Seorang gadis sedang berjalan di dalam kegelapan malam, lorong panjang dengan beberapa furniture megah dan mewah menjadi bentuk rasa dendamnya. Seringai tajam beberapa kali terlihat saat seberkas cahaya menyinari lorong yang gelap gulita. Pilar pilar tinggi menyangga rumah mewah yang selalu mengingatkannya dengan sosok pria yang beberapa bulan lalu menghina dirinya dengan sebutan, "Kuno." lirihnya saat si gadis tiba di pintu besar berwarna cokelat dengan lambang S. "Hallo, Tuan." ujarnya, senyum manis terpancar di wajah cantiknya. Tangan kanannya masih sibuk memainkan sebuah payung hitam yang selalu ia seret sebagai tanda kehadirannya, sekarang tangan kirinya terulur untuk mengangkat roknya. Pria tua itu sempat tersenyum miring, "Aku belum memesan pelayanan ekstra," ungkapnya sembari mel

