Bab 7

1242 Kata
Kemudian aku fokus kembali, membaca laporan yang Pak Hartono berikan. Saat aku sedang duduk di kursi Direktur Utama, sambil asyik membaca laporan kantor. Ada orang yang masuk, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Ternyata itu adalah Mas Reno, aku tahu karena aku melihat dari pantulan lemari kaca, yang menghadap ke arah pintu tersebut. Mas Reno pastinya tidak tahu, kalau aku ada diruangan ini. Karena semua ini sudah di setting oleh Pak Hartono. Makanya ia langsung slonong boy saja masuk, tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam. Aku sebenarnya emosi, melihat dia yang tidak beretika seperti itu. Apalagi melihat dia, yang baru datang ke kantor, padahal sudah telat. Bagaimana mau mengelola perusahaan dengan baik? Kalau dianya saja masuk kantornya seenak sendiri. Pantas jika ada karyawan yang selalu datang terlambat, sebab ia mencontoh kebiasaan pemimpinnya yang selalu datang terlambat. Jadinya pantas tidak ada kedisiplinan yang tertanam, sebab pemimpinnya saja ngasal begini. "Heh, siapa kamu? Kok kurang ajar sekali ya, berani-beraninya kamu duduk di kursi kebesaranku!" bentak Mas Reno. "Maaf, Pak Reno, ada apa ini, kok ribut-ribut begini?" tanya Pak Hartono, yang ternyata sudah berada di belakang Mas Reno. Aku hanya melihat percakapan mereka berdua, dari pantulan lemari kaca tersebut. Tanpa mau melihat langsung ke arah mereka. Sengaja aku tidak bersuara, sebab ingin sikap Mas Reno selanjutnya. "Pak Tono, bagaimana aku tidak ribut coba, kalau kursi kebesaranku di duduki oleh orang lain. Lagian ya, kok bisa ada orang yang masuk ke dalam ruanganku, tetapi kalian diam saja. Apa kalian semua tidak ada yang melihatnya? Jika seperti itu, maka aku akan memecat semua karyawan kantor ini, dengan alasan lalai bekerja," ancamnya. "Siapa pun yang akan memecat karyawan kantor ini, maka harus berhadapan denganku," tantangku. "Lagian ya, yang seharusnya dipecat itu kamu, Mas. Masa iya orang kerja jam segini baru datang?" Ujarku kemudian. Aku menantang Mas Reno, sebab dia sudah mau berani memecat karyawanku yang tidak bersalah. Aku juga men-skakmat Mas Reno, supaya ia tau diri dan jangan asal bicara. "Lho, Mila, kok kamu ada di sini sih? Kamu sedang apa?" tanya Mas Reno dengan ekspresi wajah yang begitu kaget. "Memangnya kenapa, Mas? Apa ada yang salah, kalau aku ada di kantor ini dan duduk di kursi ini?" tanyaku balik. "Kamu harus ingat ya, Mas. Kalau aku ini adalah pemilik perusahaan ini. Jadi aku juga berhak, mau kapan pun aku berada di sini," tegasku. Mas Reno tidak menjawab perkataanku lagi, tetapi ia malah duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Sofa yang biasa dipakai untuk menerima tamu, sedangkan Pak Hartono pamit untuk kembali keruangannya. "Mila, kenapa kamu tidak bilang, kalau kamu akan datang ke perusahaan? Tau kamu akan datang ke Kantor, kenapa kamu tidak membangunkan aku tadi? Aku bertanya kepada Bi Ratih, katanya dia tidak tau. Aku kaget lho Mil, saat tau Bi Ratih ada di rumah kita. Aku kira dia mau macam-macam di sana. Tapi dia bilang disuruh kamu, buat kerja lagi di sana. Apa benar begitu, Mila?" tanya Mas Reno, sambil menatap wajahku dengan seksama. "Iya, Mas, memang aku yang menyuruh Bi Ratih untuk bekerja lagi. Kenapa, Mas? Apa kamu keberatan," tanyaku balik bertanya kepada suamiku tersebut. Aku balik bertanya, serta menatap wajahnya dengan tajam. sehingga mata kami saling bersitatap untuk beberapa menit, kemudian Mas Reno memalingkan wajahnya ke arah lain. "Bukanlah dulu aku melarangmu untuk memberhentikannya, kenapa sekarang malah memintanya kembali bekerja?" tanya Mas Reno Kemudian. "Aku memintanya kembali, sebab aku butuh orang yang mengurus rumahku. Lagian juga, seharusnya kamu tidak perlu ikut campur masalah ini. Mau aku mempekerjakan siapa pun di rumahku, itu urusan ku bukan urusan kamu, Mas. Dan kamu juga harus ingat, kalau selama ini bukan kamu kok, yang membayar gajinya. Tetapi aku, Mas. Jadi kamu tinggal diam dan jangan banyak berkomentar," sahutku. "Atau jangan-jangan, kamu punya rahasia yang diketahui Bi Ratih, ya Mas. Sehingga membuat kamu tidak menyukai kehadirannya," tudingku Aku sampai menuding Mas Reno, sebab