Eps 01. Jennifer

980 Kata
Namanya Jenifer, sering dipanggil dengan nama singkat Je. Gadis unik, selalu menjadi pusat perhatian akibat ulahnya yang suka nyeleneh. Detik ini, ia berharap bisa memutar kepala Odi dari depan ke belakang dan memelintirnya sampai lepas setelah itu menjadikannya orang-orangan sawah untuk menakut-nakuti burung. Gara-gara Odi yang salah memberinya informasi lokasi pesta yang seharusnya tidak ia hadiri, Je harus berakhir di sebuah kamar bersama Justin dengan punggung menyandar di dinding dan tiga centi di depan wajahnya terhunus sebilah pisau tajam. Je harus berhati-hati, pisau kecil yang kelap-kelip akibat memantulkan cahaya lampu itu bisa saja melukainya jika ia salah gerak. Justin Arwana, pemuda tampan pemilik wajah khas Jerman, rahang okoh dengan bibir bergaris tajam, alis tebal menggambarkan ketangguhannya sebagai pemuda berarogansi tinggi. Dia adalah seorang mahasiswa berusia 20 tahun, pecandu narkoba, preman, pernah menusuk orang saat berkelahi, dan terakhir menabrak mobil polisi dan bahkan menghajar polisi saat akan ditilang. Je mengingat dengan jelas hot news yang menjadi tranding topik di televisi, membuat Justin beberapa kali muncul di layar kaca akibat ulahnya itu. semua hal buruk ada padanya. Well, beberapa bagian judul headline news di surat kabar yang memuat nama Justin membuat Je lumayan ngeri, takut nyawanya berujung di tangan lelaki yang menurutnya berdarah dingin itu. By the way, Je bisa saja menendang aset termahal di pangkal paha Justin lalu melarikan diri, tapi sayangnya kakinya terkunci oleh kedua kaki Justin yang menginjak kaki kiri dan kanan Je setelah percobaan melarikan diri yang pertama gagal. Kedua tangan Je berada di atas kepalanya dalam genggaman erat tangan kokoh Justin. “Yaa siiin... Wal qur’aanil hakiim. Innaka laminal mursaliin. Alaa shiroothim mustaqiim. Tan...” “Hoi... Kamu pikir aku setan? Dibacain surat Yasin,” desis Justin. “Iya, aku lagi ngusir jin yang siapa tau nempel di jidatmu.” “Diam!” “Maaf. Kamu bawaannya marah terus, sih. Kalau kata guru agamaku, biasanya kemasukan setan itu.” “Masih mau ngomong? Aku yang seharusnya bicara, bukan kamu!” Cengkraman jari-jari Justin semakin erat hingga membuat Je meringis kesakitan. Mampus! Sekarang Je hanya tinggal menunggu eksekusi dari Justin. Setelah ini mungkin Justin akan memutilasi tubuhnya dan memberikan setiap potongan tubuhnya ke anjing peliharaannya. “Huuufth...” Je melepas napas supaya rasa takutnya hilang. Bukannya jadi lega, tapi malah semakin serem karena tatapan maut Justin semakin horor. Pasalnya, napas yang ia lepas tadi, anginnya menyembur kuat dan mengenai wajah Justin. “s**t! Kamu cewek apa kadal? Nyiprat semua ini.” Justin mengusap wajahnya. Aman. Je agak lega melihat pisau di tangan Justin dilempar ke lantai sesaat sebelum lelaki itu mengusap wajah. “Maaf kalau nyiprat, Pak.” “Apa? Bapak?” hardik Justin kemudian menyentuh dagu Je dan mengangkatnya. “Apa aku keliatan tua? Aku seorang mahasiswa.” “Oh iya, Om.” “Om? Gila kamu. Aku nggak pernah nikah sama tantemu.” Salah lagi. Je tersedak. Lalu ia harus pangil apa? Adek? Mas bro? Hanny? Sumpah, aneh. “Justin. Cukup itu saja. Jangan dikasih Pak ataupun Om.” Je merasa sangat lega saat Justin melepaskan cengkramannya. Tapi detik