Di dalam mobil Alisha tak kuasa menahan tangis, tangisnya pecah begitu mengingat kembali masa lalunya.
"Non Alisha butuh sesuatu?" tanya sang sopir khawatir.
Alisha menggeleng lemah. "Tidak Pak, maaf saya hanya sedih mengingat kakak saya."
Sang sopir pun mengangguk mengerti, sedikit banyak dia sudah mendengar tentang keluarga Alisha dari Atta pembantu yang bekerja sudah hampir seperempat abad kepada Maria.
Drrrrt Drrrrt Drrrt
Ponsel Alisha berdering panjang tanda sebuah panggilan masuk. Alisha mengambil ponselnya melihat siapa yang menelponnya. Sebuah nomor telepon baru menelponnya berulang kali.
"Siapa?" batin Alisha.
Alisha menghela nafas dalam mencoba menenangkan dirinya sebelum akhirnya menggeser tombol gulir warna hijau pada layar ponselnya.
"Halo," sapa Alisha.
"Assalamualaikum, Alisha bisa ke ruang rapat sebentar? Ada sesuatu yang penting yang perlu didiskusikan mumpung ketua panitia dan anggota lainnya masih di kampus." ucap seseorang dari seberang sana.
"Ini wajib ya kak?" tanya Alisha mencoba bernegosiasi.
"Untuk panitia inti wajib Sha," jawabnya.
Alisha menghembuskan nafas kasar. "Baik kak, saya akan segera ke sana."
Alisha memasukkan ponselnya kembali, dengan berat hati ia meminta sang sopir untuk kembali ke kampus.
"Pak, tolong putar balik ke kampus ya," pinta Alisha santun.
"Non Alisha masih ada kelas lagi?" tanya sang sopir heran.
"Tidak," jawabnya singkat. "Ma-maksudnya Alisha tidak ada kelas Pak, ada kepentingan lain," jelas Alisha kemudian.
"Oh begitu, baik Non."
Hanya sepersekian menit saja mobil yang Alisha tumpangi kini sudah berada di depan kampus lagi. Alisha mengambil sesuatu dari tasnya. Ia membuka benda tersebut lalu memeriksa penampilan wajahnya.
"Huhhh...." Alisha menghembuskan nafas kasar sebelum ia memutuskan untuk turun dari mobil.
"Pak, tungguin Alisha ya. Alisha hanya sebentar kok," ucap Alisha kepada sang sopir.
"Baik, Non."
Alisha melangkahkan kaki cepat menuju dalam kampus, ia menambah kecepatan langkahnya menjadi setengah berlari menuju ruangan pertemuan.
"Semoga saja enggak telat," gumam Alisha.
"Hosssh hossssh," suara nafas Alisha terdengar jelas. Ia lantas mengetuk pintu ruangan yang sedikit terbuka itu. Ia bisa melihat dengan jelas jika semua panitia sudah berkumpul di sana.
Tok tok tok
"Masuk," seru sang wakil ketua.
"Maaf saya terlambat kak," ucap Alisha tak enak hati.
"Tak apa, segeralah duduk Sha," ucap wakil ketua.
"Bagi yang baru datang langsung menyimak saja ya," ucap wakil ketua.
"Baiklah sembari menunggu ketua panitia datang, saya akan melanjutkan kembali rapat kita."
Alisha duduk tenang menyimak presentasi di layar proyektor. Ia menyimak slide demi slide yang terpampang di depannya. Hatinya kembali bergejolak ketika melihat slide yang menampilkan gambar anak kecil menangis dan anak-anak kecil lainnya memegangi perut seperti menahan sakit. Bayangan Alisha kembali muncul dan percakapannya dengan Fira tadi kembali terngiang. Kali ini ia benar-benar sudah tidak tahan.
Alisha meminta ijin keluar lalu berlari menuju taman yang tak jauh dari ruangan tersebut. Kala itu suasana taman sepi,
Alisha duduk menyendiri di taman dengan tubuh yang bergetar ia mengambil obat dari dalam tas lalu meminumnya dengan tergesa. Ia mengorek ngorek isi tas mencari keberadaan poselnya lalu memutar sebuah mp3 lantunan ayat suci Al-Qur'an yang sengaja di putar dengan suara rendah ia tempelkan di daun telinga. Ia memejamkan mata sejenak menikmati ketenangan yang ia rasakan.
"Terimakasih Pak, saya permisi," ucap Adam kepada dosen pembimbingnya.
Adam berjalan cepat menuju ruang rapat, tanpa sengaja ia melihat sosok Alisha sedang duduk menyendiri dengan tubuh gemetar seperti ketakutan. Selanjutnya ia melihat meminum sebuah obat dan mengambil ponsel yang kemudian ia dekatkan pada telinganya. Entah apa yang Alisha dengar Adam pun tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Adam bergerak lebih mendekat, ia masih tetap mengawasi Alisha tapi kali ini Alisha sudah tak lagi gemetaran. Bisa Adam lihat dengan jelas Alisha tersenyum tipis dengan keadaan yang tenang. Adam yang melihatnya pun berasumsi jika Alisha tidak normal.
"Aneh, kenapa dia bisa seaneh itu?" ucap Adam heran.
Adam kemudian menggidikkan bahunya hendak membalikkan tubuhnya namun Alisha lebih dulu memergokinya.
"Hei, kamu ngapain di sana?" tanya Alisha curiga.
"Kamu liatin aku ya?" tuduh Alisha. Tanpa menjawab Adam pergi begitu saja meninggalkan Alisha yang masih diam di tempat. Adam menuju ruang rapat ia mengikuti rapat meski hanya beberapa menit saja.
"Ckk menyebalkan," batin Alisha.
Alisha mendengus kesal, ia kembali duduk dan mengatur nafasnya agar lebih tenang lalu memutuskan kembali ke ruang pertemuan namun ternyata rapat telah usai. Ia membuang muka melihat Adam yang berpapasan hendak keluar ruangan, pun dengan Adam yang tak menggubris Alisha sama sekali. Alisha berjalan menghampiri Fira yang terlihat sedang sibuk dengan tumpukan kertas di tangannya. Ia bertanya ada pengumuman apa. Fira pun menjelaskan jika lusa mereka akan mengadakan bakti sosial di perkampungan.
"Ohh gitu," ucap Alisha menanggapi penjelasan Fira.
Adam melajukan motor menuju bengkel tempat ia bekerja. Ia langsung mengerjakan beberapa mobil yang hendak di servis begitu sampai di bengkel, salah satunya adalah mobil atas nama William.
"Bagaimana ini mobil saya? kenapa masih belum jadi? Ini sudah hampir satu jam saya menunggu. Saya sedang buru-buru ini!" seru seorang pria paruh baya kepada Adam.
"Ahh... Iya Pak, maaf menunggu lama. Sebentar lagi selesai kok," ucap Adam santun.
"Cepet ya!" sahut pria bernama William itu.
"Baik, Pak."
Dengan cekatan Adam menyelesaikan servis mesin mobil William. Ia bahkan memberikan pelayan terbaik meski William membuatnya kesal.
Adam bercanda dengan salah seorang rekan kerjanya bernama Ibnu. Ia berkata jika ia tidak mau memiliki mertua yang tempramen seperti orang yang baru saja membuatnya kesal.
"Ckk, tidak sabaran banget sih bapak yang tadi," adu Adam kepada Ibnu.
"Siapa?" tanya Ibnu tak mengerti.
"Itu! yang itu," ucap Adam menunjuk William dengan dagunya.
"Oh Pak William? beliau memang begitu orangnya Dam, maklumlah orang kaya," tutur Ibnu sembari mengelap kaca mobil.
"Eh tapi beliau punya anak cantik lho Dam, jadi kamu harus baik sama beliau siapa tahu kan nanti dijadikan menantu, kan enak punya mertua tajir," goda Ibnu.
"Ckk amit-amit, jangan sampai aku punya mertua kaya begitu Nu," jawab Adam sembari mengelus d**a.
Ibnu terkikik geli mendengar ucapan Adam. "Hati-hati lho Dam jodoh," goda Ibnu lagi.
Adam pun hanya menanggapi dengan senyuman dan berlalu pergi. Pukul lima sore Adam pulang, seperti biasa ia harus sampai di rumah sebelum adzan magrib berkumandang.
"Assalamu'alaikum," ucap Adam yang baru saja tiba di rumah.
Tak ada jawaban, Adam pun bergegas mencari keberadaan sang ibu. Sayup-sayup ia mendengar sang bibi marah dari arah dapur, ia pun mempercepat langakah kakinya hendak melihat apa yang sedang terjadi.
"Heh! Siti bisa enggak sih kamu itu kalau kerja yang bener, nih liat jilbab aku masih ada nodanya. Kamu bisa nyuci enggak sih!" seru Mila yang di dengar Adam dengan jelas.
"Ini cuci lagi sampai bersih!" lanjut Mila sembari melempar jilbab itu kepada Siti.
Sementara itu ia melihat sang ibu hanya menunduk tak menjawab sepatah kata pun. Adam mengepal erat-erat tangannya. Hatinya panas melihat perlakuan sang bibi kepada ibunya.
Bersambung....