Mencoba Kenalan Secara Langsung

1180 Kata
Dewa menyunggingkan senyumnya. Dia merasa geli melihat tingkah lucu Ibi. Siapa juga yang mau hipnotis dia? "Ini punya kamu kan?" tanya Dewa. Ibi memperhatikan sebuah pulpen yang dijulurkan Dewa dengan seksama. Pulpen dengan merk penerbang pesawat itu, bukan hanya Ibi saja yang punya, lalu darimana Dewa tahu kalau pulpen itu punya Ibi? "Tadi jatuh di Warnet." Dewa berusaha menyakinkan. Menghindari perdebatan, Ibi memasukkan pulpen itu ke dalam tasnya. Dewa tersenyum manis. "Makasih ya ...." Ucap Ibi dengan senyum ragu. Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Ibi berbalik hendak pergi. Namun langkahnya dihentikan oleh Dewa. "Makasihnya gitu doang?" Ibi mengernyitkan alisnya. Maksudnya apa? Ih, jangan-jangan orang ini seorang p*****l. Modusnya ngembaliin pulpen, terus ngajak mampir ngopi, terus kasih obat tidur di kopiku. Terus ... ih, ya ampun. Ya Tuhan, bisa jadi seperti itu. Tidak, tidak, tidak! batin Ibi. Bermacam-macam pikiran buruk Ibi bermunculan. Gadis keturunan Arab itu mulai waspada dengan senyum yang Dewa lontarkan. "Aku nggak mau ngapa-ngapain kok. Cuma ngobrol bentar yuk! Sayang, Mama corner tutup. Duduk di depannya mau ‘kan?" tawar Dewa. "Mm, sorry. Hari ini aku ada janji sama mama mau belanja keperluan bulanan. Lain kali aja kalo ketemu lagi." Ibi berbohong untuk menolak secara halus. Dewa tahu jika gadis berponi di depannya ini berbohong. Mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Ibi, Dewa mengangguk setuju. Masih ada waktu besok. Yang penting aku sudah tahu kalau dia orangnya. "Janji ya, lain kali kalo ketemu lagi, mau aku ajak ngobrol sambil ngopi di sini?" ujar Dewa sambil menunjuk Mama corner. Tidak mau berlama-lama dengan pria asing, Ibi iyakan dengan mengangguk lalu bergegas pergi dari hadapan Dewa. Senyum kembali tersungging di bibir Dewa. Hanya memandangnya saja cukup membuatnya bahagia, apalagi bisa ngobrol dan tertawa sama-sama. Ah, Dewa sangat menantikan saat-saat itu. Meninggalkan tempatnya berdiri, Dewa kembali ke warnet, mengambil motornya untuk kemudian kembali ke kost. Dewa rebahkan tubuhnya di atas kasur lantai, di kamar kost berukuran empat kali enam meter. Pria perantau dari Surabaya ini benar-benar telah terperangkap dalam senyum manis Ibtisam. Wajah gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu selalu terbayang-bayang di kepalanya. Mengusik tidurnya dengan selalu hadir di mimpinya, tapi Dewa bahagia karena Dewa bisa memiliki Ibi di dalam mimpi. Hari berganti, tidak sabar rasanya gelora di jiwa Dewa ingin segera bersua. Duduk berdua, bercanda tawa dengan gadis manis tambatan jiwa. "Pagi Pak Dewa ...." sapa Vika, teman kerja Dewa di perusahaan listrik negara. "Pagi ...." jawab Dewa. Pria bernamakan Sadewa Handaru di seragamnya itu, cukup menarik perhatian para pekerja wanita di sana. Walau tinggi badannya pas-pasan tapi wajahnya tampan dan mempunyai senyum yang manis, ada lesung kecil di pipi kirinya. Supervisor di bagian jasa ini juga humble. Ringan tangan tidak pandang bulu. Setelah check lock masuk, dia berjalan ke kantor supervisor. Duduk satu ruangan bersama lima orang yang sama-sama supervisor tapi dari divisi berbeda. Dewa mulai dengan duduk melihat tumpukan map yang harus dia kerjakan. Lalu mengecek beberapa data dan menandatangani map yang sudah lengkap laporannya. Setelah itu dia serahkan ke divisi pelaksana. Begitu pekerjaannya dari hari Senin sampai Jumat. Terkadang dia juga harus turun ke lapangan untuk laporan. Tapi hari ini berbeda, Dewa begitu bersemangat. Jam menunjukkan pukul dua siang, bergegas dia rapikan mejanya dan meletakkan sebagian map ke bagian pelaksanaan dan mengembalikan lagi map yang belum lengkap datanya. Bergegas pria lajang berusia dua puluh enam tahun itu melajukan motornya ke warnet dekat rumah Ibtisam, tempat pertama mereka bertemu. Hari ini dia harus ketemu dengan gadis cantik itu untuk menagih janji minum kopi bersama. "Hai ..." Dewa sedikit