"Kumohon ... kasihani aku." "Hah! Apa kau mengasihaniku dulu?! Kau bahkan tega mematahkan hatiku setelah kulakukan apa pun untuk menyenangkanmu." "Aku tidak pernah memintamu. Kau salah paham selama ini. Aku hanya menganggapmu sahabat. Tidak lebih." "Munafik! Kau memilih Liam setelah tahu aku hanya putra angkat." "Tidak. Aku dan Liam memang dijodohkan sejak kecil. Kami sengaja menutupinya. Dan aku hanya mencintai dia." "Akh, pendusta! Lihat saja, akan kuhancurkan kesombonganmu hingga kau merasa tidak akan mampu menatap mata suamimu." "Tidak! Kumohon jangan. Jangan! Ah ... Saga! Tolong Ibu, Nak." . . . "Tuan kita sudah sampai." Saga mengerjap beberapa kali. Sejak dari bandara memorinya terhempas ke masa lalu. Lekat di ingatannya bagaimana perlawanan sang ibu mempertahankan kehorma

