Ceril tersenyum mengingat pertemuannya dengan Naka kemarin sore. Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya. Namun, ia juga merasa sedih jika mengingat lelaki itu akan berbeda benua dengannya. Terlepas dari itu semua, sepertinya Ceril sudah dapat menerima orang baru di hidupnya, meski hanya berstatus teman. Tanpa mengindahkan larangan-larangan dari Ibu dan Kakaknya yang kadangkala berlaku tak mengenakan. "CERIL, KEMARI KAMU!" teriakan Jeni dari luar sana membalikkan kesadaran Ceril. Tanpa menjawab, Ceril segera beranjak menuju tempat Ibunya berada. "Kenapa, Bu?" tanya Ceril. Jeni mengacungkan telunjuknya di depan wajah Ceril, membuat gadis itu reflek mundur beberapa langkah, hingga tubuhnya terbentur dengan pajangan dinding. "Kenapa, Bu?" tanya Ceril takut-takut. "Adikmu membuat m

