Chapter 13

1458 Kata
    Verrel mematut dirinya di depan cermin. Ia telah mengenakan kaos lengan panjang dan celana santai selutut untuk datang ke kampus malam ini. Agendanya, Verrel akan berlatih bersama teman kelas ospeknya untuk penampilan besok.     Ponsel Verrel yang ia letakkan di atas kasur bergetar tidak sabaran. Verrel melangkah gegas mendekati kasurnya. Ia meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau. "Hallo, Tha. Gimana, jadi ikut?"     "Jemput ya," pinta lawan bicara Verrel di seberang telepon.     "Siap, bos. Tunggu ya," ucap Verrel sebelum menutup panggilan.     Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku sambil berjalan keluar kamar. Verrel mengambil kunci mobilnya lalu bergegas keluar rumah. Ia mengeluarkan mobil dari halaman, menutup pagar, dan segera cabut menjemput Agatha.     Verrel melaju dengan kecepatan sedang. Setelah sekitar dua puluh menit berkendara di jalanan, Verrel tiba juga di rumah Agatha.     Agatha sudah menunggu di depan pagar rumahnya. Begitu mobil Verrel menepi, ia segera menghambur ke arah mobil Verrel. Agatha mambuka pintu penumpang di samping pengemudi.     "Udah nunggu lama?" tanya Verrel begitu Agatha meletakkan bokongnya di jok depan.     Agatha menggeleng, "Nggak terlalu."     Verrel mulai melajukan mobilnya. "Tha, lain kali lo nunggu di dalem aja. Jangan di pinggir jalan gitu, bahaya."     "Khawatir ya lo?" pancing Agatha.     Verrel berdecak, "Gue serius, Tha. Ntar lo diculik lagi kelamaan berdiri di pinggir jalan."     "s****n," maki Agatha singkat. Ia lalu fokus menghadap ke cermin kecil yang ia bawa. Setelah puas dengan tampilannya, Agatha menoleh pada Verrel. "Bagus nggak warna liptint gue?"     Verrel meringis ngeri menatapi bibir Agatha yang berwarna merah darah. "Tha, lo kaya lipstikan pakai darah."     Agatha menoleh dan melotot pada Verrel. "Jangan ngeselin deh, Rel."     "Serius, nggak bohong," ucap Verrel sembari menunjukkan dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah. Itu menandakan dia tidak tidak lagi bercanda. "Mendingan pakai yang warna-warna kalem kaya punya Shana. Kelihatan manis."     Agatha melirik ke Verrel dan mendengkus kesal. Ia merogoh-rogoh sling bag mini yang ia bawa. Agatha mengeluarkan tisu dan menghapus liptint di bibirnya.     "Sekarang gimana? Ilang semua apa masih ada?" tanya Agatha pada Verrel lagi setelah ia membersihkan bibirnya.     Verrel mengangguk, "Nah, itu lebih bagus. Natural dan nggak mencolok banget warnanya."     "Okay," gumam Agatha puas. Ia membereskan barang bawaannya dan memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam sling bag mininya.     Mobil berbelok memasuki gerbang fakultas. Verrel memberhentikan mobilnya di parkiran dosen yang dekat dengan gedung dekanat. Toh ini sudah malam, tidak akan ada yang memprotes ulahnya parkir di parkiran khusus dosen.     Mobil terparkir rapi. Verrel turun duluan sedangkan Agatha sedang rusuh dengan barang bawaannya yang masih ada yang tercecer.     Agatha merasa menginjak sesuatu. Ia merogoh bagian bawah mobil yang gelap dan menemukan sebuah botol liptint mirip dengan miliknya, tapi dengan warna yang berbeda. Agatha mengernyit, ia lalu memasukkan liptint temuannya itu ke dalam sling bagnya sebelum Verrel melihat aktivitasnya. Bukannya mau mencuri, Agatha hanya penasaran dengan siapa gerangan pemilik liptint ini. ***     Arthur dan Shana berjalan mendekati segerombolan orang yang diduga adalah anggota kelas mereka di sebuah balairung milik Fakultas Ekonomi, berhubung di tempat inilah mereka janjian ketemuan untuk berlatih. Balairung sudah dipadati orang yang kelihatan membentuk kelompok-kelompok. Di sini kedengaran berisik karena masing-masing kelompok saling berlatih.     "Woi, mau pada pindah nggak nih? Di sini rame banget ternyata." Nolan berteriak mengalahkan kebisingan di tempat ini.     "Yuk-yuk, pindah. Nggak bakalan bisa latihan kalau berisik gini." Talea yang berdiri di dekat Nolan menyetujui usulan Nolan.     Akhirnya dengan berbondong-bondong, anggota kelas itu mencari tempat yang lebih sepi dan kondusif untuk berlatih.     Sesampainya di lokasi terbaru, Shana mengetikkan balasan pada Agatha. Ia memberitahu posisi terkini anggota kelasnya.     Agatha dan Verrel akhirnya datang juga. Mereka langsung bergabung dengan Shana dan Arthur yang duduk memisah agak di belakang.     "Kok pindah ke lapangan basket sih, emang balairung nggak bisa dipakai?" tanya Agatha begitu duduk di samping Shana.     Verrel dan Arthur memisahkan diri ke bagian depan. Mereka harus berlatih dengan yang lain untuk persiapan penampilan besok.     "Iya, balairung padet banget sama maba yang juga berniat latihan buat penampilan besok. Makanya pindah ke sini," terang Shana.     Agatha mengangguk-angguk. Ia lalu menggeser duduknya agak mendekati Shana. "Sha, gue mau curhat nih. Mumpung nggak ada Verrel sama Arthur."     "Curhat apaan?" tanya Shana bingung.     Agatha berdeham sebelum mulai bercerita. "Jadi tadi kan Verrel jemput gue pake mobil. Di mobil, gue sempet touch up. Gue keluarin barang-barang gue. Salah satunya liptint. Nah pas barusan mau turun nih, gue nggak sengaja injek sesuatu. Gue cek ternyata itu botol liptint. Tapi warna liptintnya beda sama yang gue bawa, Sha. Gila nggak sih. Pikiran gue udah ke mana-mana nih!"     "Liat liptint nya," pinta Shana.     Agatha mengeluarkan liptint temuannya dan memperlihatkannya pada Shana. Shana hanya mengernyit, tapi tidak mengomentari.     "Gimana menurut lo?" tanya Agatha lagi karena ingin tahu pendapat Shana.     Shana menggeleng, "Positif thinking aja, Tha. Mungkin itu bukan apa-apa."     "Ih, Sha. Tapi gue tetep penasaran siapa pemilik liptint ini."     Shana mengedikkan bahu. Ia pamit menepi pada Agatha karena ponselnya berdering. Shana agak menjauh dari kegiatan latihan kelasnya yang agak berisik itu. ***     Agatha memperhatikan gerak-gerik Shana. Shana kelihatan sangat serius saat berbicara di telepon. Sepertinya Shana terlibat pembicaraan penting dengan lawan bicaranya di seberang telepon sana.     Begitu telepon berakhir, Shana kelihatan langsung mematikan ponselnya. Ia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Seketika Agatha pura-pura mengalihkan pandangan agar tidak kelihatan tengah mengamati Shana.     "Kok Shana kelihatan aneh sih malam ini?" gumam Agatha lirih.     Agatha segera berdiri dari duduknya saat melihat Shana melipir pergi. Dengan sigap dan hati-hati, Agatha mengikuti langkah Shana.     Shana kelihatan parnoan. Berkali-kali dia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang menguntitnya.     Agatha berkali-kali senam jantung. Ia dibuat bolak-balik terkejut saat Shana menoleh. Tapi Agatha selalu berhasil sembunyi hingga Shana benar-benar merasa tidak ada yang sedang mengikutinya.     Agatha mengikuti Shana hingga Shana berhenti di sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari gedung kegiatan mahasiswa. Di mana mobil itu telah disegel dengan garis polisi.     Agatha berjalan berjingkat-jingkat, lalu bersembunyi di balik pilar besar gedung kegiatan mahasiswa. Dari sana, Agatha bisa melihat dengan jelas apa yang Shana lakukan.     Shana hanya terdiam sembari mengamati lekat-lekat mobil di hadapannya. Shana terdiam tanpa ada niatan beranjak atau melakukan hal lainnya.     Merasa tidak ada yang perlu ditakutkan jika Shana mengetahui Agatha menguntitnya, Agatha berniat keluar dari persembunyian. Palingan Shana juga tidak berniat menutup-nutupi ini dari Agatha. Barangkali Shana ini hanya berusaha memastikan tidak ada maba lain selain Agatha, Verrel, dan Arthur yang tahu serta penasaran dengan kasus ini. Makanya dia terkesan parnoan begitu.     