berteriak. Dengan cepat dia lepas helm di kepalanya dan berlari mengejar Ibi yang sudah berjalan pulang. Ya Tuhan, pria itu lagi! pekik Ibi dalam hati. Dia percepat langkahnya dan pura-pura tidak mendengar panggilan pria dewasa itu. Namun, Dewa tidak kehabisan akal. Dia juga berlari mensejajari langkah Ibi. Dia tahu bahwa gadis yang masih memakai seragam lengkap beserta tas dan sepatu itu berusaha menghindarinya. Sekali lagi tingkah Ibi ini mengukir senyum di bibir Dewa. "Eh ketemu lagi. Kayaknya terburu-buru ya ...,” ucap Dewa basa-basi. Ibi mengangguk sambil menambah kecepatan langkahnya. Dia benar-benar paranoid dengan pria dewasa yang mengejarnya ini. Segala kemungkinan buruk terlintas di pikiran Ibi. Rasanya dia ingin lari kencang saat itu juga. Tapi Dewa terus saja mengimbangi langkahnya. "Iya, barusan di telpon mama kalo Boy belum makan," ucap Ibi dengan napas terengah-engah. "Siapa Boy?" Dewa pura-pura tertarik dengan apa yang dibicarakan Ibi. "Kucingku," jawab Ibi singkat. Ibi sudah sampai di depan Mama Corner sekarang, dia melirik tajam ke arah Dewa. Dia tidak mau ada yang mengikutinya sampai depan rumahnya yang terletak di belakang Mama corner. "Oke, sampai besok .... Aku harap besok kamu mau menepati janjimu!" seru Dewa. Paham dengan tatapan tajam Ibi, Dewa menghentikan langkahnya mengikuti Ibi. Ibi tidak memberikan jawaban apapun, dengan cepat dia lari kencang sebelum Dewa berubah pikiran dan menghentikan langkahnya. Sungguh pertemuan yang menyita tenaga Ibi siang itu. Tapi tingkah Ibi yang begitu malah semakin membuat Dewa penasaran dengan sosoknya. Tidak seperti kebanyakan ABG (anak baru gede) labil lainnya yang mudah di rayu. Gadis yang dia kenal lewat akun chat di media sosial ini malah mengaku sebagai Samy awalnya. Kebetulan yang manis ternyata cewek yang menarik perhatiannya tanpa sengaja di kehidupan nyata waktu itu adalah gadis yang sama. Bahkan mereka saling ngobrol di dunia Maya di warnet yang sama. “Oh Ibi, kamu semakin membuatku penasaran untuk bisa mengenalmu.” Dewa bermonolog. Sekali lagi hari ini dia harus pulang tanpa hasil. Dengan langkah gontai dan penuh harapan dalam hati besok akan mendapatkan respon Ibi, Dewa pulang ke tempat kostnya dengan motor yang dia beli dari hasil kerjanya. Keesokannya .... Dewa langsung melajukan motornya ke warnet. Hari ini sesungguhnya dia ada tugas lapangan, tapi syukurnya tidak lama. Hanya sampai setengah hari. Jam makan siang dia dan timnya sudah bisa pulang masing-masing. Jadi setelah itu dia bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Loh, apa ini artinya Dewa sudah jatuh cinta pada Ibi sampai hatinya sudah memuja gadis itu? Belum, Dewa baru sebatas tertarik dan penasaran saja. Tapi kedua rasa itu seolah mengisi penuh hati dan pikirannya beberapa hari ini. Sampai-sampai dia lupa dengan kekasih hati yang sesungguhnya ada di kampung. Ya, kenyataannya Dewa sudah memiliki kekasih di kota asalnya, Surabaya. Hubungan mereka sudah berjalan tiga tahun sejak dia masih kuliah. Kebetulan kekasihnya itu adalah kerabat jauhnya. Masih ada hubungan saudara dari pihak ibunya Dewa. Sejak Dewa di pindah tugaskan ke kota M di Pulau Sumatera, mereka menjalani hubungan jarak jauh, yang biasa di sebut LDR (long distance relationship). Tidak ada masalah apapun yang terjadi antara Dewa dengan pacarnya. Komunikasi mereka pun tetap lancar. Hanya saja, mungkin waktu yang sudah berjalan satu tahun LDR menimbulkan rasa jenuh di hati Dewa. Dan bertepatan dengan itu tanpa sengaja Dewa berkenalan dengan Ibi. Semula niatnya hanya untuk berkomunikasi biasa sebagai teman chat. Tapi waktu seolah telah diatur Tuhan. Hatinya tiba-tiba saja tergerak mengikuti langkah Ibi saat pertama kali mereka bertemu. Dan sekali lagi memang sudah diatur Tuhan, bahwa ternyata Ibi adalah orang yang sama dengan cewek yang dia kenal di aplikasi chat. Sungguh diluar kendali Dewa. Sebab Tuhan benar-benar telah mengatur semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN