Lagi Lagi Kamu

958 Kata
"Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika itu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh." "Biar... biar Fira tau. Ibu akan menyuruh Yusuf pergi dan menceraikan Fira jika Yusuf terbukti bersalah. Ibu gak mau nama baik kita tercemar karena ulah Yusuf Yah." "Kamu juga, ingat itu Fir!" ancam Mila. Pembicaraan Mila kian tak terarah. Ia bahkan mengungkit masalah perjodohan yang dulu sempat ia tawarkan kepada putrinya itu. "Kalau saja dulu kamu nurut sama ibu dan gak menikah sama Yusuf gak akan kamu seperti ini." "Bu, sudahlah jangan seperti itu terus kasihan Fira," ucap Ilham mencoba menghentikan ucapan sang istri. Bukannya membuat tenang putrinya Mila justru membuat Fira semakin tertekan. Fira hanya diam menahan setiap ancaman serta kecaman sang ibu yang ditujukan kepada Yusuf. "Fir, sebaiknya bapak sama ibu pulang saja ya. Kamu yang sabar. Kita tunggu bagaimana keputusan polisi besok," ucap Ilham yang tak mau sang putri semakin bersedih karena mendengar ucapan Mila. "Iya, Pak" ucap Fira sembari menganggukkan kepala kecil. Usai kepergian kedua orang tuanya Fira memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mengambil wudhu dan berdo'a. "Sebaiknya aku sholat dan berdoa saja," batin Fira. Keesokan harinya, Alisha sudah rapi hendak pergi ke kampus, sang ibu berpesan agar Alisha segera pulang karena sore nanti adalah jadwal Alisha untuk ke pskiater. "Sudah mau berangkat, Sayang?" tanya Maria kepada sang putri yang menuruni anak tangga. Alisha mengangguk kecil sebagi jawaban sang ibu. "Iya Ma, ada kuis Sha buru-buru." "Hati-hati di jalan ya nak. Jangan lupa pulang cepat karena kamu harus ketemu dokter Fahri hari ini." "Iya Ma, Sha ingat kok. Sha pamit dulu ya,Ma. Bye Mama." Alisha melambaikan tangannya ke arah sang ibu. Alisha berjalan cepat menuju mobil yang akan mengantarkannya pergi ke kampus. "Pak, antarkan saya ke kampus ya." ucap Alisha yang diangguki oleh sang sopir. "Baik, Non." Sang sopir berlari keluar lalu membukakan pintu mobil untuk Alisha. "Silahkan, Non." "Terimakasih, Pak. Oh iya bapak pulang saja nanti kalau sudah selesai saya kabari bapak." "Baik, Non." Sesampainya di kampus Alisha langsung berjalan menuju kelasnya. Suasana masih terlihat sepi hanya ada beberapa orang saja yang terlihat berlalu lalang di sekitarnya. Alisha memilih duduk di tempat duduk yang biasa ia tempati sembari membaca buku materi untuk kuis pagi ini. Selang beberapa menit seseorang berhijab panjang juga masuk ke dalam kelas. Dengan wajah pucat dan mata nanar Fira duduk disamping Alisha. Alisha yang saat itu membaca buku pun segera menutup bukunya. Atensinya kini tertuju pada Fira. "Fira, kamu kenapa?" tanya Alisha heran. Fira malah menangis sesenggukan namun masih enggan menjawab pertanyaan Alisha yang membuat Alisha semakin merasa heran. "Fir tenangin dirimu dulu," ucap Alisha mencoba menenangkan Fira. Setelah Fira sedikit tenang Alisha kembali bertanya mengapa ia sampai bersedih. Fira pun menjawab jika ia sedih karena sang suami dibawa ke kantor polisi. "APA? kok bisa?" tanya Alisha terkejut. "Mas Yusuf dituduh mengambil uang pelanggannya Sha," ucap Fira lirih. "Astaga." "Kamu yang sabar ya Fir, semoga masalahnya segera selesai dan Yusuf segera kembali Fir," ucap Alisha menghibur Fira. "Amin, terimasih Sha. Aku mau sholat dulu aja deh." Fira beranjak dari tempat duduknya hendak pergi ke masjid. "Sholat?" ulang Alisha. "Iya, mau berdoa supaya Mas Yusuf segera pulang," ucap Fira. "Hah! berdoa saja mana bisa membuat Yusuf mu itu pulang Fir," batin Alisha. "Aku temenin aja deh, mumpung masih lama kelasnya." "Boleh." Keduanya berjalan menuju masjid. Seperti biasa Alisha duduk di emperan masjid menunggu Fira yang masih sholat. "Tumben," batin Alisha yang saat itu tak mendengar suara Adam. "Kemana dia?" batinnya lagi, kali ini Alisha berdiri dan mengintip ke dalam. Alisha menghembuskan nafasnya kasar tak melihat sosok yang ia cari di dalam masjid. Ada sedikit rasa kecewa tak bisa mendengar suara Adam saat itu. "Kamu kenapa Sha?" tanya Fira yang melihat wajah Alisha tertekuk. "Ahh tidak, tak apa Fir. Hanya merasa sedih saja ingat cerita kamu tadi," elak Alisha. *** Dilain tempat, Adam sengaja tidak pergi ke kampus ia fokus untuk membantu Yusuf. Adam berusaha mencari bukti untuk membebaskan Yusuf. Dimulai dari memeriksa CCTV kantor serta bengkel Yusuf. Lalu berbicara dari hati ke hati dengan pelanggan yang kehilangan uang. Dari bukti CCTV Adam memperoleh bukti jika bukan hanya Yusuf dan karyawannya yang masuk ke dalam mobil tersebut. Akan tetapi ada seseorang yang Adam tidak kenal masuk ke dalam mobil dan pergi dengan tergesa-gesa. Adam menjadikan itu ma bagai barang bukti ditambah lagi dengan pengakuan Ibnu yang berkata jika ada seseorang masuk ke dalam mobil tersebut dan mengaku jika utusan Pak Yudha untuk mengecek mobil. Adam menyerahkan bukti-bukti yang ia dapat kepada polisi. Dan polisi pun memanggil serta Yudha untuk datang mendengar kesaksian-kesaksian dan melihat barang bukti. Yudha yang melihat rekaman itu pun tahu siapa yang mengambil uangnya. Ia pun meminta polisi membebaskan Yusuf serta meminta maaf kepada Yusuf atas kecerobohannya telah terhasut sehingga menuduh Yusuf. Yusuf keluar dan terbukti tak bersalah. Ia sangat berterimakasih kepada Adam berkat Adam dirinya bisa segera keluar dari tahanan. "Bang, terimakasih banyak ya. Yusuf tidak tahu harus bagaimana membalas jasa Abang." "Sama-sama, Suf. Kita kan saudara jadi sudah sepatutnya kita saling membantu." Adam mengantar Yusuf pulang. Setelah itu ia pergi ke kampus untuk memberi kejutan kepada sang istri. Yusuf menunggu Fira di depan kelasnya. Ia tidak sabar melihat ekspresi sang istri ketika melihat kedatangannya. "Mas Yusuf," seru Fira terkejut. "Sayang," panggil Yusuf berjalan mendekati sang istri. "Mas, Fira seneng banget lihat Mas Yusuf sudah di sini." "Iya ini semua berkat bantuan Bang Adam. Bang Adam yang sudah kasih bukti-bukti ke polisi yang buat Mas bisa bebas," jelas Yusuf. "Alhamdulillah. Bang Adam memang terbaik. Fira harus mengucapkan terimakasih sama Bang Adam, Mas." "Iya, Sayang." Alisha yang saat itu berada di dekat Fira pun kagum mendengar kebaikan hati Adam. Seketika ia teringat jawaban Adam saat menolongnya dulu. Ia benar-benar kagum dengan Adam sekarang. "Adam," ucapnya di dalam hati sembari tersenyum tipis. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN