Setelah makan bakso di kantin Pak Mamat, dan meski bel masuk tanda istirahat sudah berakhir, kami masih saja pergi ke toilet alias nggak langsung masuk ke dalam kelas. Di sana, ketika yang lain sibuk menata diri di cermin, aku justru melamun sambil bersandar di pintu toilet.
"Eh, Sy, bengong aja lo, entar kesambet hantu penunggu toilet baru tau rasa, lo!" omel Mila yang sibuk menata rambut ombaknya.
Aku nggak menjawab, hanya menatap mereka bergantian saja.
"Iya, pasti elo masih mikirin pangeran basket lo itu ya, kan?" tuduh Tina yang pasti dia benar.
"Ya terus menurut lo gue harus enjoy aja gitu mikirin perasaan buruk gue ke Rezky," balasku. Aku lalu mendekat ke mereka. "Guys, beneran deh, perasaan gue nggak enak banget, kepala gue sampe pusing mikirin kenapa Rezky nggak bisa dihubungi dan dia juga sampai sekarang nggak nelepon balik gue," kataku lagi, aku lalu berdiri menghadap cermin dan membasuh wajah. Aku lihat Tina, Mila dan Tia berjalan mendekat, tapi kemudian kepalaku semakin pusing hingga bayangan mereka bertiga yang dapat aku lihat dari balik cermin saat ini buyar dan berputar.
"Sy, lo kenapa?" aku dengar suara Tia bertanya dan disusul yang lainnya pun jadi ikut bertanya dengan cemas.
Aku mengangkat lima jari sebagai jawaban, dan satu tangan menekan kepala yang terasa berdenyut.
"Enggak tau, kepala gue terasa berdenyut dan sekarang d**a gue sesak. Satu-satunya yang gue pikirin cuma ... Rezky. Kenapa, dia kenapa?"
"Sy, elo tenang deh, Rezky itu kan hoby banget basket, gue yakin kalau dia itu sibuk main basket dan nggak mungkin sambil bawa hape," kata Tina yang masih mencoba untuk dapat menenangkan aku.
"Benar itu kata Tina, elo jangan terlalu berlebihan berpikir yang buruk tentang Rezky, udah deh ntar juga dia nelepon," kata Mila kali ini.
Aku hanya bisa diam sambil menekan d**a dan juga kepalaku. Jadilah mereka semua makin cemas dan sibuk menenangkan aku dengan sentuhan mereka.
Rezky akhirnya menghubungi aku. Segera aku terima panggilan darinya. "Ha, halo?"
"Hei, kamu tadi telepon aku ya, princess?" tanya Rezky di sana.
"Ehm iya pangeran, tadi aku telepon kamu, kamu ke mana sih, telepon aku nggak kamu angkat?" tuntut aku yang masih penasaran.
"Maaf ya princess, tadi aku main basket sama anak-anak, jadi aku nggak bawa ponsel," jawab Rezky.
"Aku sampai cemas mikirin kamu. Sekarang dadaku sudah nggak sesak lagi dan kepalaku sudah ..."
"Memangnya kamu sakit?" sergah Rezky.
Sebelum menjawab aku melihat satu persatu makhluk di hadapan aku yang sedang meledek aku dengan menirukan gerak bibir aku ketika aku bicara.
"Enggak, aku baik-baik aja, kok. Tapi aku kepikiran banget sama kamu karena..."
"Karena apa? sekarang aku sudah telepon kamu, jadi aku mohon princess sekarang tenang ya," tutur kata Rezky terdengar sangat menenangkan.
"Ya udah kalau gitu, sekarang aku udah tenang, tapi kamu jangan lupa telepon aku ya," balasku.
"Nanti aku pasti telepon kamu kok, dan nanti juga aku bakal jemput kamu pulang dari sekolah," kata Rezky lagi.
"Nggak perlu, Ki."
"Kenapa? memangnya nggak boleh kalau aku mau jemput pacar aku sendiri?" tuntut Rezky.
"Bukan nggak boleh, tapi..."
"Tapi apa?"
"... Aku tuh mikirin kamu banget hari ini. Aku takut kamu kenapa-napa. Lagian kalau kamu jemput aku dan anter aku pulang, itu terlalu repot," kataku.
"Repot, emangnya kenapa?" kali ini Rezky yang menuntut aku dengan pertanyaan.
"Ki, sekolah aku dengan sekolah kamu itu kan jaraknya lumayan jauh, dan kamu juga jadi harus putar balik arah kalau misalkan sampai harus anterin aku pulang ke rumah," kataku menjelaskan. "Lagian aku juga bisa pulang bareng Asep, Tina atau Dewi."
"Itu kan sebelum ada aku, tapi sekarang kamu sudah punya aku, jadi itu sudah tugas aku. Pokoknya kamu udah nggak punya alasan lagi buat nolak tugas aku itu. Jadi kamu tunggu aja, aku pasti jemput kamu pulang. Bye princess kita harus masuk ke kelas sekarang."
"Oke. Bye." Aku menjawab dengan sedikit lesu.
"Buset dah nih anak, udah ditelepon masih aja nggak semangat!" seru Tina.
"Guys, ini kan pelajaran ibu Susi, mati dah kita pintu kelas pasti udah dikunci, kabur ah gue," Mila dan kami semua langsung saja lari terbirit.
Dan lagi-lagi sepanjang perjalanan berlangsung aku tidak bisa konsentrasi.
__
Ketika bel pulang berbunyi, ya sudah pasti seluruh makhluk di dunia pun tahu rasanya, semua isi sekolah berhamburan ke luar. Aku dan Tina menjadi yang paling akhir keluar, seperti biasanya.
Asep, Sincan, Lasmi dan Dewi masih saling ejek di depan pintu kelas. Aku dan Tina kemudian melewati mereka yang langsung berlari menyusul kami. Bahkan Asep dan Dewi justru kejar-kejaran melewati kami.
Aku dan Tina langsung berjalan menuju ke depan gerbang sekolah. Tina sudah pasti menunggu Jannes yang sedang mengambil motornya di parkiran. Dan aku ..., aku sudah tentu menunggu seseorang yang berjanji akan menjemput aku dari sekolah dan akan mengantar aku pulang ke rumah.
"Cie yang lagi nungguin pangeran basket mau jemput," ledek Tina. Yang lain pun kemudian ikut meledek aku habis-habisan dengan cara dan gaya mereka masing-masing.
Ya, sudah... aku terima dengan senyum malu-malu saja. Tapi kenapa Rezky belum menelepon aku ya? apa dia langsung menjemput aku tanpa menelepon terlebih dahulu. Ah, sudahlah, aku tunggu saja.
"Bye... princess basket...!" ucap Tina ketika dia bersama Jannes yang memboncengnya melewati aku.
Kemudian si pengejek selanjutnya disusul dengan Mila yang menumpang dibocengan motor Tia.
Sincan melaju setelah membunyikan klakson dengan bising. Dan Aak Asep meraungkan motornya hingga menimbulkan asap.
"Aak nebeng dong!" kata Dewi kepada Asep yang masih terus meraungkan motor RX King tuanya dengan bising dan asap knalpot.
"Gue aja Aak, kayaknya Rezky nggak jadi jemput gue, deh." Aku berjalan mendekati Asep dan motornya.
"Ets, boncengannya Aak Asep cuma buat Dewi seorang!" cegah Dewi.
"Enaknya aja lo ngomong, dasar kriting! boncengan gue cuma buat elo doang, emang lo mak gue, huh? emang elo calon dari emaknya anak gue, huh? ogah!"
"Motor butut doang sombong lo, Aak!" balas Dewi yang sewot.
"Yey, butut tapi lo pengen numpang tuh!" balas Asep tak terima.
Aku tertawa kemudian beralih pada Lasmi. "Las, elo kosong, kan? tumpangin nih, bocah satu. Gue sama Aak Asep kan satu arah, jadi mending gue yang nebeng dia," kataku.
"Ya jelas mau dong, mending elo ke mana-manalah Osy!" sahut Asep.
"Hahaha bener juga lo Aak!" ucap Lasmi.
"s**l lo malah ngetawain gue, tompel!" ucap Dewi kepada Lasmi yang memiliki tompel di atas bibir sambil mendorong kepala Lasmi ketika dia menaiki boncengan motor Lasmi.
"Nggak tau diri banget nih orang, udah numpang pake ngomel segala lagi," omel Lasmi.
"Ye untung gue mau numpang sama lo!" balas Dewi.
"Udah Aak, kita jalan aja, nungguin emaknya tuyul berdua itu sampe pagi juga nggak bakal selesai," kataku sambil menepuk pundak Asep yang kemudian melajukan motornya dan disusul oleh Lasmi yang membawa motor Legenda bebeknya.
"Wwk... motor butut...!" ejek Dewi.
"Eh dasar cabe keriting!" balas Asep.
Aku hanya bisa tertawa di balik punggung Asep. Asal kalian tahu, Asep menjuluki Dewi cabe keriting karena mulutnya pedas dan rambutnya keriting.
Hahahaha...!
- - - - - - - - - - - - * * * - - - - - - - - - - - -