Nadia berjingkat sambil menggenggam ponsel menjauhi ranjang, lalu membuka pintu balkon yang terhubung dengan kamarnya. "Ada apa?" tanyanya sambil melirik ke arah kamar. Dia kesal setengah mati ketika ponselnya berdering di tengah malam. "Bos, wanita itu meminta lebih. Jika tidak, perjanjiannya batal," jawab seseorang di seberang sana. "Apa!" bentak Nadia tertahan, dia cepat membekap mulutnya ketika menyadari Arkan bisa mendengar suaranya. "Jangan macam-macam. Bukankah perjanjiannya jelas di awal. Jangan coba memeras saya!" "Iya, Bos. Tapi, dia mengancam tidak akan makan dan meminum semua vitamin yang dikasih dokter." "Dasar t***l! Paksa. Tapi, ingat jangan sampai menyakitinya." "Sudah, Bos. Wanita ini keras kepala. Saya takut terjadi sesuatu." Nadia memijit kepalanya yang mulai be

