik pembunuhan Vica." Flysi mendadak menoleh dan melihat apa yang dibawa oleh sahabatnya. "Dasar perempuan j*****m!" tatapan tajam milik Flysi tertuju langsung pada gadis itu, Tea hanya membalas tatapan keduanya dengan datar karena ia bukanlah pelakunya. Belum sempatnya Flysi beraksi sebuah teriakan datang dari arah kiri mereka, "TEA!" teriak Anantha dengan wajah panik, gadis itu langsung menghampiri Tea dan membantu merapikan buku si gadis. Luvena tersenyum miris, "Nah, ini dia! Si gadis penggoda! Yang mendekati Dich demi uang dan popularitas." hina Luvena, Anantha berdiri dan menatap Luvena dengan tajam. "Kau bilang apa?!" Luvena tersenyum miring dan maju selangkah kedepan, berhadapan langsung dengan Anantha yang kini benar benar dibuat murka, "Gadis penggoda!" ulang Luvena, seketika saat itu juga Anantha menampar pipi gadis berambut pirang dihadapannya. Flysi melotot tidak percaya, "Kau?!" murka Luvena. Anantha menunjukkan senyum kemenangan dan mengangkat telunjuknya di depan wajah gadis bermanik cokelat tersebut, "Gadis seperti dirimu memang harus diberi sedikit pelajaran, agar kau paham bagaimana rasanya dihina dan diperlakukan keras seperti itu!" ucap Anantha dengan tegas dan jelas. Mendengar hal itu semakin membuat emosi Luvena semakin meledak ledak, dengan pandangan penuh kebencian ia menyingkirkan tangan Anantha dari wajahnya, "Kau?! Kau memang sama saja dengannya..." kini pandangannya tertuju pada Tea, "...kalian memang bekerjasama untuk membunuh sahabatku, dasar perempuan iblis." tandasnya kemudian. "Adakah bukti jika aku membunuh teman biadab mu itu, hah!" Luvena mengangkat tangan kanannya yang membawa sebuah koran lama yang ia rebut dari Tea, "Hanya sebuah koran, mampukah hal itu membawaku pada kasus ini?" Anantha menaikkan sebelah alisnya dan memberikan tatapan yang mampu membuat Luvena dan Flysi terdiam seketika. Karena merasa berhasil memojokkan kedua gadis dihadapannya, Anantha merebut kembali koran tersebut dan menarik tangan Tea untuk pergi namun, "Apa yang membuatmu mengejar ngejar Dich, Anantha? Sebuah harta? Dasar p*****r gila!" gadis yang disebut namanya itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "Berapa uang yang kau butuhkan? Sampai sampai mendekati banyak lelaki, huh!" sahut Flysi dengan nada menghina yang terlihat jelas. Ditolehka nya wajah Anantha, ia perlahan mendekat dan tersenyum, senyum yang amat sangat manis, "Aku sama sekali tidak membutuhkan uang kalian, jangankan uang, aku bisa saja membeli kalian juga." ucapnya. Luvena menunjukkan wajah kaget yang dibuat buat dan melihat tampilan Anantha dari atas hingga bawah, "Ups! Membeli kami? Seberapa banyak harta yang kau punya? Bahkan jika dilihat saja kau tidak sebanding dengan kekayaan keluargaku." Anantha masih mempertahankan senyumnya untuk menahan emosi. "Dengar, namaku Anantha Urbi Gacfen, pewaris semua properti yang dimiliki keluarga Gacfen." Gadis dengan manik abu itu menghela nafas dan mengalihkan pandanganya pada Flysi, "Aku hanya mengingatkan padamu, jangan sampai urusan kita mampu menghancurkan perusahaan Aditama." ujarnya, "Itu hal yang menyedihkan, bukan?" lanjut Anantha, ia membalikkan badannya dan berjalan kearah Tea. Sebuah senyum miring terbentuk di wajahnya, "Aku tidak seperti kalian yang suka memamerkan kekayaan orang tuanya hanya demi popularitas."  *** Kejadian tadi pagi membuat seluruh siswa sempat heboh dengan identitas yang sesungguhnya dari Anantha, entah mengapa sampai seheboh itu. Padahal hanya sebuah fakta yang memang benar adanya. Oleh sebab itu kini Anantha mendapat tatapan aneh dari para murid Atherty, entah apa maksud mereka. "Aku tidak mengerti apa yang mereka tatap saat ini, dasar menyebalkan." gumam Anantha saat mereka berdua berada di perpustakaan. "Mungkin efek dari ucapan terakhirmu pada Luvena." sahut Tea, Anantha mengangguk anggukkan kepalanya, "Benar juga, tapi sungguh! Apa yang dilakukan cacing itu membuat aku ingin menghabisinya." keduanya hening sejenak dan mulai tertawa. Tidak lama setelah tawa mereka terdengar seorang pemuda menghampiri keduanya, "Hei kalian, ada yang ingin aku bicarakan." ucap Dich, mereka bertiga pun mendudukkan diri di sebuah kursi yang berada di sana. Hening, Dich belum berbicara apapun kecuali mengetuk ngetuk kan jarinya di atas meja kayu yang tampak kokoh tersebut. Tea hendak berbicara namun, "Aku ingin mendengar penjelasan tentang bagaimana kalian bisa pergi ke kantor polisi?" kedua gadis tersebut terdiam, tapi Tea sempat mengernyit bingung, "Tunggu, bagaimana kau tahu?" tanya Tea sedikit curiga. "Aku berada di sekitar sana saat kalian berdua keluar dari gedung tersebut. Karena terburu buru aku memutuskan pergi." terang Dich sembari memainkan kedua tangannya. Tea tampak saling melemparkan pandangan dengan Anantha yang berada di seberangnya, "Aku ingin mengetahui lanjutan kasus ini." ucap Tea pada akhirnya. Dich masih memberikan pandangan tidak percaya pada gadis bernama lengkap Latea Valaria Quinnzel tersebut, "Sangat buruk, kau tahu jika ini bisa melibatkan namamu dalam kasus itu." karena merasa terus terusan di salahkan akhirnya Tea melemparkan sebuah koran di depan pemuda bersurai hitam itu, "Ini adalah kasus yang ditutup tutupi oleh mereka, tentang Death day dan juga Hans Raltfoy."  Mendadak raut Dich berubah, ia mengambil koran tersebut dan melihatnya, "Tunggu, apa yang kau ketahui dari pria ini?" tanya si pemuda, "Dia bagian dari keluarga Raltfoy, ia membunuh anggota keluarganya sendiri dan meneror seluruh kota Broadmoor. Hanya itu yang aku ketahui darinya."  "Dia pria gila, karena seluruh keluarganya tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari mereka. Kau tahu, itulah sebabnya Hans membunuh mereka semua, bahkan dia bekerjasama dengan anggota gangster." kerutan samar terlihat di wajah Tea dan Anantha, "Kau bahkan mengetahui latar belakang dari si pria."  Si pemuda berwajah tampan itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan mulai berbicara, "Aku mendengar kisahnya dari seorang pria yang mengasuhku setelah kedua orang tua kandungku meninggal." Anantha yang mendengar itu langsung menggenggam tangan si pemuda dan memberikan senyum terbaiknya, begitu juga dengan Tea. "Tolong, jangan lanjutkan penyelidikkan ini, mungkin mereka menutupi hal ini karena mereka takut jika yang mereka duga selama ini adalah sebuah kenyataan. Mungkin juga mereka takut melibatkan keselamatan masyarakat." Tea mengangguk, "Tapi, jika mereka tidak mengetahui hal ini akan lebih berbahaya hasilnya." Ditatapnya koran yang tergeletak dihadapannya, "Tidak ada yang tahu apakah pria itu masih hidup atau tidak, tapi yang mereka tahu Hans telah ditemukan tewas saat melakukan persembunyian di Fudson." lanjut Dich. Keheningan membawa mereka bertiga pada lamunan yang kini sedang membuat teori teori milik mereka sendiri. Suara bel berbunyi mengharuskan mereka kembali pada pelajaran selanjutnya, dan waktunya Tea bertemu dengan Mrs. Nori selaku guru Kimia. Ruang laboratorium menjadi