Chapter 6 - INSECURE

970 Kata
Ditinggal tanpa alasan jelas menyakitkan, bukan? Apa lagi tinggal pas lagi kesal-kesalnya. . . . ~~~ Seorang gadis berambut sebahu sedang melangkah tergesa-gesa. Tas sekolahnya ia jinjit dengan ringan serta sepatu hitam di tangan kanan. Ia keluar kamar dengan perasaan was-was, pasalnya ia sedang menghindari orang-orang di rumahnya. Terutama para teman-teman kakaknya. Setelahnya gadis itu tampak sibuk di teras rumah, tangannya sibuk memasang sepatu dan tidak menyadari jika ada seorang laki-laki yang tengah mengamatinya di balik pagar. Dua menit kemudian gadis pemilik boneka kelinci itu tersenyum senang melihat sepatu yang telah terpasang rapi di kakinya. Dengan langkah senang, Ceril membuka pagar rumah. "Pagi, temanku," sapa seorang cowok dengan seragam lengkap yang melekat rapi di tubuhnya. Terlihat sangat siap ke sekolah. Ceril terbelalak kaget. "Ngapain lo di rumah gue?" sentak Ceril sambil menutup kembali pagar rumahnya. Naka mengerjap sejenak, tampak berpikir. "Numpang lewat," ucapnya tanpa pikir panjang. Ceril melirik arlojinya sebelum berkata, "terus ngapain berenti di depan rumah gue?" "Gak boleh?" tanya Naka dengan wajah tanpa dosa. Ceril menggeleng, bingung mau menjawab apa. "Ya, udah, sana berangkat. Gue juga mau berangkat ke sekolah." Ceril menoleh ke samping, menatap Naka yang juga sedang menatapnya. "Tunggu apa lagi? Sana berangkat!" Naka menggeleng. "Boncengan gue masih kosong," ujarnya sambil melirik ke jok belakang. Ceril mengernyit bingung, ia menatap  motor matic biru itu dengan pengendaranya secara bergantian. "Y-ya terus?" Naka menepuk helm yang ia gantung di lengannya. "Helm ini juga gak ada yang make," ujarnya dan mengamati ekspresi bingung Ceril. "Terus?" Akhirnya Naka mengembuskan napas kasar sembari melempar senyum sungkan ke orang yang kebetulan lewat di dekatnya. "Sudikah kiranya engkau berangkat ke sekolah bersamaku, teman?" tanya Naka sedikit lebay. Tanpa sadar ia mencubit pahanya, merasa jijik dengan ucapannya sendiri. Ceril melongo tidak percaya, sedetik kemudian tawanya menyembur. "Lawak lo," ujar Ceril. Naka yang menyaksikan tawa Ceril,  akhirnya mengembangkan senyum senang. "Mau, 'kan?" Ceril menyudahi tawanya dan menatap datar ke arah Naka. "Enggak!" Naka memutar otak, memikirkan cara agar Ceril mau menerima tawarannya. Sedangkan Ceril sudah berjalan keluar komplek ingin menunggu angkot yang setiap pagi ia tumpangi untuk berangkat ke sekolah. "Ceril!" panggil Naka dan mensejajari motornya dengan langkah Ceril. "Sekolah kita beda, loh." Naka menatap jalan sejenak, sebelum kembali menatap Ceril dari samping. "Yang artinya berjauhan," sambungnya. Ceril mendengkus, tidak habis pikir dengan ucapan Naka yang menurutnya tidak berfaedah. "Gue kadang mager ke sekolah," lanjut Naka. Akhirnya Ceril menghentikan langkahnya dan menatap kesal ke arah Naka. "Ya, terus?" "Nabrak dong." Ceril menggeram dan siap melayangkan tendangan di motor Naka. "TERSERAH LO! INTINYA GUE TETAP OGAH BERANGKAT SAMA LO!" pekik Ceril dengan napas tak beraturan. Hancur sudah mood Ceril di pagi hari yang cerah ini. Naka tak mengubris kekesalan Ceril, matanya tak sengaja menangkap angkot biru yang Naka yakini angkot yang akan ditumpangi Ceril. "Ceril." "APA LAGI?!" "Tali sepatu lo lepas," ujar Naka berbohong. Dengan polosnya Ceril menunduk, memastikan jika yang dikatakan Naka benar adanya. Di lain sisi, Naka mengisyaratkan ke sopir angkot itu agar terus melaju--tidak usah berhenti. "Lo bohong!" bentak Ceril saat menyadari kebohongan Naka. Sedangkan Naka tidak mengubris, ia masih menatap senang angkot yang kini telah melewati meraka. Naka juga melambaikan