Malaikat Hitam; 20

1517 Kata
Di sebuah tempat yang nyaman dan tenan, dua orang tengah terdiam tanpa adanya pembicaraan sama sekali semenjak beberapa menit yang lalu. Dua cangkir manuman hangat tersedia di atas meja lengkap dengan sepotong cake di masing masing orang. Sedangkan dari kaca jendela kita bisa melihat pemandangan kota dengan penduduk yang memiliki kesibukan masing masing. "Ah, ya— ini cukup mengesankan, maksudku pertemuan ini sebagai bentuk permintaan maafku," Anantha memecah keheningan dengan berucap demikian, Valaria pun mendongak, menatap temannya itu dengan pandangan datar.  Menghela nafas dan mulai menyeruput minumannya, "Ya, tidak sepenuhnya salahmu, bukan." ujar si gadis bersurai cokelat tersebut dengan suara lirihnya, ia meletakkan kembali cangkir elegan itu dan melipat kedua tangannya di atas meja. Anantha yang merasa perlu perbaikan pun memajukan tubuhnya.  "Kau benar benar mencintainya, aku tahu. Aku juga merasakan hal yang sama, mencintai seorang pemuda yang terlibat semacam ini," ungkap gadis bersurai hitam itu, ditolehkan kepalanya ke sekitar, menatap beberapa orang yang tengah berseda gurau di meja seberang mereka. "Apa kau akrab dengan pria itu?" tanya Anantha sembari menatap lekat mata biru dihadapannya, "Pria? Maksudmu Hans Raltfoy?" tanya Valaria mencoba memastikan. Anantha menganggukkan kepalanya. Valaria hanya mengendikkan bahunya, "Dia baik, dan sekarang aku percaya dengan pepatah jangan menilai seseorang dari sampulnya," dari ucapan Valaria tersebut berhasil membuat Anantha sedikit terkejut, "Hei, tapi dia dibalik peristiwa Death day." ungkap gadis itu dengan pandangan tidak percaya, gadis di depannya hanya tersenyum tipis. "Ada alasan mengapa ia melakukan hal itu, Anantha. Dan alasan itulah yang berhasil membuatku merasa satu pemikiran dengannya," jelas gadis bermanik biru, tangan kananya terulur mengambil sepotong cake di sampingnya menggunakan garpu, kemudian melahapnya. Anantha menatapnya dengan serius, "Jangan membuatku menebak jika kau ingin sepertinya, Valaria." Tawanya terdengar, ia mengalihkan pandangannya sekilas dan kembali menatap lawan bicaranya, "Tidak ..." ungkapnya, "Mungkin," lanjut Valaria dengan gumaman lirih. Sesampainya dirumah, si gadis dengan rambut panjang tergerai tersebut langsung saja membaringkan tubuhnya yang lelah itu ke kasur besar miliknya. Entah bagaimana, Valaria merasa nyaman dan aman di sini. Tidak seperti rumah warisan yang diberikan keluarga Sezer padanya, panas dan mengerikan. Tentu saja mengerikan, pemiliknya saja seorang Heven Sezer, pria miliader dengan gaya bagaikan bangsawan. Ya, yang Valaria tahu, keluarga itu memang memiliki peraturan seperti di istana, bahkan cara hidup mereka pula. Melupakan hal itu, Valaria memilih untuk menyegarkan dirinya, berendam akan menghilangkan berbagai macam pikiran negatif, bukan. Namun, langkanya terhenti saat manik biru itu melihat sebuah kotak berwarna ungu di atas meja rias, diselimuti rasa penasaran ia segera mengambil benda tersebut. "Milik siapa?" tanyanya pada diri sendiri. Saat kotak itu terbuka terdapat sebuah kalung dengan desain sederhana, bandul kalung tersebut berbentuk bulan dengan warna ungu yang menghiasi. Ditatapnya dengan teliti kalung tersebut, sungguh menawan. Valaria pun mengambil kembali kotak tersebut dan menemukan sebuah kertas bersimbol Z. "Zack, seharusnya kau tidak pernah melakukan ini," gumam Valaria, sorot tajam itu mengarah pada kalung di tangannya. Dengan segera ia mengembalikan kalung tersebut dan menyimpannya di dalam lemari. Kemudian si gadis lebih memilih untuk segera menuju ke kamar mandi guna membersihkan dirinya dan mungkin ia baru akan menemui si pemberi kalung tersebut. *** Disisi lain.... Terdengar suara teriakan yang amat menyayat hati, teriakan kesakitan itu berasal dari sebuah ruangan gelap yang berada di ujung gedung tua dengan model menyeramkan dan sepi. "Bagaimana?" pertanyaan daari seorang pemuda bermanik hijau itu membuat salah seorang penjaga di sana membuka suara, "Pemuda itu tampak menderita, Tuan." ujarnya. "Lakukan apapun sesukamu, asal jangan bunuh dia," perintah pria tua yang berada di samping Zack. Hans masuk ke dalam ruangan gelap yang diselimuti jeruji besi, di tangan kanannya mengenggam erat jarum suntik lengkap dengan satu botol obat, ia menghampiri seorang pemuda yang sedari tadi berteriak dengan suara memilukan, "Siapa namamu? Ah ... kau masih sedarah dengan keluarga Miller, bukan?" Pemuda dengan keadaan mengenaskan itu mendongak, "Miller?" "Ya, Miller, yang telah membunuh seluruh keluarga Raltfoy," ujar Hans seraya duduk di sebuah bangku yang ada di sana, "Miller sialan itu adalah anak buah dari Black Hold, mereka yang telah membantai habis keluarga yang seharusnya kini masih melebarkan sayap kesuksesannya." tutur Hans seraya mengenang masa buruknya. Pemuda itu masih menatap dengan raut bingung, ia menundukkan kepalanya sejenak, mencoba mengingat kembali keluarga yang di maksud oleh pria bernama Hans ini, "Raltfoy, aku pernah mendengar nama itu, tapi keluargaku tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini," ujar si pemuda malang.  Hans memajukkan tubuhnya, tangannya itu menunjuk sesesorang di luar ruangan yang sedari tadi menatap mereka, "Ingat siapa dia? Kleyfan, kau mengenalnya dengan nama itu, bukan. Sekarang dengar baik baik jika pemuda yang satu angkatan denganmu itu adalah putra tunggal dari keluarga Raltfoy." jelas pria dengan surai pirang acaknya, "Coba ingat ingat kembali putra tunggal itu," "Aku tidak memiliki kesalahan, kau paham. Aku pun tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian di masa lalu, bahkan aku hanya anak kecil polos yang sama seperti dirinya, bermain dan ..." Ucapannya berhenti, Hans masih menunggu kalimat terakhirnya, "Dan apa? Apa kalian sama? Dia kehilangan kedua orang tuanya, bahkan seluruh anggota keluarganya di saat usia 12 tahun," manik hijau itu mengalihkan pandangan, "Apa yang kau lakukan di usia itu? Bermain, tapi tidak dengan dia, dia harus menangis sepanjang malam dan berlatih untuk membalaskan dendam." Hans menghela nafas panjang dan bangkit, sekilas ia menatap pemuda di depannya ini, "Sampai sini kau paham?" tanyanya dengan senyum miring yang terkesan mengerikan, jarum yang ia bawa itu kini telah siap, "Waktunya pemberian vitamin, baik?" Hans berjalan keluar dan memberikan jarum suntik yang sedari tadi ia bawa kepada salah seorang bawahannya. "Aku ingin dia melihat anggota baru kita, jadi biarkan ia tertidur dengan pulas malam ini." perintah itu di angguki oleh kedua orang penjaga di luar, sebelum pergi Hans memberikan senyumnya kembali dan segera berjalan menjauh. *** Di kamar besar yang bernuansa elegan, seorang gadis tengah sibuk dengan apa yang ia pegang di tangannya. Sebuah dokumen dengan sampul warna biru itu menjadi satu satunya hal yang sedari tadi membuatnya bimbang, "s**t!" Valaria melemparkan dokumen itu ke kasur dan memilih duduk di sofa seberang sana dengan perasaan yang sulit diartikan. "Hei, hei" "Hei, kalian." panggil Tea lagi pada penjaga pintu kamarnya, tapi pria pria ini sama sekali tak mendengarkan panggilnya "Astaga, mereka ini." gerutu Tea, gadis itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya. "HEI!" teriak Tea sedikit kesal, dan benar mereka semua menoleh dengan wajah sedikit kaget, "Ya, Ms. Valaria? Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pria "Huh, aku ingin bertanya, apakah tuan ada dirumah?" "Tuan Zack sedang pergi, Nona." balas penjaga itu, "Dengan siapa? Dan kemana?" "Bersama tuan Dich dan tuan Hans, mereka pergi ke markas V20X untuk rapat." "Baiklah, terimakasih." ucap Tea, kemudian ia menutup pintu kamarnya dengan sedikit kesal. "Kenapa mereka tak mengajakku?!" "Ah, lupakan! Aku akan membaca saja dari pada harus ikut bersama mereka." tandas Tea. Gadis itu duduk dipinggir jendela besar yang ada di kamarnya dan mulai membuka selembar demi selembar. "Tunggu, ini masa lalu Zack?" heran Tea, "Kata Anantha keluarga Zack meninggal karena kecelakaan tapi disini tertulis bahwa keluarganya dibunuh, jadi?" Tea juga menemukan sebuah foto yang sebelumnya pernah ia temui. Ya, foto keluarga Raltfoy, tapi kenapa bisa ada disini? Saat Tea membalikkan foto tersebut, ada sebuah inisial dan hal ini membuat gadis bermanik biru itu mengernyitkan keningnya. "Z.A.R? Zalira Ayhera Raltfoy? Mungkin?" Suara mobil dari arah bawah membuat Tea tersadar dari pikirannya, ia melihat kebawah dan ternyata itu mereka. Zack dan Dich terlihat keluar dari mobil Lamborghini mewah berwarna hitam, mereka berjalan dengan dengan santainya masuk kedalam mansion. Mobil kedua datang, mobil dengan warna kuning itu terparkir rapi dan keluarlah seorang pria yang terlihat membawa jarum suntik ditangannya. "Si tua menyebalkan itu!" gumam Tea dengan tatapan tajam. Tea bangkit dan berjalan keluar, ia akan menemui Zack untuk meminta penjelasan tentang semua yang belum Tea ketahui. "Anda mau kemana, Nona?" tanya si pria penjaga pintu, "Kenapa kau selalu ingin tahu?" pria itu hanya tediam tak menjawab. Astaga! Tea lupa, mana mungkin ia bisa menemukan Zack. Ia sendiri tidak terlalu hafal dengan rumah labirin ini. Sekarang entah harus kemana gadis itu akan pergi. "Valaria!" panggil seseorang. "Zack— oh ternyata kau." pria tua itu tersenyum lebar dan mendekatkan jarum suntik yang ia bawa ke dekat wajah Tea, ia sedikit menghindar dan menatap tajam pria itu, "Apa yang kau lakukan?" "Kau mencari si pangeran pirang?" tanya Hans, "Dimana dia?" "Kembalilah ke kamarmu, dia akan menuju kesana nanti." ucap pria itu. "Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu? Tidak!" Tea hendak berjalan namun terhenti karena ucapan Hans. "Ucapanku selalu benar, Valaria Quinnzel." gadis itu menoleh "Karena aku punya ini" lanjut pria itu sembari menunjuk kan sebuah benda kecil, "Untukmu, Valaria Quinnzel" Tea menghampiri Hans dan mengambil benda kecil tersebut, "Ini?" "Ya, itu adalah sebuah denah dari Griden Mansion dan kau bisa melihat semua orang yang berjalan didalam mansion ini." Tea menekan tombolnya dan tampak layar 3D yang mengambang di hadapannya. Ini adalah teknologi canggih yang pernah Tea temui. "Diciptakan oleh Hans Raltfoy, teknologi 3D yang super canggih dan simpel. Benar bukan?" gadis itu terdiam sejenak dan mengangguk setuju. "Silakan, kau pergi saja ke kamarmu." "Baiklah" Beberapa menit Tea sampai di kamarnya, mungkin kalau tidak dengan bantuan alat ini ia akan menghabiskan waktu berjam jam untuk mencari kamarnya. *** VZ- seri pertama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN