Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah dedaunan membuat Theodoric memicingkan mata merasa silau. Ia juga tersadar, kalau para zombie yang telah ia buat membeku selama beberapa jam akan kembali bergerak seperti semula. Akan menyerang semua orang yang beraroma darah segar itu dengan agresif. Pasti keadaan di istana kepresidenan sekarang sedang kacau-kacaunya. Walau cemas sekarang, tapi Theodoric tidak ingin kembali ke sana. Ada banyak pertimbangan yang harus ia lakukan. Apalagi ingatannya tentang dirinya sendiri masih belum sepenuhnya pulih. “Kenapa kalian semua bisa berada di tempat ini? Bukannya kalian seharusnya di tempat pengungsingan sekarang?” Tanya Theodoric akhirnya membuka obrolan setelah sekian lama saling terdiam, hanya terdengar suara kunyahan mereka. “Temp