tangan ke angkot itu. "Dadah angkot," gumamnya pelan. Ceril sontak mengikuti arah pandangan Naka. "s****n LO!" maki Ceril. Dengan gerakan spontan, Ceril mengejar angkot itu sambil berteriak menyuruh angkot itu agar berhenti. Naka yang bangga dengan pencapaiannya, hanya tertawa kecil melihat Ceril yang berlari seperti orang sinting, begitulah pikirnya. Senyum senang masih bertengger di bibir Naka sebelum mengingat akan sesuatu, dengan gerakan reflek matanya langsung melihat jam tangannya. "Astaghfirullah. Gue hampir telat!" Akhirnya Naka  melajukan motornya dan melupakan gadis yang berteriak setengah mati memanggil namanya. Ceril bertumpu di lututnya sambil mengatur napas. Selain ketinggalan angkot, ia juga ditinggal oleh cowok yang beberapa menit lalu memintanya untuk berangkat bersama. "YA TUHAN! GINI AMAT NASIB GUE!" ☆☆☆☆☆ Naka menarik napas lega saat telah sampai di parkiran. Ia kembali melihat arlojinya, memastikan jika ia tidak terlambat. "Lima menit lagi bell," gumamnya sambil menenteng tas. Laki-laki itu bersiul di sepanjang lorong sekolah dan sesekali menanggapi sapaan teman cowoknya. "Gembira amat muka lo," celetuk seorang cowok. Ia sahabat karib Naka sejak SMP. Naka tersenyum lebar sambil meninju pelan punggung cowok itu. Naka biasa memanggilnya dengan sebutan Lino, begitu pun dengan warga sekolah SMAN ADREXA. "Gue tadi abis jemput seorang cewek." "Wihhh, sejak kapan lo berani jemput cewek ke rumahnya?" tanya Lino heboh. Ia menatap takjub ke arah sahabatnya. Sebab, seingat Lino, semenjak mereka bersahabat, ia belum pernah mendengar Naka berpacaran, apa lagi menjemput cewek ke rumahnya. Naka hanya menanggapi dengan senyum tipis. "Btw, namanya siapa?" goda Lino sambil menaik-turunkan alisnya. "Ce-" Rahang Naka mendadak terasa kaku. Jantungnya langsung berdebar tidak normal, serta tangan yang berkeringat dingin. Ia mulai mengingat sesuatu. "Kenapa lo?" tanya Lino heran. "Muka lo pucet noh. Sakit?" Naka menggeleng kaku. Ia menoleh menatap  sahabatnya dengan panik. "Gue kelupaan." Naka berbalik, ingin kembali ke parkiran mengambil maticnya. Lino yang tidak tahu menahu, hanya mengikuti langkah Naka dengan banyak pertanyaan di kepalanya. "Apa yang kelupaan? Buku lo? Duit? Jangan bikin gue jadi panik juga, elah!" ujar Lino dan berusaha mensejajari langkahnya dengan langkah Naka yang tergesa-gesa. "Tuh cewek yang gue jemput ketinggalan di jalan!" "What?!  Gimana ceritanya? Kok bisa?" cerca Lino dan menghentikan langkahnya. Ia menatap Naka dengan ekspresi tidak percaya. Naka menoleh, menatap Lino jengkel. "Apa lo what-what?" Semburnya. Naka memberi jeda. "Ceritanya panjang kenapa gue bisa kelupaan sama tuh cewek dan ninggalin dia di jalanan," ujar Naka cepat. Naka tidak memedulikan Lino lagi, ia kembali melanjutkan langkahnya. Tepat saat Naka ingin berbelok ke parkiran, saat itulah suara bell menggema seantero sekolah. "Percuma lo nyusulin tuh cewek, Ka!" teriak Lino sambil bersidekap d**a dengan posisi bersandar di tiang sekolah. "Pasti tuh cewek udah sampai di sekolah." Naka menggaruk rambutnya. Merasa frustasi dan kesal dengan dirinya sendiri. "Masalahnya sekolah dia dan sekolah kita beda!" Lino memijit pelipisnya, bingung harus melakukan apa. "Mending sekarang kita masuk ke kelas," saran Lino. "Pagi ini ada praktek, njir." "Tapi tuh cewek tanggung jawab gue!" ujar Naka bersungguh-sungguh. Lino tertawa kecil mendengarnya. Secantik apa, sih, tuh cewek sampai Naka uring-uringan begini? Batin Lino. "Dia sekolah mana?" "SMA tetangga kita," jeda. "SMAN AKSARA 1," lanjut Naka. Lino tercenung di tempatnya. "AKSARA 1?" ulangnya dalam hati. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN