Saat pintu terbuka dengan lebarnya, manik biru itu menerawang keseluruh ruangan, mencari sosok pemuda yang kini berhasil membangkitkan rasa amarah Tea. Sampai dari arah samping, saat pintu lain terbuka, Zack dengan santainya keluar dengan pakaian rapi, mungkin saja pemuda itu hendak pergi atau memang ada acara penting. Tatapan dinginya mengarah pada si gadis yang masih mengenggam erat dokumen yang ia bawa, "Valaria? Apa yang membuatmu kemari?" tanya pemuda bermanik hijau tersebut.
Tea melangkahkan kakinya, sorot tajamnya masih tertancap pada Zack. Dengan emosi memuncak ia menunjukkan dokumen yang ada di genggamannya, "Apa maksud semuanya? Bahwa kau memalsukan identitasmu?" kerutan jelas terlihat di wajah si pemuda, "Memalsukan identitas? Hei, untuk apa?" ia balik bertanya, wajahnya masih menunjukkan ketidak mengertian yang sangat jelas.
Gadis bersurai biru itu mengangkat dokumen di tangannya, "Mengapa kau tega membohongiku dan semua orang? Jelaskan siapa dirimu?!" Zack mengalihkan pandangannya dan tersenyum, "Aku? Tentu saja aku Zack yang mereka dan kau kenal, bukan begitu?"
"Cukup! Aku membencimu!" tandasnya, ia melemparkan dokumen itu di depan Zack, membalikkan tubuh dan mulai melangkah pergi. Pemuda bermanik hijau itu menunduk melihat beberapa kertas yang berceceran dan mengambil sebuah data yang tertulis namanya, "s**t!" umpatnya, segera ia mengambil itu dan, "Raltfoy?!" serunya, mendadak si gadis menghentikan langkah itu dan menoleh.
Kini giliran Zack untuk menjelaskan kekacauan kecil akibat ulah Dich yang ceroboh, ia menunjuk kertas itu dan menganggukkan kepalanya, "Jadi kau mengetahuinya," Tea menautkan kedua alisnya, "Keluarga Raltfoy, ya? Rasanya menyenangkan jika kau mengetahuinya lebih awal, aku tidak perlu lagi bersembunyi dan berbohong soal apapun." ujarnya sembari meremas kertas itu dan membuangnya ke sembarang arah.
Dua pasang manik yang berbeda warna itu saling beradu dengan pandangan tajam, Zack akhirnya mengalihkan pandangan dan tertawa kecil, "Apa yang harus aku jelaskan lagi? Jika aku mati suri atau di hidupkan lagi?" si gadis dengan pikiran yang penuh akan pertanyaan itu perlahan mendekat, "Mengapa kau harus melakukan ini padaku? Selama ini kau bagian dari mereka? Kenapa kau hanya diam saja saat aku sibuk mencari kebenaran akan kode itu? Mengapa kau tidak pernah membela tentang pendapatku?"
Zack melepaskan kancing kemeja bagian atas dan menutup mata sejenak, "Aku berbohong untuk keselamatan ku terhadap musuh, aku diam karena kau incaran ku, lalu kenapa aku tidak membela apapun soal tuduhan mu, karena aku menunggu di waktu yang tepat." ia menatap gadisnya dan membuka suara lagi, "Aku tidak ingin kau pergi setelah tahu identitas asliku, kau hanya akan menjadi milik keluarga Raltfoy." kelanjutan dari ucapan Zack membuat si gadis kembali dibuat heran.
"Apa maksud ucapanmu yang terakhir?" pertanyaan itu di balas dengan senyum, atau lebih terlihat sebuah smirk, "Tidakkah kau sadar jika selama ini aku selalu memperhatikan dan mengawasi mu? Aku selalu berusaha untuk tampil di depanmu, mendapat perhatianmu dan mendapatkanmu seutuhnya." rasa aneh menjalar ke seluruh tubuh Tea, jantung dan semua isi tubuhnya seolah melakukan peperangan sengit. Manik birunya perlahan berubah menjadi sendu, "Kau? Zack, kau ...?"
Si gadis seolah tidak mampu lagi mengucapkan apapun, Zack mengangguk mengerti apa yang akan di ucapkan Tea padanya. "Alasan lain kenapa aku menyamarkan identitas adalah, menghindari musuh besar keluarga Raltfoy yang kini berada di Atherty, memiliki kedudukan yang pantas dan memasang topengnya." terang pemuda bersurai pirang tersebut. Tea kembali mendongak, menatap manik hijau yang beberapa bulan lalu menarik perhatiannya.
"Zack, aku tahu semua sulit, tapi ..." ia melangkah mendekat, memberanikan diri lebih untuk menatap secara langsung mata hijau kelam milik Zack. Tea menggelengkan kepalanya tidak yakin, "Tapi rasanya tidak mungkin jika aku terlibat lebih dalam tentang keluargamu, Zack." pemuda itu mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang dikatakan si gadis,
"Apa maksudmu? Kau sendiri yang berusaha mengulik keluargaku, kau bahkan mencari apapun tentang mereka. Masa lalu mereka, identitas mereka, siapa dan bagaimana sifat mereka. Lalu apa?" ia menghela nafas berat dan membalikkan badannya, "Apa yang kau lihat dan baca adalah kenyataan yang sesungguhnya, jika memang hari ini aku telah menunjukkan identitasku, maka kau tidak akan pernah bisa lagi keluar dari sini." tandas Zack dengan nada yang dinging seolah tak terbantahkan.
Tea menggeleng, "Aku tidak bisa lagi berurusan dengan Raltfoy family, sulit menerimanya, kau bahkan ..." Zack membalikkan badannya menatap Tea denga tatapan menusuk, "Kesalahan terbesarmu adalah, mencari dan mengorek lebih dalam tentang Raltfoy dan Antraxs." si gadis menahan air matanya yang kapan saja bisa tumpah, ia masih berusaha menatap sosok di depannya ini dengan sekuat tenaga.
"Cukup bagiku untuk tahu tentangmu, aku tidak bisa jika harus bersamamu lebih lama dan lebih serius." tandasnya, ia membalikkan badannya, melangkahkan kakinya untuk keluar meninggalkan ruangan beraroma Lavender tersebut. Dich yang sedari tadi berada di balik pintu mendadak lebih tegang saat Tea keluar, pandangan keduanya beradu sangat cepat, Tea tidak menghiraukannya dan memilih tetap dalam pendirian untuk pergi dan meninggalkan rumah mengerikan ini.
Zack mengepalkan tangannya, ia menekan sebuah tombol yang ada di gelang kirinya, "Bawa dia padaku, tutup semua akses dan perintahkan pria itu untuk datang ke laboratorium, sekarang!" sorot dingin itu seolah mampu membekukan siapapun yang ia tatap, Zack mulai melangkah pergi, menuju ke tempat dimana dirinya yang seharusnya. Mendadak suasana terlihat tegang saat ia berpapasan langsung dengan Dich, pemuda bersurai hitam itu berusaha memberikan tatapan terbaik.
"Zack, aku memang ceroboh atas hal ini, tapi ..." ucapannya terhenti saat dengan tegasnya Zack menyela, "Siapkan alatnya, aku ingin melakukannya hari ini, dan tutup mulutmu rapat rapat." mendadak Dich terdiam dan melaksanakan perintahnya tersebut, ia segera pergi dari pada mendapatkan hal yang kejam dari pemuda bersurai pirang tersebut.
Sekarang kalian paham mengapa Zack memiliki kendali penuh atas rumah sekaligus penghuninya, tepat sekali jika tebakan kalian adalah Zack pemimpin mereka. Ya, walaupun rumah ini memang benar benar murni milik Dich Griden yang di bangun beberapa tahun setelah kematian pasangan Griden, David dan Elissa. Tentunya kematian kedua orang tua Dich sangat mirip dengan kematian orang tua Zack, di bunuh oleh para anggota Black Hold, musuh dari Antraxs.
Terkait kepindahannya dari Fudson ke Bedlam sendiri, selain demi menghindar dari para musuh, ia juga ingin mengawasi pimpinan Black Hold yang sekarang beroperasi penuh di kota Bedlam. Aku rasa hanya itu kilasan kecil tentang tokoh kesayangan kita.