tempat berpusat saat ini, berbagai macam botol dengan beragam bentuk dan alat alat yang terpasang tampak menarik perhatian, terutama bagi Tea yang sangat menyukai pelajaran tersebut. "Baik, terima kasih sudah bersedia hadir di kelas Kimia pada siang ini." ucap wanita yang memiliki wajah ramah dan murah senyum, ia kini menunjukkan beberapa materi dan menjelaskan apa saja yang akan mereka pelajari di siang hari ini. Tampaknya para murid senang dengan pembelajaran kali ini, walau sebagian murid lain banyak yang mengeluh untuk segera mengakhirinya. "...bagus Ms. Bell, aku sangat mengapresiasi semangat mu siang ini." wanita itu menatap para muridnya dan memberikan beberapa alat untuk keperluan ujian hari ini, "Sebelum dimulai apakah asa pertanyaan?" tanya Mrs. Nori, ia melihat kearah Tea yang tengah duduk bersama Anantha, wanita itu kemudian menghampirinya. Kedua gadis yang tengah sibuk menyiapkan beberapa keperluan praktek mendadak menoleh saat kedatangan wanita yang menjadi gurunya saat ini, "Ada kesulitan mungkin?" tanya si wanita sembari menunjukkan senyum lebarnya, "Mungkin tidak untuk kali ini, Mrs. Nori." balas Anantha. Si wanita mengangguk dan sesekali membenarkan letak benda yang dirasa belum tepat, "Senang rasanya melihat kalian bekerjasama, dulu saat pertama kali mengajar aku dapat melihat kalian tidak saling bicara walaupun satu kelompok." Anantha mengendikkan bahunya dan melemparkan pandangan kearah gadis di sampingnya. "Tea gadis yang baik, dia memang harus menjadi temanku." ujar Anantha, mendengar hal itu Tea tersenyum tipis dan, "Kami hanya tidak sengaja berbicara lalu lama kelamaan menjadi seperti ini." sahut si gadis bersurai kecokelatan. Wanita yang memiliki rambut hitam pendek yang selalu di cempol itu kemudian berbalik arah dan memulai praktek mereka. Detik berubah menjadi menit, menit berubah menjadi jam. Beberapa jam mereka lalui dengan fokus pada pengamatan, pembuatan dan ketelitian mereka dalam melakukan sebuah uji coba pembuatan unsur unsur yang terdapat dalam pembelajaran Kimia. Untuk Tea sendiri telah selesai beberapa menit setelah praktek tersebut di mulai, tidak perlu ditanyakan lagi soal kemahirannya membuat dan menguasai hal itu. "Bagus, lagi lagi kau yang menjadi yang pertama." ucap Mrs. Nori dengan suara yang sedikit keras, semua siswa memandang iri pada gadis itu. Begitupun dengan Hillen yang kini tengah sibuk membuat hasilnya, "Gadis menyebalkan!" gumam pemuda itu, kedua teman Hillen yang mendengarnya pun ikut mengangguk menyetujui. Setelah praktek tersebut akhirnya selesai, satu demi satu mereka semua meninggalkan ruangan tersebut dan menyisakan kedua gadis utama dan Mrs. Nori, "Tidak masalah Mrs, kami akan merapikan tempat ini." ujar Tea dengan tiba tiba, wanita yang memiliki lesung pipi itu menoleh dan memberikan senyum manis dan tulus, "Kalian anak yang baik, terima kasih." ungkap si wanita sembari berpamitan pulang. Anantha menatap Tea dengan aneh, "Tea, bukan berati kita harus menyelesaikan semua ini, kau tahu ini sangat melelahkan." keluh gadis bermanik abu tersebut, Tea hanga mendengus dan melangkahkan kakinya untuk membersihkan ruang serba putih itu. Karena tidak ingin memberatkan tugas Tea akhirnya Anantha ikut membantu walaupun ia sedikit kelelahan. "Sungguh, kau sangat bahkan benar benar terlalu baik, Tea." celetuk Anantha. "Itu bukanlah hal yang besar, karena ruangan telah bersih kau bisa pulang terlebih dahulu." tutur Tea, Anantha sempat bingung, "Lalu kau? Kau tidak akan pulang?" tanya si gadis bersurai hitam, Tea menggeleng dan menatap sekitarnya, "Aku ingin melakukan percobaan, sebentar saja." balasnya. Anantha menggeleng keras, "Bagaimana jika Hillen menganggu mu lagi? Atau si cacing?" Tea menghela nafasnya dan menatap malas gadis di hadapannya, "Hari telah mulai sore, lagipula mereka pastinya telah pulang." balas si gadis bermanik biru, ia berusaha menyakinkan jika akan baik baik saja. Tapi Anantha tetaplah Anantha, ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya, "Aku di sini untuk beberapa menit kedepan, setelah aman aku janji akan pulang." tandasnya pada akhirnya, Tea yang pasrah pun hanya menyetujui hal tersebut walaupun sedikit terganggu jika ada seseorang di sekitarnya. "Tea, bagaimana dengan tanganmu?" tanya Anantha beberapa saat setelah mereka hening, Tea melihat tangannya yang sempat lebam, ia menunjukkan kepada gadis yang tengah duduk sembari memakan cemilannya, "Cukup membaik." balasnya."Ngomong ngomong dari mana kau dapat obat seperti tadi?" tanya Anantha penasaran, pasalnya ia tak pernah menjumpai cairan seperti itu sebelumnya. "Obat itu dari Venic." ujar Tea, "Venic?" ulang Anantha yang merasa asing dengan nama tersebut, "Ya, aku sempat memiliki luka bakar, lalu wanita itu memberikan itu padaku. Hasilnya memang luar biasa." Tea membenarkan posisi kacamatanya dan kembali menatap Anantha. "Tea, maksudku siapa Venic?" gadis berkacamata itu menepuk dahinya dan tertawa kecil, "Dia pemilik Café yang biasa aku datangi setiap akhir pekan." jelas si gadis, anggukan samar terlihat di wajah Anantha, "Baik, akhir pekan ini kau harus mengajak diriku." tegas Anantha dengan nada tak terbantahkan. Anantha mendadak menghentikan kegiatannya saat seseorang berdiri di depan pintu masuk laboratorium, "Aku rasa aku akan pulang sekarang, Tea." ungkap si gadis sembari mengambil tas ransel berwarna ungu miliknya. Merasa aneh dengan kelakuan Anantha, Tea melihat kearah yang di tuju gadis berambut hitam panjang tersebut. "Dia." lirih Tea saat pemuda itu perlahan berjalan kearahnya. Kini Anantha telah pergi meninggalkan keduanya di dalam ruang laboratorium tersebut. "Hai." sapa Tea dengan sedikit... canggung? Tidak adanya jawaban dari si pemuda membuat Tea terdiam dalam pikirannya sendiri, sempat ia meruntuki dirinya sendiri, mengapa harus menyapa terlebih dahulu jika tidak dibalas. Si pemuda tampak ikut menyibukkan diri dengan beberapa cairan yang ada di hadapannya saat ini, "Kau mahir tentang ini?" tanya K tanpa sedikitpun menatap Tea. "Ya, aku melakukannya sebisa mungkin." balasnya, pemuda dengan tampang datar itu kini menatap gadis dihadapannya dan memberikan sebuah senyum tipis yang hanya terlihat sekilas, "Bagus, itu hal yang menarik," ungkap si pemuda yang kemudian mengambil beberapa hal lain dari almari penyimpanan. Saat menyadari betapa mahirnya pemuda itu, Tea membuka mulut untuk berbicara, "Tampak sekali dari tanganmu, kau tidak kalah hebat." K mendongak sekilas kemudian menunduk lagi untuk fokus pada sesuatu yang menjadi favoritnya. Tea mengerucutkan bibirnya dan mengambil tempat duduk, mengamati pemuda itu lebih baik dari berbicara. "Jangan melakukan sesuatu yang membuatmu kehilangan banyak waktu, tidak terkecuali hanya duduk sembari memandang terus kearah ku." Tea mengalihkan pandangannya dan mendengus pelan, "K, apa itu benar benar nama panggilan dirimu." tanya si gadis dengan sedikit penasaran, karena nama tersebut terdengar aneh saja. Si pemuda mengambil sesuatu yang