Bian hendak tidur dan sudah lelah di ajak Deza berjalan tadi.
"Krek."Pintu kamar terbuka dan Deza masuk membawa segelas s**u hangat.
Bian langsung duduk dengan piyama bewarna pink yang di pakainya.
"Nih,minum.Udah aku buatin pakai cinta."Canda Deza.
"Om sama tante nggak tahu kamu kesini?"Bian takut saja kepergok.
"Mama sama papa udah masuk kamar kali,ini udah setengah 12 malam."
Bian mengambil s**u itu dan meminumnya.
"Glek..glk..glek."Tegukan demi tegukan meluncur di tenggorokan Bian.
"Udah."Bian sudah menghabiskan susunya dengan tepian bibir yang belepotan.
Deza lalu mengambil gelas dari tangan Bian.
"Aku bersihin ya."Permisi Deza.
Bian bingung dengan maksudnya.
Deza lalu menggunakan ibu jarinya dan menyapu tepian bibir Bian.
"Deg!Deg!Deg!"Bian makin berdebar.
Deza hanya tersenyum tipis.
'Gawat!Ini gejala jatuh cinta benaran!'Bian merasakan denyutan aneh di dadanya.
Setelah Deza pergi,Bian tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan Deza terus.
***
Hari ini Bian pergi dulu ke sekolah dan tidak sarapan untuk menghindari Deza.Ia terlalu malu untuk bertemu Deza karena merasa perasaannya mulai goyah.
"PUK."Bian menepuk wajah dengan kedua tangannya ke pipinya."Nggak boleh Bian!Nggak boleh!Dalam tenggat seminggu rasa itu harus hilang dan kamu harus nolak dia!"Bian bicara sendiri sambil berjalan.
Bian pergi ke sekolah saat sekolah masih sangat sepi.Bian masuk kekelas yang belum ada seorang muridpun.Ia lalu tidur dengan kepala berbantal meja.
Bian terbangun saat sekolah sudah ramai dan Deza dengan seragam putih abu abu sudah disampingnya.
Bian langsung duduk tegap.
"Pules tidurnya?"Tanya Deza santai.
Bian menyapu dulu air liurnya yang menyecer kesana sini.Juga merapihkan rambutnya.
Bian hanya diam dan tidak menjawab.Deza juga santai dan tidak bertanya lagi.
Hari ini pelajaran olahraga.
Deza sedang bermain basket di lapangan dengan histeria gadis gadis yang mendukungnya.
Bian juga jadi salah satunya karena para gadis lebih gemar jadi pemandu sorak ketimbang ikut berolahraga.Lebih lebih guru olahraganya menghilang entah kemana.
'Sorakin aja sampai suara kalian habis,toh Deza nggak bakalan dengar dan peduli.'Bian jadi kesal melihat para gadis yang kecentilan memamggil Deza terus menerus.
Tanpa sadar,sebuah bola melayang ke arahnya dan "PRAKKKK."Wajah Bian terhantam bola basket hingga ia terjatuh dan terduduk di lapangan basket itu.
Deza yang tadinya serius bermain lalu berlari menghampiri Bian.
"Kamu nggak apa apa?"Deza sangat khawatir sampai tidak memedulikan tatapan orang lain.
Bian ingin mencoba tersenyum tapi rasa sakit dan malunya sangat menimbun.
"Grab."Deza lalu menggendong Bian yang tengah terduduk.
Bian sontak kaget dan tidak menyangka,Deza menepis tanggapan dan tatapan orang orang.Ia hanya fokus ingin membawa Bian ke Uks.
Sesampainya di UKS,Deza mulai membersihkan wajah Bian dengan kapas."Makanya,muka jangan kayak ring basket.Jadi di incar bola deh."Olok Deza ringan.
"Bolanya aja yang ganjen mau nyolek aku."Balas Bian santai.
Saat sedang santai membersihkan wajah Bian,mata Bian dan Deza malah saling beradu.
Keduanya saling menatap dengan mata yang enggan berpaling.
'Deza ganteng banget,kulitnya mulus dan putih.Matanya juga indah banget,aku baru tahu kalau mata Deza itu warnanya coklat.Hidungnya juga mancung deh,nggak ada yang salah sedikitpun saat Tuhan ngebentuk Deza.Kayak otaknya yang Alpa plus banget,wajahnya juga plus banget gantengnya.'Bian tanpa sadar memuji Deza.Ia juga menatap bibir Deza yang sudah beberapa kali menciumnya.Seketika air liurnya memuncah ingin keluar memandang bibir Deza yang lezat.
"Fiuhhhh."Deza lalu meniup wajah Bian."Masih 6 hari lagi waktu kamu buat kasi jawaban,nggak asik lah kalau kamu udah klepek klepek sekarang."Canda Deza.
Bian langsung sadar.'Eror kamu Bian!!!'Bian serasa menampar wajahnya sendiri karena sudah berlaku memalukan.
"Hahaha."Deza lalu terkekeh tertawa melihat Bian yang membuat ekspresi aneh.
Melihat tawa Deza,Bian lalu haus dan meraih air di atas meja di samping tempat tidur itu.
"Tunggu."Deza lalu berhenti tertawa dan menghentikan Bian minum.
Bian menurunkan gelas dengan mulut masih penuh air minum yang belum di teguk dan menggumpal di mulut.
"Aku juga mau minum dari kamu langsung."Terang Deza yang masih membuat Bian bertanda tanya dan bingung.
Sampai akhirnya pertanyaan itu terjawab.
"SLAP."Deza lalu mencium Bian dan membuka celah bibir Bian.Air yang masih ada di mulut Bian lalu di teguknya sampai habis dan membuat Bian terkaku lagi.
Deza meminum air dari mulut Bian tanpa membuat setetespun jatuh.
"Segar baget."Deza nampak bahagia saat dahaganya sudah hilang lewat mulut Bian tadi.
Bian masih tegang dan tidak percaya dengan apa yang Deza lakukan.Apalagi Deza yang selalu menatapnya dengan tatapan cinta dan penuh sayang itu.'Kenapa aku rasanya nggak akan sanggup nolak kamu Deza?Aku takut kamu nggak mandang aku kayak gini lagi.Aku juga takut nggak berarti apa apa lagi buat kamu.Tapi kalau di lanjutin,ini nggak benar banget.Aku harap 6 hari ini waktu berjalan lambat.'Bian sudah semakin goyah walau ingin kuat.
***
Sepulang sekolah,Bian mandi siang karena siang itu sangat panas dan membuatnya gerah.Bahkan AC yang ada di kamar sudah tidak berpengaruh lagi.
Selesai mandi,Bian hanya mengenakan handuk keluar kamar.
"ASTAGA!"Bian kaget,saat keluar dari wc kamarnya,Deza sudah menantinya dan duduk di ranjang kasur.
Deza melihat area atasan d**a Bian yang tidak tertutup handuk dan betis Bian yang juga tidak tertutup.
Pandangan Deza membuat Bian risih."Deza,kamu ngapain kesini!Keluar sana!Aku mau ganti baju."Rengek Bian.
Deza lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah Bian.
'Dia mau ngapain lagi ini!'Bian tegang dan memegang simpulan handuknya dengan kuat.
Deza lalu mengarah ke telinga Bian dan berbisik."Makin lihat kamu begini aku makin pengen banget.Aku terus mikirin kamu dengan mimpi yang orang dewasa lakuin.Aku pengen banget mandi bareng kamu,bantu pakaiin baju kamu dan satu kamar berdua sama kamu.Aku nggak sabar nunggu jawaban kamu."
Bisikan Deza langsung membuat tensi darah Bian naik.Telinga Bian seperti keluar asap saking panasnya mendengar bisikan Deza.
"Deza,kamu yang dokter saraf duluan atau aku yang harus ke psikiater duluan.Kayaknya kita perlu minta resep obat deh."Bian memberi saran sewaras mungkin walau ia juga tidak yakin ia masih bisa waras atau tidak.
Deza melihat Bian dengan tatapan marah."Kamu pikir aku jatuh cinta karena aku gila?"
Bian lalu panik karena mengira omongannya sudah kelewatan."Nggak,maksud aku bukannya gitu."Bian lalu serba salah.
"Kayaknya emang dari dulu aku udah gila deh gara gara kamu,kamu baru nyadar?"Balas Deza serius.
"Hah?"Bian terbengong sendiri jadinya.
"Udah,cepat pakai baju kamu atau aku bakalan lebih lupa diri."Deza yang nampak santai sebenarnya terganggu dengan penampilan Bian.
"Ya udah,kamu keluar sana!Masa ia aku ganti didepan kamu."Bian lalu pura pura galak dan mengusir Deza keluar.
Deza tersenyum dan keluar dengan santai.
***
"Tok..Tok…Tok.."Pagi pagi pintu kamar Deza sudah di ketuk.Bian di minta orang tua Deza untuk memanggil Deza untuk sarapan.
"Krek."Deza membukakan pintu.
Bian langsung melek lebar,Deza sedang baru hendak mengancing baju dan menampakkan tubuh atasnya.
"Glek."Bian menelah ludah.
"Slap."Deza menarik tangan Bian dan mengajaknya masuk kedalam.
"Mama kamu suruh sarapan."Ujar Bian bahkan sebelum di tanya.
Deza tahu jika Bian salah tingkah melihat tubuh atasnya."Kancingin baju aku dong."
"Mulai deh kamu mau jahilin aku."Bian ketus menjawab Deza.
"Ya udah,kalau kamu nggak mau lakuin perintah aku.Aku bisa buat kita lebih lama lagi di kamar ini."Ancam Deza sambil menaikkan alisnya.
Mau tidak mau Bian menyerah dan mengancingkan dengan cepat baju Deza.
"Cup."Deza mengambil kesempatan dengan mengecup dahi Bian.
Bian memajukan mulut seperti bebek."Huh!"Bian lalu keluar dari kamar sepupu agresifnya itu.