“Alhamdulillah Senja sangat baik, Mil. Dia benar-benar membawa berkah, rumahku jadi tambah rame sejak ada Senja, jadi lebih berwarna.” Aku melirik Ummi yang memuji menantunya setinggi langit, apa beliau tidak tahu bahwa putra kesayangannya ini tersiksa batinnya karena punya istri tengil seperti Senja?
Ummi yang saat ini sedang video call dengan Mama Karmila juga melirikku. Sebenarnya, ibu mertuaku adalah wanita yang sangat anggun dan lemah lembut, tapi entah bagaimana dia bisa melahirkan gadis bar-bar penguji mental seperti Senja.
“Doakan ya, Mil. Semoga kita segera bisa menimang cucu," ucap Ummi sambil mengedipkan mata padaku.
“Bukannya cucu Ummi sudah banyak?” Senja yang baru datang menginterupsi, bahkan kini dia bergelanyut manja di punggung Ummi seperti anak kecil, melingkarkan lengannya di leher Ummi dan meletakkan dagunya di pundak Ummi. Ya Tuhan, aku yang anak kandungnya tidak pernah bermanja ria seperti itu.
“Mama!” teriak Senja sambil melambaikan tangan di depan ponsel Ummi.
“Kamu betah di sana, Sayang?” Kudengar suara Mama Karmila sangat lembut, sangat jauh berbeda dengan suara Senja yang menggelegar hingga membuat telingaku sakit.
“Betah, Ma. Di sini banyak orang setiap hari.”
“Alhamdulillah kalau begitu, kamu harus jadi menantu dan istri yang baik ya, Nak.”
Senja mengangguk dengan senyum lebar yang mengembang sempurna di bibirnya, membuatku hanya bisa tersenyum miring. Memangnya dia bisa menjadi istri yang baik?
“Senja juga harus belajar memasak ya, Nak. Biar bisa masakin suami."
“Nggak mau ah, Ma. Di dapur selalu banyak makanan juga kok, kalau lapar bisa langsung makan.”
Lihat! Lihatlah bagaimana Senja Asyifa itu melawan ucapan ibunya. Astaghfirullah. Aku penasaran, apakah saraf di otaknya juga bermasalah selain jantungnya?
“Di sini sudah ada yang memasak, Mil. Jadi Senja benar, makanan selalu siap sedia di dapur," kata Ummi yang sudah pasti akan selalu memihak menantunya.
“Maksudku biar Senja belajar menjadi istri yang baik dan bisa menyenangkan suaminya, Mbak.”
“Aku sudah senang meskipun Senja nggak masak, Ma.” Aku segera menyahut sembari menarik Senja dari punggung Ummi. “Asalkan Senjaa patuh padaku, itu sudah lebih dari cukup untukku.”
“Masyaallah, Maher. Kamu benar-benar imam idaman setiap para wanita.” Aku menyunggingkan senyum tipis mendengar pujian ibu mertuaku.
“Imam idaman apaan, Ma?” ketus Senja yang seketika membuatku mendelik. “Mending Gus Izzat, dia lebih idaman lagi, nggak ganas kayak gus singa.”
“Senja!” tegur Mama Karmila, sementara aku hanya bisa mengelus d**a, beda halnya dengan Ummi yang justru terkekeh, sangat tidak peka dengan perasaanku yang bergemuruh karena cemburu.
“Ya udah, Ma. Aku mau tidur dulu!” seru Senja. “Bye bye, Mama!”
“Sen_”
Tak terselematkan lagi, Senja langsung mengakhiri panggilan secara sepihak, membuatku dan Ummi hanya bisa melongo.
“Nggak sopan!” tegurku. “Minimal ucap salam dulu sebelum mengakhiri panggilan apalagi sama orang tua, Senja.”
“Aku lupa.” Senja cengengesan, setelah itu bergegas ke kamar sambil melompat-lompat riang, persis sepert anak kecil.
“Tingkah Senja tengil sekali, Ummi,” lirihku mengadu pada Ummi. “Kadang aku sampai malu pada santri dan guru-guru, sikapnya selalu seperti itu di mana pun dia berada. Padahal aku sudah menasihatinya berulang kali, tapi ucapanku sepertinya masuk telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiri."
“Kamu tahu sendiri masa kecil Senja itu sangat berbeda dari anak-anak yang lain, Maher,” tands Ummi. “Jadi wajar saja kalau sekarang dia bertingkah seperti anak-anak, dia pasti merasa sangat bebas karena selama bertahun-tahun hidup terisolasi. Kamu harus maklum dan biarkan saja asalkan Senja bahagia."
“Iya, Ummi. Aku mengerti.” Aku hanya bisa mengangguk, setuju dengan apa yang Ummi katakan. “Baiklah, Ummi. Aku ke kamar dulu." Aku mengambil dua permen dari atas meja sebelum bergegas ke kamar.
Sesampainya di kamar, kulihat Senja yang guling-guling di ranjang, sibuk dengan ponselnya bahkan dia bersenandung ria.
“Astaghfirullah!” Aku langsung mengalihkan pandangan saat menyadari Senja hanya memakai crop top sehingga perutnya yang tipis terekspos, Senja memakai celana jeans pendek yang bahkan mungkin tak sampai sejengkal.
Hidup di luar negeri dalam waktu yang lama dan tidak memiliki pengetahuan yang dalam tentang agama tampaknya membuat Senja tak pernah memikirkan tentang aurat. Saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia juga memakai crop top berwarna putih dan rok pendek berwarna senada, memakai sepatu tanpa kaus kaki dan rambutnya terurai bebas.
Namun, tentu gaya pakaiannya harus berubah ketika aku sudah menikahinya apalagi kami hidup di lingkungan pesantren, di mana bahkan tak ada satu pun santri atau wanita yang memakai celana di sini. Semuanya memakai gamis atau rok, yang pasti tidak boleh menunjukkan lekuk tubuhnya.
Di sini, wanita harus menjaga penampilan dan pria menjaga mata.
Awalnya, Senja selalu mengeluh saat aku memaksanya memakai gamis. Katanya ribet, panas dan seribu satu alasan lainnya. Namun, aku membelikan gamis dengan kain yang bagus sehingga nyaman di pakai. Dia mau, tetapi hanya saat keluar rumah. Saat di dalam rumah, terutama di kamar, dia akan berpakaian sesuka hati.
Tentu saja aku setuju karena di dalam kamar ini hanya ada aku, yang sangat berhak menikmati kecantikannya bahkan itu akan menjadi pahala besar untuk kami.
Aku duduk di kursi dekat jendela, di mana ada meja dan lemari yang berisi kitab-kitabku, di sinilah tempatku belajar atau mengkaji ulang apa yang sudah aku pelajari.
Saat aku hendak memasukkan permen yang kubawa ke dalam mulutku, tiba-tiba Senja datang dan menyergapnya dalam satu gerakan, membuatku terkejut karena benar-benar tidak menyadari kehadirannya.
“Astaghfirullah!” Entah sudah ke berapa kalinya hari ini aku harus beritighfar karena kelakuan Senja. “Nggak sopan, Senja. Kalau mau, minta baik-baik, jangan langsung di sergap kayak gitu.”
“Kata Abi, semua milik suami adalah milik istri. Kalau sudah menjadi milik istri, kenapa masih harus diminta?" Senja duduk di atas meja dengan santainya, membuatku melotot marah.
“Turun, Senja!” perintahku tapi tak dihiraukan. “Ini tempat kitab-kitab, Senja Asyifa. Kamu tidak boleh duduk di meja!” geramku tapi Senja justru menyilangkan kedua kakinya sambil mesem-mesem. “Apa kamu nggak bisa nurut kata suami sekaliiii saja.” Aku langsung menyelipkan kedua tanganku di bawah ketiak Senja, kemudian mengangkat istriku dan menurunkannya dari meja.
Namun, Senja kembali naik ke atas meja. Sekali lagi aku menurunkannya, tetapi lagi dan lagi dia kembali duduk di atas meja sambil cekikikan.
“Sabar, Maher! Sabar!”
“Kamu senang sekali membuatku kesal, huh?” Sekali lagi aku menyelipkan kedua tangaku di bawah ketiaknya dan kali ini aku akan membawanya ke ranjang, aku berencana membungkusnya dalam selimut. Lagi pula, katanya dia mau tidur, kan?
Bukannya minta diturunkan, Senja justru menumpukan kedua tangannya di pundakku, dia berpegangan, sedangkan kedua kakinya dia goyang-goyangkan sambil tertawa.
Meski mulanya aku sungguh kesal, tetapi entah bagaimana sekarang hatiku menghangat dan tanpa sadar ikut tertawa karena Senja tampak sangat senang. Bahkan aku memperlambat langkahku agar tak segera mencampai ranjang.
“Kalau aku tidak pegangan, apa aku bisa jatuh, Gus?” tanyanya sambil menatap mataku.
Deg … deg … deg
Lagi-lagi jantungku berdegup kencang padahal hanya karena satu tatapan seperti ini. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban dan Senja langsung melepaskan tangannya, kemudian merentangkan kedua tangannya di udara sambil berteriak. “Aku terbang … aku terbang!"
Aku langsung terkekeh. Oh Tuhan, apakah sungguh sesederhana ini untuk membuat istriku bahagia?
“Senja ingin terbang?” tanyaku yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Senja. Aku pun membawanya berputar di kamar, memberikannya kebahagiaan dengan cara yang bahkan mungkin tak pernah terpikir olehnya. Aku membiarkan Senja tertawa senang sepuasnya, tak ada larangan seperti sewaktu dia masih kecil.
“Hu hu … aku terbang!” serunya sambil menengadah, tampaknya Senja sangat menikmati setiap detik yang dia rasakan sekarang. Dan aku juga sangat menikmatinya, aku menikmati bagaimana jantungku berdetak kencang, bagaimana dadaku berdebar dan aku menikmati kecantikan wajah Senja yang merona seperti langit senja.
“Emm, manis,” ucap Senja sambil menji lati bibirnya. Kini dia menunduk dan kembali berpegangan pada pundakku, kali ini wajahnya sangat dekat dengan wajahku hingga aku bisa merasakan aroma permen strawberry yang ada di mulutnya. Aku menatap matanya dengan intens, ada dorongan besar dalam jiwaku saat mataku menatap bibir ranumnya. Ada gelenyar hangat yang menyapa setiap saraf di tubuhku. Bolahkah … bolehkah aku menciumnya?
“Rasa strawberry, manisnya sampai terasa di bibirku," ocehnya tapi tak kuhiraukan. Yang ada di dalam otakku saat ini adalah bibir ranumnya, dia istriku tapi aku belum berani menyentuhnya padahal itu adalah pahala. Jika sekarang aku melakukannya, tidak apa-apa, kan?
Aku semakin mendekatkan jarak wajah kami, tetapi tiba-tiba terdengar suara benda jatuh sehingga kami berdua sama-sama menoleh pada sumber suara tersebut.
“Abi, Ummi?” gumamku saat melihat Abi dan Ummi berdiri di ambang pintu. Ah, tak hanya kedua orang tuaku, Kakakku dan suaminya juga di sana bahkan ada keponakanku, tetapi matanya ditutup oleh kakak iparku. Kulihat ada kresek hitam di bawah kakinya.
Mati aku!
“Maaf kami menganggu!” Abi langsung menutup pintu kamar sedangkan aku langsung menurunkan Senja.
“Tidur gih, tidur!” titahku karena panik.
Senja tampaknya tidak terkejut karena dipergoki oleh keluargaku dalam posisi seperti tadi, dia senyum-senyum dan melompat naik ke atas ranjang dengan girang. Padahal jantungku sudah hampir copot.
Segera aku berlari keluar kamar sambil memungut kresek yang mereka tinggalkan. Oh, rupanya itu adalah kue lapis kesukaan Senja. Mereka pasti datang untuk memberikannya, tetapi kenapa harus datang bersama-sama?
“Abi?” panggilku sambil mengejar Abi dan Ummi. Namun, bukannya berhenti dan menoleh, Abi dan Ummi justru mempercepat langkah mereka seakan ingin lari dariku.
“Mas Hamza?” Kini aku memanggil Kakak iparku, tetapi dia dan putranya juga berlari meninggalkanku.
“Mbak Hinnis?” Aku memanggil Kakak perempuanku, dia menoleh, membuatku langsung bernapas lega. “Mbak, itu tidak seperti yang kalian pikirkan,” kilahku. Namun, kakak perempuanku itu justru mengacungkan kedua jempolnya padaku sambil mengulum senyum penuh arti. Setelah itu dia berlari pergi mengikuti suaminya.
“Astaghfirullah, ada apa dengan mereka semua?”