ada dihadapan Tea dan mulai membalas, "Kleyfan Zack, itu namaku." Tea hendak berbicara lagi sebelum akhirnya pemuda bersurai pirang itu kembali berucap, "Mereka lebih suka memanggilku dengan nama Zack namun, kepala sekolah tidak menyetujuinya," "Sebab itu hanya ada satu satunya nama yang aku pakai yaitu Kleyfan namun, terlalu panjang." lanjutnya, Tea mengangguk paham, "Jadi oleh karena itu kau di panggil dengan nama K." ujarnya setelah paham akan arti dibaliknya. Pemuda yang dipanggil dengan nama K itu menghentikan kegiatannya dan menatap gadis dihadapannya, "Tapi itu tidak berlaku untuk dirimu, kau harus memanggilku dengan nama Zack." ujarnya, "Paham?" Tea mengernyit heran, "Eh, memang kenapa?" si pemuda tidak langsung menjawab, ia memberikan senyum yang jarang terlihat itu dan berbalik. "Apakah itu sulit, Valaria?" deg! Ada perasaan aneh dalam diri Tea saat ini, entah kenapa ada sesuatu yang cukup tinggi mengguncangkan jantungnya. "Ya, itu lebih baik kurasa." tandas Tea akhirnya. Beberapa saat kemudian mereka hening dalam kegiatannya masing-masing, Tea banyak sekali mencoba hal hal baru sedangkan si pemuda masih melakukan satu hal yang sukup menguras energinya. "Apa yang membuatmu penasaran dengan kasus pembunuhan Vica?" tanya pemuda itu dengan tiba tiba. Tea menatap sekilas dan memasukkan kembali beberapa cairan, "Tidak ada, hanya saja ini mampu menarik perhatianku, terlebih kasus ini berkaitan erat dengan kasus beberapa tahun silam." tuturnya, "Alasan yang bagus."  "Bukankah ini hal yang kebetulan, orang yang mati adalah orang yang suka menindas dirimu," Tea mendadak menoleh dan menatap aneh, "Apa itu artinya aku berkaitan dengan hal ini?" pemuda tersebut mengendikkan bahunya dan tersenyum, "Aku tidak berkata seperti itu."  Setelah mendapatkan satu botol keperluannya kini Tea membersihkan tempat tersebut dan mengemasi beberapa barang yang menjadi miliknya, "Seharusnya memang kau membalas, Valaria." ia tolehkan kepalanya dan manik mereka beradu beberapa detik sampai akhirnya Tea mengakhiri kontak mata di antara mereka, "Membalas apa? Kau lihat sendiri aku gadis cupu yang tidak bisa berbuat apapun, Zack."  "Tidakkah kau ingin aku membalasnya?" pemuda bernama Kleyfan Zack itu mendekati Tea dan tangannya terulur untuk menyisihkan sebagian rambut kecokelatan yang terjatuh di area mata, "Hmmm? Tawaranku hanya berlaku sekali." bisiknya. Si gadis yang tampak cemas itu segera menyingkir dari hal yang membuatnya kehilangan oksigen, "Aku... aku tidak mengerti apa maksudmu." ujar si gadis bermanik biru cerah tersebut, "Aku menyuruh dirimu untuk menemui diriku di jalan yang ditunjuk, tapi sayangnya kau tidak datang." kerutan samar terlihat di dahi Tea, sempat ia melupakan tentang kartu yang diberikan oleh Zack beberapa hari yang lalu. "Maaf." hanya satu kata itu yang mampu ia ucapkan sekarang ini, "Baik, tidak menjadi masalah selama kau berada dalam jangkauanku." tandas si pemuda. Tea mendongak menatap pemuda yang ada didepannya dan berdehem, "Aku akan pulang."  Zack mengalihkan pandangannya dan, "Baiklah."  Setelah ucapan terakhir dari Zack, si gadis memilih pergi. Belum sampai ia mencapai pintu laboratorium suara dari belakang membuatnya menghentikan langkahnya, "Apakah tidak ada ucapan sampai jumpa?" Tea menoleh, "Kurasa itu tidak perlu." Ia meneruskan langkahnya untuk segera pergi, sedangkan si pemuda masih menatapnya dengan pandangan penuh misteri. *** VZ- seri pertama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN