"Lalu bagaimana lagi, memangnya kamu mau jika Kakak menikah dengan sembarang orang?" Kak Ji-soo nanya balik dengan memasang wajah memelas. Aku hanya terdiam. “Coba bayangkan, kalau Kakak menikah dengan sembarang orang, amit-amit ternyata orangnya suka main kasar terus kakak dipukuli, atau lebih parah selingkuh terus kakak ditinggal..” Kak Ji-soo tampak mendramatisir kalimatnya. "Amit-amit! Jangan dong Kak aku juga tidak rela jika Kakak menikah hanya terpaksa dan asal comot saja lebih baik tidak usah nikah sekalian saja apabila seperti itu. Ih, kakak kalau ucap yang baik-baik dong. Ucapan adalah doa loh!" kataku tak setuju. "Nah, kan. Bukan kakak asal ucap, tapi kan kita sebagai manusia maunya menjalani hidup yang serba baik, tapi tidak tau juga kan ke depannya. Dilema memang menjadi ana