aku merasa geram dengan kelakuannya, yang selalu seenaknya dan juga egois. Dia juga tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, membuat aku semakin jengah terhadapnya. "Kamu itu ngomong apa sih, Mila. Rahasia apa maksud kamu," tanya Mas Reno berkelit, tetapi ekspresi wajahnya berubah, tidak seperti tadi. "Ya aku nggak tau lah, Mas. Karena yang aku tuduh punya rahasia itu kan kamu, jadi hanya kamu dan Allah yang tahu, apa yang kamu lakukan dibelakangku." Aku menjawab pertanyaan suamiku, yang ternyata ia itu adalah benalu. "Udah ah, nggak jelas bicara sama kamu," ujarnya menghentikan perdebatan ini. Setelah itu ia mengeluarkan handphonenya, yang dia ambil dari dalam saku celana karena tiba-tiba handphone-nya berdering. Ia bukannya mengangkat teleponnya, tetapi malah melirik ke arahku. Mungkin ia risih denganku, sebab dari tadi aku tidak berhenti memperhatikan gerak-geriknya tersebut. "Mas, angkat dong teleponnya, kok kamu malah diam saja sih! Memangnya siapa yang menghubungimu?" tanyaku kepo. "Ini dari klien, Mila. Mas angkat teleponnya di luar ya. Soalnya kami akan membicarakan masalah kontrak kerja, yang dapat menguntungkan perusahaan ini," terangnya. "Kenapa nggak ngomong disini saja, Mas? Ngapain mesti keluar, toh aku nggak bakal ngerecokin kamu kok, saat kamu berbicara dengannya," desakku. Aku sengaja mendesaknya karena ingin tahu kejujuran suamiku tersebut. Lagian, jika memang itu benar dari klien, nggak mungkin dia harus menyingkir dulu, saat akan menerima telepon. Feeling aku mengatakan, kalau orang yang menelepon tersebut, adalah orang yang dia rahasiakan jati dirinya. "Terserah kamu lah, Mila. Kamu mau berpikir seperti apa juga tentangku, aku nggak peduli," ujarnya, kemudian ia pergi begitu saja. Tas kerjanya pun kembali ia bawa. "Mas, kamu mau kemana?" tanyaku. "Kamu nggak perlu tau kemana aku akan pergi, aku malas bicara sama kamu karena selalu kamu curigai," sahutnya tanpa mau melihatku lagi. Setelah Mas Reno keluar, aku pun segera menelepon Pak Hartono. Aku memintanya, supaya ada yang membuntuti Mas Reno kemanapun dia pergi. Aku memintanya kepada Pak Hartono, supaya memakai jasa orang luar, sebab kalau orang kantor dia bisa curiga. Aku juga meminta dibuatkan vidio rekaman, supaya saat Mas Reno berbuat macam-macam dibelakangku, ia tidak akan bisa berkutik lagi. Karena Mas Reno tipe pria yang pandai berbohong. "Bagaimana, Pak Tono, apa semuanya sudah siap? tanyaku, meminta penjelasan. "Sudah, Bu," sahut Pak Hartono. "Syukurlah, kalau begitu, Pak. Tapi Bapak juga harus menegaskan kepada orangnya, supaya orang tersebut mengawasi Mas Reno dengan benar, ya Pak. Pokoknya kita jangan sampai kecolongan," pesanku. Pak Hartono pun mengiyakan ucapanku, kemudian ia pun pamit kepadaku untuk segera menyelesaikan tugasnya. "Mas, mungkin mulut kamu bisa ngeles, tetapi tidak dengan bukti. Lihat saja kamu, apa yang bisa aku lakukan nanti, jika kamu terbukti bersalah," lirihku, sambil menggebrak meja dengan kepalan tinju. Aku benar-besar sedang emosi saat ini, aku merasa tertipu dengan suami sendiri. Padahal dulu sebelum menikah, dia dan keluarganya itu begitu manis, baik ucapan dan juga sikapnya kepadaku. Tapi sekarang setelah menikah mereka itu seperti itu, mereka tidak pernah menghargaiku sama sekali. Mas Reno, yang katanya hanya mau mengangkat telepon dari klien. Ternyata sampai berjam-jam pun tidak muncul lagi ke dalam kantor, bahkan sampai kantor bubar. Beruntung aku menyuruh orang buat memata-matainya, jadi aku bisa fokus mengurus kerjaan yang terbengkalai dikantorku. *** "Non, apa aku boleh bercerita, tanya Bi Ratih. Ia datang menemuiku, serta bertanya kepadaku, saat aku sedang bersantai setelah makan malam. "Iya, Bi, silakan. Memangnya Bibi mau bercerita apa," tanyaku balik kepadanya. "Itu, Non, anu. Tapi maaf sebelumnya, jika apa yang mau Bibi sampaikan sama Non, akan melukai perasaan Non Mila," ucapnya lagi. Aku pun bertambah penasaran, dengan apa yang akan Bi Ratih bicarakan. Apalagi sebelum bicara, ia telah lebih dulu meminta maaf kepadaku. "Bi, ayo dong bercerita, jangan malah membuat aku penasaran begini," pintaku. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN