Aku hancur sejak hari itu. Sudah lima tahun berlalu dan aku belum menerima akan hilangnya putri ku, Aleira. Andai saja hari itu aku tidak lalai dengan melepas genggamannya, pasti ia masih ada bersama kami. Sejak itu, aku tak pernah lagi berniat merayakan ulang tahun ku. Tidak setelah aku kehilangan putri ku di hari yang seharusnya membahagiakan untuk ku. Aku terluka tentu saja, menyalahkan diri ku sendiri yang lalai. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam dan meratapi nasib ku. Sampai aku mengabaikan semua orang di sekitar ku, termasuk putra dan suami ku. "Melamun hm?" Aku tersentak saat merasakan sepasang lengan kekar melingkari perut ku. Aku tersenyum simpul sembari mengusap pelan lengan itu, siapa lagi kalo bukan suamiku. "Mas bangun?" Tanya ku. Dia mengangguk pelan

