BAB 35 Kasih hampir menjerit ketika merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya. Di antara rasa sadar dan tidak, Kasih mendorong tubuh yang terasa menindihnya. “Astagfirullah ….” Kasih memegang dadanya yang berdentum-dentum hebat. Dia duduk dengan kaki masih berselonjor. Evan yang terjungkal karena hilang keseimbangan menggaruk-garuk kepala. “Mas.” Kasih menatap Evan ketika kesadarannya telah berkumpul. “Kamu kenapa, sih? Teriak-teriak,” tukas Evan tanpa rasa bersalah. “Aku kira bukan kamu tadi! Astagfirullah ….” Kasih berulang kali mengatur napas. “Aku mau pindahin kamu ke atas, lagian kalau mau tidur ya di kamar,” tukas Evan seraya bangkit dan mengambil tas laptopnya. Dia berjalan begitu saja meninggalkan Kasih. Kasih mendengus pelan. Masih kesal dan kaget luar biasa. Dia perlahan m

