Olive merasa dunia begitu kecil baginya. Entah itu sebuah kebetulan, atau memang seperti inilah jalan yang harus ia lalui. Namun jika yang yang sama sudah terjadi berulang kali, tanpa sebuah rencana di awal. Bukankah itu artinya hal itu bukan sebuah kebetulan lagi. Bukan hanya kelopak mata Olive yang membundar, mulutnya juga membentuk huruf O sebagai rasangan tercengang yang ia rasakan saat ini. Matanya menyisir dari ujung kaki hingga kepala seorang wanita yang sedang berjalan santai menuju ke arahnya. Penampilan wanita itu berbeda dari yang pernah Olive lihat sebelumnya. Outfit yang terkesan simple, hanya mengenakkan hot pants yang panjangnya diatas lutut, dan baju kaos hitam yang dibalut jaket denim oversize. “Oh!” wanita itu menunjuk Olive ketika sudah sampai di meja, mereka salin

