Kini saatnya mengabaikan. Hatiku tak siap untuk kembali terluka.
.
.
.
.
.
----
Usai pelajaran Kimia selesai, Ceril tak langsung keluar menuju kantin seperti teman-temannya. Moodnya masih berantakan pasal kejadian di toilet tadi.
Lusi yang menyadari perubahan sikap sahabatnya, sontak mengangkat kursinya ke hadapan Ceril. Berhubung bangku mereka tidak bersatu alias terbagi menjadi satu-satu.
Lusi meniup poninya, bingung mau bertanya atau tidak. Takutnya Ceril tidak ingin diganggu.
Karena rasa penasaran dan kekhawatirannya lebih mendominasi, maka Lusi memutuskan untuk kepo.
"Gue gak bakal nanya lo kenapa, karena gue tau lo lagi kenapa-napa," ujar Lusi tanpa basa-basi. "So, cerita sama gue dong, Cer!"
Ceril menggeleng lemah. Ia ingin menampik, namun dengan cepat Lusi menyela.
"Gak usah sok terlihat baik-baik aja, gue hapal sifat lo," ujar Lusi mengomeli sahabatnya. "Lo itu hobi banget memendam perasaan, Cer! Kalau ada apa-apa selalu lo pendam, seolah kalau cerita sama orang lo bakal kena tagihan. Kalau ditanya jawabnya gak apa-apa terus, kayak cewek yang minta ditampol. Lo itu juga manusia, bukan robot. Lo punya perasaan!" Gadis berponi itu terus mencerocos hingga air liurnya menyembur kemana-mana, pasalnya ia sedang mengulum permen.
Ceril dengan sabar menyimak sambil sesekali mengelap wajahnya dengan tisu.
Lusi berhenti mencerocos, ia menatap Ceril dengan tatapan dongkol. "Kenapa diem? Gue bener, kan? Lo itu pembohong rasa yang hebat, tau gak! Tapi, lo kurang pinter nyembunyiin perasaan lo, apa lagi ke gue."
Ceril tercenung mendengarnya. Ucapan Lusi tak sepenuhnya salah. Ceril merasa selama ini ia memang berlaku sebagai pembohong rasa, terutama di rumah.
"Udah?" tanya Ceril.
Lusi meneguk habis air yang ia dapat dari bangku sebelah, entah punya siapa.
Lusi mengelap mulutnya lalu mengangguk. "Gue udah cocok jadi motivator gak? Kayak Mario Teguh," tanya Lusi dengan senyum mengembang. "Lusi Teguh, keren, kan?" tanyanya lagi bersemangat.
Ceril mengembuskan napas lelah. "Lo itu rempongnya keterlaluan, Lus. Bukannya memotivasi, yang ada malah memprovokasi." Ceril tersenyum geli melihat wajah sebal sahabatnya.
"Ah, ga seru!" ketus Lusi sambil menarik buku yang baru saja Ceril keluarkan dari tasnya. Karena perlakuannya itu pula Lusi mendapat satu jitakan di tangannya.
"Jangan sentuh diary gue!" Ceril mengingatkan. Baginya mau sedekat apa pun ia dengan seseorang, yang namanya privasi, tetaplah privasi.
Lusi mencebikkan bibir. "Dari tadi gue salah mulu perasaan."
Ceril melirik Lusi dengan tatapan geli sebelum fokus ke buku kecil yang sedang ia pegang.
Kita hanya satuan kata yang mustahil terjabarkan menjadi aku dan kamu.
Kita hanya sejoli yang kebetulan berkenalan meski harus berakhir asing.
Kita tak lebih dari fatamorgana.
Ya, fatamorgana.
Ceril tersenyum membaca coretan itu di buku diarynya. Tepatnya tersenyum miris.
Entah kenapa di saat hatinya sedang gundah, menulis adalah pilihan pertama yang akan ia lakukan. Baginya menulis adalah cara paling ampuh menuntaskan sesak di d**a.
Menulis di buku, Ceril tak perlu takut tersudutkan, ditolak, ditentang, dan dihakimi. Dirinya merasa hidup dalam tulisan.
Ceril tersadar dari lamunanya saat mendengar ketukan di mejanya.
"Melamun aja terus sampai mampus," omel Lusi, kesal karena dicueki.
Ceril memasukkan diarynya ke dalam tas, lalu melipat tangannya di atas meja dan menjadikannya bantal.
"Gue lagi males ngomong, Lus." Ceril berkata jujur, mood-nya masih belum membaik.
Lusi mengangguk maklum. Karena ini bukan pertama kalinya Ceril berlaku seperti itu.
"Tadi ada anak IPS II, kelas XII nanyain lo tuh, namanya Arsen kalau gak salah," kata Lusi sambil mengangkat kursinya kembali ke tempat semula.
Ceril sontak saja menegakkan tubuhnya dan menatap Lusi dengan tatapan serius. "Serius lo?"
Lusi mengerjapkan matanya berkali-kali melihat perubahan Ceril. "Lo udah gak badmood?"
Ceril menggeleng. "Tuh orang ngomong apa aja?"
"Dia cuman nanya, Ceril sekelas, ya, sama lo?" ujar Lusi sambil mempraktekkan cara Arsen berbicara. "Lo kenal dia, ya? Jangan-jangan dia yang buat lo badmood?" tebak Lusi tetap sasaran.
"Dia sahabat Karel."
"SERIUS DEMI APA?"
Ceril mengangguk lesu.
"Kebetulan kali, Cer. Lo jangan nethink dulu elah!"
Ceril hanya memgembuskan napas lelah dan kembali menaruh kepalanya di atas meja.
☆☆☆☆☆
Ceril melangkah lesu masuk ke halaman rumahnya. Kakinya terasa berat untuk bergabung di rumah yang cukup mewah itu. Tumbuhan mahal yang berjajar rapi dan cantik di teras rumahnya tidak berpengaruh sama sekali bagi perasaan Ceril.
"Assalamualaikum. Ceril udah pulang, nih." Ceril berusaha menampilkan senyum saat berbicara meski ia dijawab oleh hening.
Ceril melirik Wika yang sedang asik dengan HP-nya sambil sesekali tersenyum.
Lagi dan lagi tak ada yang mendengarnya. Kesekian kalinya ia terabaikan.
Dia gak denger, Cer. Gak usah baperan. Pikir Ceril, menasehati dirinya.
"Eh, udah pulang. Kok gak ucap salam?" Jeni baru saja dari dapur sambil menenteng sebuah kotak makanan.
"Udah, tapi-"
"Ssst! Sekarang kamu mandi dan ganti baju, abis itu antar kotak makanan ini ke alamat Rista, ya."
Ceril menahan diri untuk menjelaskan kesalah pahaman Ibunya.
"Rista siapa, bu?"
Jeni menyodorkan secarik kertas. "Teman ibu. Antar ke alamat itu, ya."
Ceril mengangguk patuh dan menerima kertas berisi alamat itu.
"Sana mandi, jangan pake lama." Setelah mengatakan itu, Jeni beranjak ke ruang tamu dan mengecup kening Wika yang tampak kesal dengan perlakuan Jeni.
"Ibu ganggu, deh," kata Wika dengan nada manja.
☆☆☆☆
Ceril mengenakan training hitam dengan garis putih di sampingnya, lalu ia perlengkap dengan kaos oblong selengan berwarna merah tua. Setelah merasa sudah pas, Ceril menatap lesu pantulannya di cermin.
Gadis itu memegang wajahnya yang tembam dan mencubitnya dengan kesal.
Ceril tidak pernah lupa, sejak kecil ia selalu diledek bakpao karena pipinya yang menggembung. Tak jarang pipinya ditarik oleh tangan-tangan jahil yang tak berperasaan.
Ceril kerap kali pulang ke rumah dengan pipi memerah, mata sembab, serta rambut yang penuh lumpur.
Tidak ada yang ikhlas berteman dengan Ceril kecil dengan kondisi rambut keriting serta kulit sawo matangnya yang khas.
"Hahahahha! Pipinya kayak bakpao!"
"Ceril, Ceril, kok rambutmu keriting kayak mie? Pasti banyak kutunya, ya."
"Ceril hitam, kayak p****t kuali."
"Hitam ... hitam ... hitam!"
"Kata Mama, cewek kalau hitam itu jelek. Berarti Ceril jelek."
"Hahahahaha!"
"Jorok."
Ingatan buruknya pada masa lalu membuat Ceril ingin muntah dan menyakiti dirinya sendiri. Perasaan takut untuk dicaci maki dan ditolak membuat Ceril sulit menerima kenyataan dirinya.
Ceril menarik napas panjang, dan menghapus jejak air matanya yang sempat menetes. Dia berusaha tersenyum di depan cermin sambil berkata, "just trust yourself and be strong!"
Setelah merasa baikan, Ceril memutuskan untuk segera memenuhi perintah Ibunya. Ceril mengambil sepeda butut warna pinknya dan mengayuhnya ke alamat yang diberikan Jeni. Kebetulan tidak jauh dari komplek perumahannya.
☆☆☆☆
"Beneran ini gak, sih, rumahnya?" ujar Ceril setelah sampai di depan rumah berwarna abu-abu.
"Di alamat, sih, tertulis gitu," ujar Ceril yakin. Akhirnya ia memencet bel dan menunggu empunya rumah membukakan pagar.
"Nyari siapa?" tanya seorang cowok yang baru saja membuka pagar rumah yang dituju Ceril.
Ceril mengerjap beberapa kali, di hadapannya berdiri seorang cowok yang hanya menggunakan celana bola pendek dan atasan hoodie berwarna biru dongker.
Rambut si cowok tampak acak-acakan, Ceril yakin cowok di depannya ini baru saja terbangun dari tidur lelapnya.
Si cowok sama terkejutnya dengan Ceril, namun sedetik kemudian senyum lebar menghiasi bibir cowok tampan itu. "Hai, teman," sapa cowok yang ternyata orang yang pernah ditemui Ceril.
Naka, cowok yang mengejutkan Ceril di dapur rumahnya.
"Ternyata benar, dunia ini selebar daun singkong, nyatanya sekarang kita ketemu. Pas banget, semalam gue kepikiran sama teman level dua gue," ujar Naka tampak senang. "Kok bisa tau rumah gue?" tanya Naka dengan senyum sumringah.
Ceril terbelalak kaget mendengarnya, ia juga tidak menyangka jika alamat yang ia tuju ternyata rumah Naka, cowok yang sempat mengajaknya berteman.
"Gue cuman mau ngantar kiriman dari Ibu buat Tante Rista," ujar Ceril sambil menyodorkan kotak makanan itu.
Naka menerimanya dengan alis mengernyit. "Dari Ibu lo atau dari lo?" godanya sambil menaik-turunkan alisnya.
Ceril berdecak. "Dari Ibu gue!"
Naka mengangguk paham, lalu memanggil ART di rumahnya dan menyuruh menyimpan kotak makanan itu.
"Jadi gimana?"
Ceril yang bersiap pulang, hanya menoleh dan bertanya, "gimana apanya?"
"Hubungan kita."
"KITA?"