Kembali lagi pada Tea yang kini hampir saja mencapai pintu utama, tapi mendadak seorang pria dengan wajah yang tegas dan dingin menggapainya dan menyeret si gadis untuk kembali ke dalam, "Please, let me go!" teriak Tea seraya meronta ronta, tanpa menunggu waktu lagi seseorang dari arah belakang memukulnya dan membopong si gadis menuju tempat yang di perintahkan.
Laboratorium luas itu di tempati oleh dua orang pemuda dan seorang pria asing yang memiliki surai pirang bercampur hitam, berkali kali senyumnya terlihat di wajah telah berkerut tersebut. Dua orang yang di tugaskan tadi membawa seorang gadis yang sudah dalam keadaan pingsan, "Malam yang indah dengan tamu istimewa," ucapnya takkala Tea di baringkan di atas hospital bed.
Zack menatap gadis itu dengan pandangan dingin, ada rasa mengganjal di dalam benak kecilnya, tapi di sisi lain hal ini harus ia lakukan demi menghindari terbongkarnya identitas mereka sebelum waktunya tiba. Seorang pria yang sedari tadi menyiapkan berbagai macam alat medis, kini menoleh dan tersenyum melihat Tea, ia menatap Zack, "Sudahkah kau siap? Aku ingin kau yang melakukannya." ujar pria itu.
Pemuda bersurai hitam bernama Dich itu maju dan mengoleskan minyak agar si gadis terbangun, beberapa detik kemudian si gadis terbangun dan menyipitkan matanya takkala cahaya lampu berada tepat di atasnya. Manik birunya menatap sekitar, perlahan penglihatannya mulai jelas, "Zack?" mendadak saat ia akan bangkit, si gadis baru sadar jika tangannya kini terikat, ia melotot tidak percaya, "Apa? Apa semua ini, Zack?!"
Ia tersenyum, pemuda itu tersenyum puas, "Semua tikusku telah mati, aku tidak memiliki alat uji coba lain, selain dirimu." ungkapnya, Tea membuka mulutnya tidak percaya dan berusaha menggerakkan tubuhnya walaupun itu semua hanya sia sia. Zack menatap Dich yang ada di sebelahnya, mengerti apa yang di maksud ia segera membawakan beberapa botol berisi beberapa obat dan racun.
"Tolong, lepaskan aku, Zack." tatapan penuh mohon itu ia tunjukkan agar pemuda itu mampu mengasihaninya, tapi rasanya itu percuma. Zack sama sekali tidak terpengaruh dengannya, "Aku tidak akan membuka identitas kalian, sungguh." ucapnya dengan penuh keyakinan saat beberapa alat terpasang di tubuhnya. Jarum jarum itu menancap hampir di seluruh tubuhnya, "Aku mohon padamu, Zack." lirihnya yang hampir pasrah.
Jarum itu tersambung dengan selang, ini persis seperti alat infus. Namun, perbedaannya adalah, alat itu terpasang hampir di setiap tubuhnya, rasa sakit ia rasakan begitu jarum itu menusuk kulitnya. Dengan sekuat tenaga ia tidak berteriak, perlahan air matanya menetes, mengalir begitu saja membasahi pipinya. Tea masih tidak bisa berpikir lagi, apakah ini akhir dari hidupnya? Mati di tangan orang yang ia cintai?
Ketika semua terpasang, Zack kembali di tempatnya semula, ia mendekatkan dirinya jauh lebih dekat pada gadis bersurai kecokelatan tersebut. Tatapan keduanya bertemu, Tea tidak lagi bisa menghentikan air matanya, "Jika membunuhku bisa membuatmu bahagia, maka lakukan, Zack." lirih si gadis, jika memang ini takdirnya, maka dengan sepenuh hati ia akan menerima, walaupun sesakit apapun itu. Zack menarik sudut bibirnya, "No, Valaria. I'm not gonna kill you," ia membelai lembut rambut cokelat itu, "Aku hanya akan membuatmu berubah."
Manik keduanya beradu, Zack masih bisa merasakan rasa takut di wajah cantik itu, sedangkan Tea bisa melihat tatapan penuh cinta yang tertutup oleh kegelapan. Pemuda bersurai pirang itu melepaskan dasi yang terikat di lehernya, ia menunduk dan mengecup singkat bibir si gadis sebelum akhirnya ia ikat menggunakan dasinya, "Aku ingin kau menikmatinya, Valaria."
