Sejak hari itu kehidupan Hanin, Dewa dan anak mereka berjalan dengan bahagia. Dari satu anak berselang beberapa tahun kemudian Hanin melahirkan anak kedua. Segalanya masih baik-baik saja. Hubungannya dengan Dewa tetap harmonis dan saling sayang bak keluarga yang sempurna.
Tapi suatu ketika ada kabar yang didapat Dewa dari temannya Adi merubah segalanya. Setelah membaca pesan dari Adi tersebut, Dewa jadi lebih banyak diam. Hatinya seperti terpukul untuk sesuatu hal yang di luar jangkauannya. Pikirannya ingin tidak terima untuk sesuatu hal yang bukan merupakan bagian dari hidupnya.
Berhari-hari setelah mendengar kabar itu Dewa lebih banyak diam dan termenung. Setiap di ajak ngobrol oleh Hanin dia tidak menyahut sama sekali. Apalagi ketika anak-anaknya mengajak dia bermain, Dewa tidak menanggapi. Dia mirip seperti mayat hidup. Wujudnya ada tapi jiwanya entah kemana.
Dua minggu keadaan aneh itu berlalu sampai akhirnya Hanin sudah tidak tahan lagi melihat suaminya seperti itu. Hanin memutuskan untuk bicara dari hati ke hati pada Dewa, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Hari itu Dewa pulang dari kantor tepat waktu. Selesai mereka semua makan malam, Hanin menidurkan anak-anak lebih cepat agar dia bisa bicara berdua dengan Dewa tanpa ada yang mengganggu.
Setelah anak-anak tidur, Hanin masuk ke dalam kamar. Di lihatnya Dewa sedang memperhatikan ponselnya di pinggir ranjang. Tidak melakukan aktivitas apa-apa hanya sekedar melihat ponsel saja tanpa tangannya bergerak memencet atau apapun.
Melihat itu tentu Hanin makin heran. Pasti ada yang tidak beres dengan suaminya. Dia lantas menyentuh pundak Dewa. Malam ini walau bagaimanapun mereka harus bicara. Tidak mungkin Hanin terus membiarkan tingkah Dewa jadi aneh begitu hari ke hari.
“Mas ...,” tegur Hanin tapi Dewa hanya diam.
“Mas ....” Sekali lagi Hanin menegur, dan Dewa masih tetap diam.
“Mas ....” Untungnya setelah teguran yang ketiga Dewa menoleh.
“Ya, Nin,” saut Dewa.
“Boleh kita ngobrol penting, Mas?” Lembut sekali Hanin bertanya. Dia berusaha memahami apa yang sedang Dewa alami walau sesungguhnya pun dia tidak paham.
“Soal apa?” tanya Dewa.
“Soal kamu, Mas.” Hanin menyunggingkan senyum. Berharap Dewa tidak salah paham padanya.
“Kenapa denganku, Nin?” tanya Dewa lagi.
“Aku baru mau tanya. Kamu kenapa, Mas? Belakangan aku liat kamu terus termenung. Setiap aku ajak ngobrol pasti gak jawab. Apalagi kalau diajak anak-anak main, kamu Cuma diam. Apa Mas Dewa ada masalah, ya? Cerita ke aku donk, Mas. Aku ‘kan istri kamu. Walau aku gak bisa bantu, tapi paling tidak bisa ngurangin beban pikiran kamu sedikit, Mas.” Hanin memilih kata-kata yang baik untuk bicara dengan Dewa agar tidak menyinggung hatinya.
Dewa menatap Hanin dengan tatapan sendu. Dia sadar kalau dua minggu belakang sikapnya aneh di rumah. Tapi bukan hanya di rumah, di kantor pun dia juga berlaku yang sama. Lebih banyak diam, duduk, dan sesekali mengecek pekerjaan bawahannya. Untung posisi Dewa sekarang sudah di atas, kalau tidak pasti dia sudah ditegur bolak-balik oleh atasan karena bekerja sambil melamun.
“Maafin aku ya, Nin. Aku memang lagi ada masalah. Lebih tepatnya beban pikiran dan hati,” jawab Dewa.
“Aku butuh waktu walau gak tau sampai kapan. Tapi kamu doain aku terus ya, biar aku bisa lepas dari beban ini,” sambung Dewa lagi.
“Hanin selalu doain Mas Dewa disetiap sujud Hanin, Mas. Hanin gak pernah lupa untuk itu, karena Mas Dewa itu suami Hanin.” Hanin mengelus bahu suaminya.
“Kalau Mas gak keberatan, Mas bisa cerita ke Hanin beban apa yang Mas maksud itu,” sambung Hanin lagi.
Kembali Dewa menatap Hanin dengan sendu. Dia kasihan, sungguh kasihan pada istrinya. Hanin tidak melakukan kesalahan apapun selama ini. Bahkan dia menjadi istri yang soleha dan ibu yang baik untuk anak-anak mereka lantas apa mungkin Dewa menceritakan bebannya pada Hanin?
Ternyata beban yang dimaksud Dewa tersebut menyangkut soal Ibtisam. Dua minggu yang lalu Adi mengabarkan kalau Ibi akan segera menikah. Ibi dijodohkan oleh keluarga dengan seorang laki-laki yang masih ada hubungan kerabat dengannya. Mereka direncanakan akan menikah bukan depan.
Sejak mendengar kabar itu, Dewa seperti terpukul hebat. Entah bagianana di hidupnya yang merasa tersakiti untuk kabar yang sesungguhnya membahagiakan itu. Tapi nyatanya justru membuat dia terpuruk. Tenyata jauh di lubuk hati Dewa dia masih berharap bisa memiliki Ibi sepenuhnya. Sungguh mengherankan.
Di atas kebahagiaan yang sudah dia miliki sekarang yakni istri dan anak-anaknya yang cantik ternyata Dewa masih menyimpan rasa untuk orang lain. Itu berarti dia belum sepenuhnya cinta pada Hanin. Atau mungkin dia memang tidak bisa mencintai Hanin lagi. Selama ini rumah tangga yang mereka jalani hanya sebatas saling menghargai, saling sayang, saling mengerti dan saling mencukupi kebutuhan masing-masing baik materi maupun fisiologi. Begitu yang ditanamkan Dewa di benaknya mengenai pernikahan mereka.
Apa yang Dewa lakukan bersama Hanin di atas ranjang, berbalut selimut yang sama tanpa batas apapun tidak menjadi tolak ukur baginya untuk mencintai seorang Hanin. Pedih sekali rasanya jika Hanin sampai tahu kenyataan ini. Tapi lambat laun Hanin pasti akan tahu juga.
Dewa sunggung kejam. Hatinya terlalu dalam memahat nama Ibtisam di sana hingga tidak ada tempat lagi untuk orang lain sekalipun untuk ibu dari anak-anaknya.
“Ceritanya panjang, Nin, dan Mas gak mau menyakiti kamu karena hal ini,” ucap Dewa setelah lama dia berpikir.
“Jadi ini ada hubungannya dengan Hanin, Mas?” tanya Hanin ragu-ragu namun Dewa mengangguk.
“Ya Allah, apa Hanin bikin kesalahan fatal ke Mas Dewa sampai jadi beban di pikiran dan hati, Mas?” Hanin jadi khawatir dengan sepenggalan kalimat Dewa yang rancu. Wajar dia berpikir kesitu sebab selama mereka menjalani rumah tangga Hanin selalu menjaga perasaan suaminya. Perasaan yang susah payah dia dapat kembali setelah sekian lama hilang darinya.
“Enggak, kamu sama sekali gak berbuat salah apapun pada Mas, kok, Nin. Kamu istri yang sangat baik dan soleha. Mas beruntung bisa menikah sama kamu. Tapi ...” Dewa menjeda kalimatnya. Dia tidak tega meneruskan semuanya. Pasti nanti akan menyakiti hati istrinya itu.
"Tapi apa, Mas?" Hanin jadi penasaran dengan penggalan kalimat Dewa. Namun tidak ada jawaban lagi dari suaminya itu. Dewa hanya diam, bimbang memutuskan harus bicara jujur atau tidak. Ingin mengutarakan tapi tidak tega menyakiti hati ibu dari anak-anaknya yang sudah begitu baik dan tulus mencintai dia dari sejak awal bahkan jauh sebelum mereka menikah.
Sejujurnya aku gak tega sama kamu, Nin. Kamu terlalu baik dan tulus mencintaiku, tapi sampai detik ini aku justru tidak membalas dengan rasa cinta yang sama. Hatiku masih tertambat pada orang lain yang tidak kamu kenal sama sekali. Dewa menatap Hanin sendu. Dipeluknya Hanin dengan begitu erat.
Maafin, Mas, Nin .... Maaf .... Hanya itu kalimat yang dapat Dewa utarakan atas apa yang telah dia lakukan pada Hanin selama bertahun-tahun ini. Itupun cuma mampu dia ucap di lewat batin, bukan lewat bibir.
Tindakan Dewa yang aneh ini entah kenapa jadi memancing emosional di benak Hanin. Air matanya luruh bersamaan dari kedua matanya.
Ya Allah, ada apa sebenarnya ini? Kenapa dengan Mas Dewa? Pasti ada yang gak beres, ada hal yang membuat hatinya kacau sampai dia tampak hancur seperti ini. Tapi apa ...?