Rencana bulan madu pasangan kontroversi di Lembang itu akhirnya terlaksana juga satu minggu kemudian sesuai dengan tiket yang sudah dipesan oleh Gerrald. Bersama Kara Gerrald bergandengan tangan menuju Bandara yang akan mengantarkan mereka ke Labuan bajo. Disana dia sudah memesan penginapan yang langsung ada kolam renang dan viewnya menghadap ke laut lepas.
Banyak sekali tempat wisata yang akan mereka berdua jelajahi di Labuan Bajo nanti. Snorkeling, pesta kuliner dan menikmati keindahan goa-goa disana. Gerrald tetap akan mengidolakan satu goa, goa pink muda yang punya daya hisap dan denyut yang bikin Rambo jadi mabuk kepayang. Itu goa tertutup dan cuma dia yang punya tiket masuk.
"Makasih ya, Mas Gerrald udah ajak aku ke sini." Kara mengalungkan lengannya di leher Gerrald setibanya mereka di Labuan Bajo.
"Kamu suka kan?"
"Tentu aja, aku udah lama pengen kesini, tapi belum sempat dan hari ini aku bisa kesini sama kamu."
"Ya udah kiss dulu dong."
Cap cup cap cup, udah mulai pemanasan aja. Tahan dulu ya Bang, kita nikmatin dulu alam indah yang sudah ditawarkan oleh Labuan Bajo dan semua panorama alamnya yang memukau pandangan mata.
Berjalan di pinggir pasir yang berwarna ke pink-pink-an, Kara dan Gerrald banyak mengabadikan moment mereka berdua dalam bentuk foto-foto mesra yang mengundang baper para cabe kering.
"Waw, aku gak sabar pengen snorkeling." Kara segera mengajak Gerrald untuk menyelami laut dan berenang bersama ikan-ikan.
Istrinya cuma pake baju super seksi bikin Gerrald jadi gak konsen berenang. Dia jadi pengen berenang di atas kasur, pake gaya baru yang wajib dicoba oleh mereka berdua.
"Mas, nanti kita kemana lagi, oh iya ada goa buaya juga disini, aku pengen kesana."
Tancap aja pokoknya selagi masih siang menjelang sore, Gerrald bakal turutin semua kepengennya kanjeng bini. Mau kemana aja pokoknya dia jabanin, demi kelancaran pertemuan indah antara Dolly dan Rambo nanti malam dan malam-malam selanjutnya.
"Kamu bahagia banget, aku jadi makin sayang."
Ceileh, mentang-mentang lagi bucin, kang sapi sekarang pinter banget ngegombal. Kara jadi sering melayang tinggi dibuat oleh suaminya itu. Udahlah ganteng, kaya, punya rambo segede ehem, terus pintar pula bikin terlena. Mau berapa ronde Abang? Aku jabanin sampe lemes. Kata Kara dalam hatinya kegirangan.
Malamnya mereka melanjutkan sesi wisata kuliner yang disajikan di sekitaran tempat mereka menginap, tak jauh dari pantai yang ombaknya sudah tenang.
Sebagian dari pengunjung lain memutar musik dan mereka mulai berdansa juga bergoyang.
Kara dan Gerrald jadi pasangan paling hot banget. Juragan sapi rupanya bikin pengunjung lain jadi gigit jari lihat tubuh atletis terawat dan juga wangi itu.
"Sisi, sudah berapa lama menikah?" tanya salah satu pengunjung yang rambutnya keriting kayak mie sedap.
"Baru menuju tiga bulan, Sist," sahut Kara ramah.
"Kalian cocok sekali, bibitnya pasti bagus."
"Wah Sist bisa saja." Kara cuma tertawa kecil. Dia gak ngerti bibit apa yang dimaksud oleh perempuan itu. Kalau bibit bunga tai ayam banyak banget di sekitaran vilanya. Sampai sekarang Kara gak ngerti kenapa itu bunga cantik dikasih nama tahi ayam, udah bagus banget warnanya kuning malah dikasih nama tahi ayam. Kenapa gak tahi cicak aja? Biar lebih punya seni. Gak ngerti juga seninya tai cicak itu dimana, bentuknya aja lonjong item terus ada mayonaise putih seuprit, entah dimana sisi seninya. Apaan sih, segala tai cicak dibawa-bawa!
Jadi bibit yang dimaksud oleh mbaknya tadi adalah perpaduan antara Kara dan Gerrald itu loh. Mereka kalau punya anak pasti perfecto banget ntar.
"Jadi gak sabar pengen bikin," bisik Gerrald sambil memeluk istrinya dari belakang. Pada mupeng dah itu para perempuan lihat kemesraan mereka berdua.
Labuan bajo memang luar biasa. Wisatanya, penduduknya, kondisi alamnya, para pengunjung lain juga sederet hal-hal luar biasa lainnya. Tapi yang paling luar biasa adalah Kara juga Gerrald yang udah gak bisa menahan lagi suara mereka. Jangan kebanyakan traveling, cuma mau kasih tahu kalo sekarang mereka lagi menempel dengan sempurna.
"Aku yakin kamu gak lama lagi pasti hamil," bisik Gerrald sesaat sebelum ia menyemburkan bisa ular yang udah nyembur entah berapa kali. Kalau gak jadi mah keterlaluan, udah meluber kayak chocolava begitu.
***
Jadi udah tiga nih ya pasangan hits masa kini liburan bulan madu di Labuan Bajo. Mereka udah menjelajahi tempat-tempat wisata yang ada di sana. Mereka juga udah mencoba berbagai masakan kuliner khas laut yang terdiri dari seafood sejenis kerang-kerangan, siput-siputan, kepiting dan juga udang berbagai macam bentuk dan rupa-rupa. Dari udang yang paling kecil sampai yang paling gede juga yang suka ngumpet dibalik batu gak ketinggalan mereka ciduk buat muasin perut.
Kara jadi wanita paling bahagia seantero barisan istri. Gimana enggak, setiap hari, Gerrald akan menghujaninya dengan banyak cinta juga pujian. Gak ada lagi adegan Gerrald kesal sama Kara, terus bilang 'Dasar nakal' kalo Kara mulai seksi. Malah slogan dia sekarang udah ganti jadi 'Ayo nakal'.
Aktif ya bund bapaknya sapi. Mereka udah bucin kronis. Parah banget bucinnya sampe nempel terus kayak lem besi. Gerrald seolah telah menemukan cinta sejatinya, sedang Kara juga merasa telah menikah dengan pria yang tepat. Jadi klop ya, gak ada cerita lagi keduanya sering berantem segala macem. Mereka udah kompak dalam bercinta.
"Kamu pengen punya anak berapa?" tanya Kara pada suaminya kala mereka sedang teler angin pantai dengan saling bersandar satu sama lain di pinggir pohon kelapa.
"Terserah, kalau Tuhan mau kasih lebih dari satu, itu lebih bagus," jawab Gerrald sambil tersenyum.
"Aku juga, terserah Tuhan yang penting kita bisa kasih cucu buat kedua orangtua."
"Mami itu udah lama banget pengen nimang cucu." Gerrald ketawa lagi.
"Kita pasti bisa kasih itu buat mereka."
"Nanti kalau anak kita lahir, pasti cakep-cakep deh, kamu kan turunan bule."
"Iya, kamu juga bule, nih rambutnya pirang begini."
"Iya, aku bule kesasar!" Kara ketawa sampe keselek permen kojek.
Diam sesaat habis itu, berasa kayak lagi nonton film yang ada adegan siaran lagi macet karena kehilangan sinyal membandel.
"Ehmmmmm, aku boleh tanya satu hal gak sama kamu?" tanya Gerrald akhirnya. Tiba-tiba aja dia jadi serius banget. Kara jadi deg-degan.
"Boleh kok."
"Bener gak sih kamu pernah gagal menikah?"
Kara mengalihkan pandangannya jauh banget seolah sedang mengenang hari tragis dimana mempelai prianya tak datang.
"Iya, semua yang kamu dengar tentang aku itu benar kok. Aku memang pernah ditinggalkan calon suami di hari pernikahan kami." Kara berusaha tersenyum dan tetap tenang setiap ingat kenangan pahit itu.
"Gak papa, kan udah ada aku." Gerrald meraih lagi kepala istrinya lalu meletakkannya lembut di bahunya yang kokoh. Kokoh banget, pokoknya dipake buat sandaran kayak lagi syuting film india kayaknya nyaman banget.
"Mas, kamu beneran kan, gak ada perasaan apapun lagi sama Stevi?" tanya Kara pelan.
Gerrald menarik nafas lalu mengangguk. Memang susah membuat makhluk bermarga perempuan ini percaya.
"Kamu harus percaya aku."
"Iya, aku percaya kok."
Gerrald kemudian mengajak Kara berganti baju karena hari sudah senja. Mereka tidak akan kemana-mana, hanya ingin menghabiskan waktu berdua di dalam penginapan karena mereka sudah sangat puas sudah menjelajahi banyak tempat wisata di Labuan Bajo kemarin.
"Kita pesan makanan aja ya. Makan di dalam ini aja."
Kara mengangguk, dia memang lagi pengen di dalam penginapan saja. Mau rebahan dan bermanja dengan suaminya di dalam kamar. Lagipula, dia beneran ngantuk.
Ya gimana enggak ngantuk coba, tiap hari ditunggangin terus, belum lagi kegiatan mereka menjelajahi tempat wisata di sana yang gak pake berhenti. Enggak pengkol itu pinggang juga bagus.
"Aku pengen tidur habis ini, boleh ya Mas."
Gerrald mengangguk, dia gak akan tega membiarkan istrinya terlalu kecapean. Akhirnya setelah menyelesaikan makan malam, Kara tidur duluan dengan wajah tenang.
Gerrald menyelimuti istrinya, dia sendiri belum bisa tidur dan memilih menonton televisi saja dulu sampai kantuk datang menyerang. Sesekali dia memandang Kara yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Kalau dipikir-pikir, cerita dia sama Kara tuh unik banget. Diawali dengan saling ejek dan malah akhirnya dinikahkan karena digrebek warga.
Di Labuan Bajo Kara dan Gerrald bahagia, mereka gak tahu aja sekarang di Lembang Kara udah ditungguin sama bapaknya kutu loncat. Rama datang ke lembang dengan maksud ingin kembali menikahi Kara.
Dasar gak ada akhlak dan gak ada otak, seenak jidat ninggalin anak orang pas acara nikahan eh sekarang malah dateng lagi dengan wajah lugu-lugu b******k! Gak dijejelin pake tainya Minnie masih bagus!