Zack memberi instruksi pada Dich dan pria tua yang sedari tadi terlihat paling bahagia. Sedetik kemudian sebuah cairan mengalir dari jarum jarum itu menuju tubuh Tea, semuanya terasa sangat, sangat menyakitkan. Sumpah yang ia ucapan adalah kekuatannya selama ini, dan sumpah itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kini rasa sakit itu kian menghilang, di gantikan suara tawa berat dari si pria tua.
"Kau masih bertahan, Valaria." suara itu perlahan terdengar, suara berat dan dingin yang menjadi tujuannya di masa depan. Gadis bermanik biru itu perlahan membuka matanya, orang yang pertama ia lihat adalah si pangeran berambut pirang yang selalu menatap dingin. Tea menganggukkan kepalanya walaupun terasa sangat berat, Zack tersenyum, "Bagus, ini bagian yang paling menyakitkan, aku rasa." ucapnya sesaat sebelum rasa sakit kembali ia rasakan.
Sebuah aliran listrik mengalir ke dalam otaknya, ia bisa menebak jika itu adalah alat kejut listrik yag biasa digunakan di rumah sakit jiwa. Aliran listrik mengalir, membuat si gadis seakan jatuh, jatuh kedalam lubang hitam yang paling pekat. Pikirannya hanya berputar putar tentang masa lalu, mulai dari kematian Laudya, perlakukan buruk dari Adilson sampai ketika Tea di tindas dan di perlakukan semena-mena.
Semua memori menyedihkan itu berputar putar tidak menentu, bagaikan klise klise film yang di putar secara acak. Kemudian kegelapan melanda, beralih pada memori saat pertama kali ia bertemu dengan sosok Zack, di saat tanpa sengaja ia menatap mata indah berwarna hijau yang menyimpan banyak misteri dan kegelapan. Manik hijau yang seharusnya tidak pernah ia tatap, sebuah kesalahan yang akhirnya menyebabkan Tea terjatuh pada jebakan mematikan berkedok cinta.
Zack menatap Dich dan pria yang ada di sebelah kirinya, mereka beradu pandang. Kerutan samar terlihat di wajah pemuda bersurai pirang tersebut, ia melihat kembali keadaan gadis yang terbaring itu. Tangannya terangkat, memberikan instruksi untuk menghentikan percobaan tersebut, tatapannya masih tertuju pada gadisnya, "Aku rasa ini cukup untuk membangkitkan sosok Valaria kembali," gumam Zack, Dich yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.
"Bawa dia, lakukan penjagaan ketat dan jangan pernah terbuai oleh ucapannya." titah Zack, ia kemudian melenggang pergi di susul Dich. Kedua pemuda itu sama sama berjalan beriringan, sampai akhirnya Dich membuka suara setelah sekian lama terdiam, "Aku tidak yakin kau membuatnya kembali," ujar pemuda bersurai hitam tersebut. Zack menoleh sekilas dan terus melangkah, "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Dich mengendikkan bahunya.
Ia berpikir sejenak, "Bagaimana jika yang kita lakukan hanya akan merusak jaringan otaknya? Aku sempat takut jika hal ini terjadi, kau tahu ..." Zack dengan cepat memotong ucapan itu dengan berkata, "Aku tahu efek samping obat itu, aku yakin bisa membuatnya bertahan, walaupun belum tahu pasti berapa lama." Dich menatap heran, bisa bisanya Zack dengan mudah mengatakan hal ini tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Zack, tidakkah kau takut kehilangan dirinya lagi?" pemuda bermanik hijau itu menoleh, mengehentikan langkahnya dan, "Kenapa? Bahkan dia hanya obyek selama ini, tidak lebih, asal kau tahu itu." tandasnya sebelum akhirnya ia berlalu pergi, Dich menggeleng tidak percaya. Sungguh, seharusnya ia tidak pernah mau membantu pemuda itu untuk melakukan semua ini, menyakitkan rasanya jika tahu orang yang kita cintai sebenarnya hanya memanfaatkan saja.
***
Kicauan burung terdengar begitu indahnya di pagi yang cerah ini, membangunkan tidur panjang dari seorang gadis yang masih terbaring di tempatnya berada. Kini maniknya menatap sekitar dengan padangan berkerut, kepalanya terasa sangat sakit saat ia berusaha bangkit. Di lihatnya jam yang ada di samping tempatnya tidur, ia menyibakkan selimut tebal itu dan menjulurkan kakinya menyentuh karpet lembut.
Walau sedikit berat, ia tetap melangkahkan kakinya kearah kamar mandi. Melepas seluruh bajunya dan merasakan dinginnya air yang mengalir membasahi tubuhnya yang terasa sangat kaku dan sakit. Rasanya perih saat buliran buliran air itu menyentuh kulitnya yang pucat, ia menatap tangannya yang masih membekas suntikan. Helaan nafasnya terdengar, kini kilasan tentang semalam hanya berlalu begitu saja, benar benar sakit jika mengingat semuanya.
Semuanya seolah hilang, si gadis tidak paham lagi mengapa dan kenapa. Zack, mengapa pemuda itu bisa dengan mudahnya membuatnya tersiksa, menyalurkan listrik dan obat obatan yang bahkan tidak ia ketahui dengan pasti. Segala macam emosi ia luapkan dengan teriakan yang mengema di seluruh ruangan tersebut, "ARRGGHH...!"
Tangisnya pecah, air mata itu mengalir bersamaan dengan air dingin yang mengalir dari shower yang berada di atasnya. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang ini, berteriak sekencang mungkin hanya akan membuat suara hilang, mengamuk pun hanya sia sia, yang ada hanyalah menerima keadaannya yang sekarang. Walaupun sedikit sulit.
Beberapa menit berlalu setelah drama nya di kamar mandi. Kini dengan dress merah menyala, sepatu hak tinggi berwarna hitam, rambut cokelat yang tergerai bebas, kalung berbandul S dan sebuah riasan simpel yang terkesan menarik. Oh, jangan lupakan satu bekal permen karet yang menjadi favoritnya saat ini. Senyum manisnya menyambut pagi yang spesial ini, jangan tanyakan soal kacamata kusam yang beberapa tahun lalu menemaninya, entah sejak semalam ia tidak menemukannya, tapi bukan masalah karena dirinya sama sekali tidak membutuhkan itu.
Tangannya terulur membuka pintu besar bercorak elegan tersebut, sebuah kerutan terlihat di wajahnya yang cantik itu, ia memukul pintu itu dengan kesal, "Hei! Buka atau aku akan..." ia menjeda ucapannya dan memikirkan sejenak apa yang akan ia ucapkan, "Buka, atau aku akan menendangnya dengan paksa!" teriaknya dari balik pintu yang tertutup rapat tersebut.
Tidak adanya jawaban dari luar membuat si gadis berinisiatif untuk membuka jendela kamarnya, kembali ia dibuat kesal karena jendela itu terbuat dari besi, "s**t!" umpat gadis bermanik biru tersebut, ia akhirnya kembali mendudukkan dirinya di meja riasnya, memandang wajahnya sendiri dengan raut aneh. Tangannya perlahan terangkat untuk menyentuh wajah mulusnya tersebut, "Valaria?" gumamnya tanpa sadar, ia tersenyum.
"Aku mendapatkan tempatku lagi?" ia menatap penuh kebanggaan pada dirinya sendiri, "Valaria Quinnzel, yeah, I'm Valaria Quinnzel." ucap si gadis penuh keyakinan, ia bangkit, bersamaan dengan itu pintu terbuka dan menampilkan sosok pemuda bersurai hitam dengan setelan rapinya. Dich terlihat terkejut, tapi dengan segera ia menetralkan rasa terkejut itu dengan seulas senyum sambutan.
Dich mendekat, "Waw, aku sangat senang bisa melihatmu lagi." ungkapnya dengan wajah yang benar benar bahagia, gadis itu menoleh dan membalas senyuman yang tak kalah lebar, "Senang bisa melihatmu juga," ujar gadis bergaun merah menyala yang kini membalikkan badannya menghadap pemuda itu, "Mengapa harus mengunciku?"
Pemuda itu tertawa kecil, "Zack tidak ingin kau kabur sebelum pesta di mulai," si gadis menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian Dich kembali bersuara untuk menyampaikan maksud kedatangannya, "Mereka menunggumu, aku rasa akan ada sambutan kecil di pagi yang cerah ini." karena merasa bahagian akhirnya si gadis langsung mengiyakan ajakan tersebut.
Kini keduanya berjalan santai menuju ruang makan, lorong yang mereka lewati masih tetap sama. Gelap, dingin dan menyeramkan. Dich yang melihat penampilan berbeda dari gadis itu pun mulai menyampaikan pendapatnya, "Aku tahu kau lebih menarik jika seperti ini," ungkap si pemuda. Menoleh dan menatapnya datar, "Ya, karena masa untuk Tea telah berakhir." tandasnya
Pintu terbuka lebar, senyum itu menyambut meja makan yang di huni dua orang. Dua orang? Ah, Zack dan... seorang pria bersurai pirang dengan campuran warna hitam, sungguh, warna yang sangat unik dan menarik. Si gadis masih meneliti wajah pria itu dengan seksama, sampai akhirnya ia menyimpulkan satu hal yang pasti, "Rupanya kau masih hidup, Hans?" pria itu mendongak, menatap si gadis yang kini duduk di samping Zack.
"Aku pikir tidak akan berhasil sampai aku menemui mu kembali," ia menyantap makanannya dan kembali menatap gadis yang kini tampak berubah, benar benar berubah total. Apa yang kalian pikirkan sekarang? Sesuatu yang aneh? Atau sebuah kepribadian ganda yang selama ini tumbuh dalam diri si gadis? Jika opsi kedua yang kalian pilih, maka jawabannya adalah, benar.
Selama ini, Latea Valaria Quinnzel adalah gadis yang sangat lugu, polos, pintar, membosankan dan lemah. Namun, di balik semua itu ia sebenarnya memiliki satu sisi lain yang tidak pernah ia biarkan untuk lepas. Secara tidak langsung, ia mengunci rapat rapat kepribadian ganda tersebut, mengubur dalam dalam agar sosok itu tidak pernah muncul dan mengacaukan hidupnya.
Tapi nyatanya, usahanya selama ini gagal karena ulah Zack. Pemuda itu memang menyadari sesuatu yang ganjil dari Tea, maka dengan usahanya, Zack menjebak kelemahan Tea dan meracuninya hingga terjebak pada cintanya sendiri. Pada akhirnya semua yang ia lakukan hanya untuk melepaskan sosok Valaria Quinnzel agar kembali, agar gadis itu mengendalikan tubuh Tea dan merengut semuanya.
"Aku senang bisa mendapatkan kesempatan," ujarnya sebelum akhirnya ia ikut menyantap makanan pagi.
Rasanya jadwal yang ia lakukan hanyalah makan, menguji kemampuan kimianya dan kembali tidur. Tidak ada yang bisa ia lakukan di hari libur seperti ini, terlebih saat ini dirinya berada dalam naungan Raltfoy family, itu akan sulit baginya untuk keluar dan menikmati secangkir cokelat panas buatan Venic Rafles. Berkali kali helaan nafas terdengar di mulutnya, ia hanya duduk terdiam di taman belakang yang luas dan indah. Pandangannya masih tertuju pada kolam di depannya, tangannya sedari tadi terus menaburkan makanan untuk para hewan kecil tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hanya diam dan memandangi mu, begitu?" tanyanya pada ikan ikan yang berada di kolamnya, si gadis kemudian menatap sekitarnya, mendapati seorang pemuda bersurai pirang yang tengah menatap dirinya dari kejauhan. Tidak ingin menunda waktu, ia berjalan mendekat, "Hai, berapa lama kau di sini, sampai aku tidak menyadarinya?" Zack menatapnya sekilas.
Ia melangkahkan kakinya, "Semenjak kau menggerutu tidak jelas," ucapan sembari menatap si gadis sekilas. Tea atau yang kini berubah menjadi Valaria itu mengikuti jejak langkah si pemuda, "Aku tidak tahu harus apa, tidakkah kau berikan padaku pelatihan militer sebelum peperangan tiba?" Zack mengehentikan langkahnya, menatap manik biru milik si gadis, senyum itu tidak terlihat sama sekali.
"Pelatihan mu akan di mulai beberapa hari lagi, sekarang fokuslah pada racunnya, aku tidak ingin mendapatkan peluru biasa." ujar Zack, "Ah, ada sesuatu yang spesial untuk pimpinan Black Hold." sahut si gadis sembari tertawa kecil, ia tahu jika peluru yang dimaksud Zack adalah sebuah senjata yang nantinya ia gunakan dalam membalaskan dendamnya.
Seorang pria berjas rapi masuk, ia membisikkan sesuatu pada Zack dan menunggu respon dari pemuda itu. Zack menatap gadis dihadapannya, Valaria yang menyadari akan hal itu mendadak menundukkan pandangannya, "Hari ini istirahatlah, malam ini akan ada jadwal penting yang harus kau hadiri." ujar pemuda bersurai pirang tersebut. Valaria mendongak, "Berita apa yang akan aku dengar hari ini?"
Zack yang tadinya hendak pergi mendadak mengehentikan langkahnya tanpa menoleh, "Tawanan baru untukmu, sayang." si gadis tersenyum, ucapan dari Zack membuatnya semakin gigih untuk mendapatkan seutuhnya kendali atas pemuda itu.
***
Di sisi lain ruangan. Ruangan yang luas, meja berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang besar tampak berada di tengah tengah ruangan tersebut, beberapa kursi mengelilinginya, sisi kirinya terdapat jendela besar yang menghadap langsung pada pemandangan alam yang masih terlihat hijau dan menenangkan, lalu bagian lain hanya diisi beberapa rak dengan buku dan funitur mini yang antik, selebihnya lagi hanya di biarkan kosong.
"Kau yakin? Aku tidak ingin dia tersakiti lagi," pemuda bermanik hijau itu sama sekali tidak menoleh, pandangannya yang dingin itu masih menatap lurus ke depan, "Zack, dengar, aku telah menuruti kemauanmu, tapi jangan biarkan ambisi itu menghancurkan hatimu." Hans yang berada di sana ikut menganggukan kepalanya dengan sangat yakin.
Ia menatap keponakannya yang 6 tahun lalu ia selamatkan dari tragedi mengerikan yang menimpa keluarganya, "Aku tahu pasti efeknya, aku rasa 5 tahun cukup sampai kalian menghasilkan sesuatu yang pasti." pemuda bersurai pirang itu mendadak menoleh dengan raut yang benar benar tidak menyangka, "Kau bilang masih ada waktu sampai 10 tahun, tapi kenapa sekarang berubah?" pria tua dengan jas pajangnya itu bangkit dan menunjukkan proyektor 3D di depan kedua pemuda yang selama ini ia rawat.
"Ada sesuatu yang aneh aku temukan, dia tidak akan bisa bertahan selama itu, terlebih jika psikisnya semakin mengacaukan sistem otak." Zack memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas panjang, "Tidak masalah selama dia berhasil berubah, aku hanya berusaha memperbaiki hidupnya, bukan."
Dich mengalihkan pandangannya kearah Zack, wajahnya itu seolah meminta kejelasan atas ucapan dari Zack barusan, "Perubahan? Perubahan apa yang kau maksud? Jika yang kau inginkan adalah perubahan, kau bisa melakukan hal lain, semacam mengacaukan sistem otaknya ataupun mempengaruhinya, Zack." mendengar itu membuat dirinya semakin kacau, "Sadarkah kau jika dia mengambil jurusan psikolog? Sulit untukku melakukan hal ini, bukan dia yang kacau, tapi aku."
Zack bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan dua orang itu, Dich menatapnya kesal dan mengumam, "Kau selemah itu dihadapannya?" ia menatap Hans, keduanya tampaknya memiliki satu kesimpulan yang sama tentang apa yang di rasakan Zack sekarang ini, "Dia sebenarnya manipulatif, ucapan dan tingkahnya bertolak belakang." imbuh Hans.
Pemuda bermanik abu itu tersenyum miring, "Psycho?"
VZ- seri pertama