Tapi sebelum niat Agatha terlaksana, Agatha sadar diri kalau dia harus kembali merapatkan tubuhnya pada pilar di gedung kegiatan mahasiswa tempatnya sembunyi ini. Dugaan Agatha soal Shana salah total.     Agatha makin tidak paham. Kernyitan di dahi Agatha tercetak jelas. Ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Shana.     Sekarang, Agatha bisa melihat Shana sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Mereka kelihatan sama-sama canggung tapi tetap berusaha saling bicara.     Agatha menyipitkan matanya untuk memperjelas siapa laki-laki yang menjadi lawan bicara Shana. Agatha hanya bisa menutup mulutnya agar tidak tiba-tiba mengumpat atau melakukan hal-hal bodoh lainnya.     Kali ini Agatha berusaha mendengarkan pembicaraan dua orang itu. Mungkin ada penjelasan kenapa Shana melakukan hal ini. Bukan begitu?     Tapi karena baik Shana maupun laki-laki itu tidak bicara keras-keras, maka Agatha membutuhkan tenaga lebih untuk menguping pembicaraan mereka. Bahkan Agatha hanya bisa mendengar bagian awal dan akhir kalimatnya saja.     Lolos? Aman? Rahasia? Terbongkar? Bukti? Hilang? Ditutupi? Tersangka?     "What the hell! Apaan sih ini," desis Agatha sangat lirih. Ia jadi kesal sendiri karena hanya mendengar informasi sepotong-sepotong. ***     Di lapangan basket, Verrel dan Arthur agak panik saat menyadari bahwa Agatha dan Shana menghilang. Verrel dan Arthur pikir, kedua cewek itu pasti tengah sibuk menguntit salah satu dari petinggi panitia ospek, entah Panji atau Langir.     "Bandel bener ya dua cewek itu," ucap Verrel sembari berkacak pinggang dan mengedarkan pandangan.     Verrel sibuk mengamati, sementara Arthur masih berusaha menghubungi Shana dan Agatha secara bergantian. Tapi kedua cewek itu tidak merespon panggilan Arthur. Kemana gerangan perginya dua cewek ini?     "Kita cari aja di sekitar sini," putus Arthur setelah usahanya menelepon dua cewek itu tidak membuahkan hasil apa-apa.     Sebelum Verrel dan Arthur sempat melangkah menjauhi lapangan basket, Shana muncul dari arah gedung dekanat. Ia berlari-lari kecil menghampiri Arthur dan Verrel tanpa rasa menyesal.     "Lo habis dari mana sih?" sergah Arthur galak.     Shana menaikkan sebelah alisnya, bingung kenapa Arthur jadi sewot begitu. Shana menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, "Gue barusan jalan-jalan, cari angin."     "Di lapangan basket kan juga ada angin," cecar Arthur tak mau percaya begitu saja.     Shana meringis, "Anginnya beda, Ar."     Arthur menghela napas dan mengusap wajahnya frustasi. Ia menatap Shana sekali lagi dengan tatapan tajam penuh selidik.     "Eh, Agatha nggak sama lo, Sha?" tanya Verrel menyela perdebatan Shana dan Arthur.     "Lho, Agatha nggak di sini?" tanya Shana balik. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung.     Arthur mendengkus, "Ya kalau dia di sini, kami nggak akan cari keberadaan dia."     Verrel mengacak-acak rambutnya. Ia bergerak bingung, "Gue cari Agatha dulu deh."     "Ya udah, gue ikut." Shana melangkah mengekori Verrel.     Ditinggal sendirian, Arthur pun memilih melakukan hal yang sama. Ia bergabung dengan Verrel dan Shana untuk mencari keberadaan Agatha.     Sembari mencari Agatha, Shana menghela napas berkali-kali secara perlahan agar teman-temannya tidak curiga. Sebenarnya, Shana lumayan deg-degan sekarang. Agatha menghilang tepat bersamaan waktunya dengan Shana pergi menemui kenalannya. Bagaimana kalau ternyata Agatha tadi mengikutinya? Pikiran itu tidak bisa Shana enyahkan dari kepalanya.     Di mana Agatha sekarang? Shana berdoa semoga Agatha tidak tahu menahu soal apa yang Shana lakukan tadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN