"Turun kataku," ujar Erlangga kesal. "Tapi, kenapa?" Anindita masih bersikukuh duduk tanpa dosa. Erlangga segera mengangkat kaki kanannya melewati punggung si hitam, dan turun dengan segera. "Kau tunggu di sini, aku akan mencari Gending. Si Hitam sudah tidak kuat membawa kita berdua," ujarnya sebelum pergi berjalan kaki meninggalkan Anindita. "Lang, tunggu!" Anindita berusaha melakukan si hitam, tapi kuda itu tak bergerak. Dia patuh pada tuannya. "Lang! Kau mau ke mana? Tunggu Lang!" Teriakan Anindita itu tidak digubris oleh Erlangga. Pria itu terus berjalan tanpa mengindahkan arah dan tujuan. Yang perlu dilakukannya sekarang adalah menjauh dari gadis itu dan meredakan gejolak yang dirasakannya. "Ini tidak mungkin terjadi," gerutunya kesal. Segera Erlangga duduk bersila, begitu me

