Kamar itu terkesan pengap, tidak ada cahaya karena jendela tertutup oleh gorden. Ruangan itu terkesan redup karena pemiliknya tidak menyalakan lampu, dan tidak ada penerang sama sekali. Air mata mengalir seperti anak sungai di pipi wanita itu. Nafasnya sesak dibalik seragam putih abu-abu yang masih melekat, ditambah efek panik yang menyerang tubuhnya. Ditangannya sudah dipenuhi noda darah, akibatan sayatan-sayatan halus berbentuk barcode. Apa yang ia lakukan, murni sudah diluar kendali dirinya. Terlintas di fikirannya, mengaapa ia begitu bodoh? kehidupannya cukup sempurna. Ia memiliki orang tua yang mendukung dirinya, dan ia menjadi satu-satunya anak tunggal yang sangat disayangi. Tapi, itu tidak cukup membuatnya bahagia. Ketika pria yang sangat ia cintai memintanya untuk mengakhiri hu