berikutnya jantungnya mencapai level kecepatan tertinggi ketika dengan beraninya Justin memegang bahu kanannya. Secara otomatis d**a kanannya juga turut tersentuh meski hanya sedikit saja. Dengan penuh konsentrasi, Justin menatap apa yang ia pegang dan bibirnya membentuk senyum mencurigakan membayangkan imajinasi liarnya. Spontan tangan Je menampik lengan Justin dan menyingkirkannya dari area paling menarik di tubuhnya. “Jangan perkosa aku! Aku masih virgin.” Je menyilangkan tangan di d**a membuat benteng perlindungan seakan-akan ia sedang dalam marabahaya. Sudut bibir Justin berkedut ketika tatapan matanya menemukan leher Je. Ia mulai merasa tertarik. “Hell! What happen?” Je merinding melihat Justin maju mengambil ruang gerak diantara mereka hingga terkikis. Je mendorong d**a Justin kuat-kuat hingga tubuh Justin terhuyung mundur. Tak mau kalah, Justin meraih belakang leher Je dan menghempaskannya ke bawah hingga tubuh kecil Je tersungkur di lantai. “Kamu harus membayar semua ini dengan mahal.” Je memelototkan matanya melihat Justin melepas ikat pinggangnya. “Kamu mau ngapain?” Pertanyaan konyol. Masih saja Je bertanya apa yang akan dilakukan lelaki ganas itu. tidak mungkin Justin akan pipis. Je semakin yakin kalau Justin akan melakukan hal gila ketika lelaki itu menurunkan resleting celananya. Keringat dingin di sekujur tubuh Je mengucur bebas. Berbagai doa dan rapalan surah dibacanya supaya terlindung dari godaan syetan yang terkutuk. Mati dibunuh itu sudah biasa dan bahkan mungkin menimbulkan iba di hati para pendengarnya. Tapi kalau mati di hotel setelah diperkosa, itu sangat mengenaskan. Orang-orang tidak akan ada yang percaya jika itu pemerkosaan, akan banyak rumor buruk yang beredar bahwa si mayat mati setelah berhubungan dengan orang tak dikenal. Buruk sekali bukan? Je berlari ke arah pintu dan mengguncang knop berkali-kali. Sayangnya Justin tidak bodoh, pintu dikunci. Kuncinya sudah dibuang oleh Justin lewat jendela dan jatuh ke halaman lantai bawah. Je menoleh dan melihat senyum kemenangan di wajah Justin. Fix, Je tidak bisa kabur. Dan ia memilih berlari ke sudut kamar demi menjauhi Justin. Sialnya, ia tidak bisa kabur lebih jauh, hanya seputaran kamar saja. Justin berjalan mendekati Je sembari membuka seluruh kancing kemejanya. Bulu halus di d**a bidang Justin terpampang nyata, membuat Je ingin menjerit sekuat-kuatnya membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia hanya melotot mengawasi setiap langkah Justin yang maju ke arahnya. Tangannya sekarang ada di belakang, sudah memegang gagang lampu nakas. Justin benar-benar berniat mengikis habis jarak diantara mereka. Hingga sudah semeter pun, lelaki itu masih terus maju. Akhirnya Je memilih berbuat nekat. Plak! Justin terkapar di lantai setelah ujung gagang lampu nakas mendarat manis di kepalanya. Je masih memegangi lampu nakas dan mengawasi Justin. Ketika akhirnya Justin sudah benar-benar lemas dan tidak ada tanda-tanda akan sadar, Je menurunkan lampu nakas sembari menendang kaki Justin untuk memastikan. Dan benar, Justin tidak bergerak. Je mendengus. Yang pertama akan ia mintai pertanggung jawaban atas tragedi menegangkan itu adalah Melodi alias Odi. Itu kalau dia berhasil kabur.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN