Minta Putus

1205 Kata
Bagai di sambar petir pada saat itu juga, Ravi merasa hari ini adalah hari terburuk dalam hidupnya. Julia berseru dalam tangisan nya, mempertanyakan tentang dirinya dan Seano. Seano sendiri terpaku, pria itu semakin pucat karena tidak mengira akan ada Julia di sana. Ravi memastikan kalau Julia sedang libur hari ini maka dari itu Seano berani berkunjung sebentar ke kantor Ravi karena jarak kantornya dekat dengan rumah sakit tempat nya melakukan pemeriksaan. Hati Seano mencelos, melihat Julia menangis seperti saat ia meninggal kan gadis itu. Pengecut kau Seano. Pria itu tidak mampu berkata apapun karena semua adalah kesalahannya, harusnya sejak awal ia memperkenalkan Ravi sebagai rekan nya. Kini Julia sudah menelan bulat semua yang di lihatnya. Ravi sendiri terlihat patah hati, pria itu mendekati Julia dan memohon pada gadis itu namun Julia langsung menepis tangan nya. "Bagaimana mungkin kalian melakukan ini padaku? Setelah Seano meninggalkan ku dan membuatku hancur, Ravi hadir seperti penyelamat tapi—kalian berteman baik? Apa maksudnya ini?" Suara gadis itu mulai purau, tangisannya tidak terhenti karena Seano tak mampu bicara sepatah katapun begitu juga Ravi. "Setelah mendapatkan ku apa kamu juga akan melakukan nya? Kalian berdua merencanakan aku sebagai bahan uji coba kisah cinta kalian?" Suaranya terdengar lagi, pertanyaan yang terus muncul tanpa mendapat jawaban. Ravi mendekat lagi, "kau salah paham Julia, tidak seperti itu! Aku tidak memiliki niat sedikitpun untuk meninggalkan mu!" "Lalu apa ini! Ternyata kamu kenal Seano yang jelas-jelas mengkhianati ku dan kamu bertindak seakan penolongku di saat aku rapuh," ucap Julia. Gadis itu memegangi dadanya yang semakin sesak, tidak terhitung seberapa banyak ia merindukan Seano dan memaksakan diri untuk melupakan nya. Mengubur semua kepedihan begitu dalam namun sekarang ia melihat kekasih barunya ternyata teman dari mantannya. Apa rasanya seperti di tusuk dari belakang? Tentu saja! Julia berpikir kalau Seano sengaja memutuskan nya karena ingin memberikan dirinya pada Ravi. "Aku sangat menyukaimu Julia—" "Cukup, Ravi." Suara Julia menjadi dingin, ia mendorong pria itu agar menjauh darinya. "Aku nggak mau lihat kamu lagi, aku nggak mau lihat kalian lagi seumur hidupku!" Gadis itu berlari meninggalkan Ravi yang terpaku menatapnya dalam kepedihan, sementara Seano masih diam di tempat dan tak mampu bersuara. Semua ini salahnya, sekarang Julia jadi membenci Ravi, harusnya sejak awal Seano memperkenalkan Ravi dengan baik kepada Julia. "Ravi maafkan aku... Semua ini salahku," ucap Seano akhirnya. Ravi menoleh padanya, "tidak sobat, kamu tidak salah, semua ini salahku. Caraku mendekatinya sejak awal itu salah, aku menyukai kekasih mu juga sudah sangat salah sampai kamu harus merelakan nya untukku." Seano menundukkan kepalanya, merasakan sesak di d**a. "Aku cuma nggak mau melukai Julia dan berharap kamu bisa menjadi cintanya yang baru, tapi sekarang aku malah melukainya berkali-kali lipat." "Uhukk, uhuuukk!" Seano batuk, hingga mengeluarkan darah membuat Ravi panik. Pria itu bingung sekarang, haruskah ia mengejar Julia atau mengantar kan dulu Seano kembali ke rumah sakit. "Cepat kejar Julia, Rav," ucap Seano, "aku bisa pergi ke rumah sakit sendiri.” "Tapi Seano—." "Julia lebih penting dari pada aku, jangan sampai kamu kehilangan dia." Ravi menghela napasnya dengan pasrah, kemudian ia segera masuk ke dalam mobilnya, untuk mengejar Julia. Ia berharap Julia mau mendengarkan penjelasan nya. ••••• Julia berlari tanpa arah hingga akhirnya ia sampai di sebuah taman yang sepi. Kakinya sudah lemas, dadanya sesak dan ia membutuhkan tempat untuk menangis. Ia merasa tertipu, pantas saja Ravi sudah mengetahui nama nya, pantas saja pria itu mengetahui banyak hal tentang dirinya. Semua karena Seano, mereka terlihat berteman dekat. Julia berusaha mengingat apakah ada momen dimana ia pernah bertemu dengan Ravi sebelum nya, bagaimana mungkin Julia tidak menyadari nya selama ini. Ia terlalu polos, terlalu percaya pada pria yang terlihat sangat mencintainya. Sepasang tangan terulur, memeluknya dari belakang, Julia terkejut, belum sempat ia berbalik pria itu mengeratkan pelukannya. "Akhir nya aku menemukan mu," bisiknya, itu adalah suara Ravi. Julia mencoba melepaskan tapi Ravi memeluknya semakin erat. "Maafkan aku Julia, harusnya aku cerita sejak awal kalau aku kenal Seano." Julia terus memberontak untuk melepaskan pelukan Ravi, "lepaskan! Jangan sentuh aku!" Akhirnya pria itu menyerah, ia melepaskan Julia yang kini berdiri dan berbalik menghadap ke arahnya. Tatapan Julia masih sama, ada banyak kesakitan di sana, ia merasa di khianati oleh Ravi. “Julia, aku mohon jangan tinggalkan aku. Hubungan kita nggak akan ada yang berubah meski—” “Meski apa? Semuanya udah berakhir Rav, kita putus, maaf aku nggak bisa melanjutkan ini. Jangan ikuti aku Rav, aku muak.” Ravi kembali menahan tangan Julia, kali ini pria itu langsung menariknya ke dalam pelukannya, “aku mohon Julia, aku tulus sama kamu, bukan karena Seano, aku suka sama kamu karena itu kamu.” “Sudah berapa lama kamu kenal Seano?” Ravi terdiam sesaat, ia bingung antara akan menjawabnya dengan jujur atau tidak, kemudian hati nya terdorong untuk jujur, “Dia sahabat ku sejak SMA.” “Apa? Sahabat?” Julia mendorong Ravi menjauh, kali ini Ravi tidak menahannya, “aku nggak bisa Rav.” Gadis itu pergi dengan wajah sembab meninggalkan Ravi sendirian di taman itu. Sahabat? Mereka bersahabat dan mereka melakukan ini padaku? Kondisi hatinya saat ini sedang tidak bisa di ganggu, Julia membutuhkan waktu sendirian untuk memikirkan semuanya. ….. “Ah, aku nggak mau kerja!” Julia menendang-nendang selimutnya di kamar, ini hari senin dan ia harus kembali bekerja, matanya masih bengkak karena menangis sejak kemarin dan dia malu. Belum lagi, ia harus bertemu dengan Ravi, dia masih membenci pria itu. “Jul, cepatlah turun dan sarapan! Senin itu biasa nya macet!” Suara Taddeo terdengar dari lantai satu rumah mereka, Julia menghela napas kasar. Akhirnya ia segera mandi dan bersiap meskipuh hatinya tidak mau. Mereka berangkat bersama menuju kantor, Julia belum bercerita pada Taddeo kalau ia sudah meminta putus pada Ravi. “Matamu bengkak kaya kodok, nangis kamu?” tanya Taddeo. Julia menoleh dengan malas, ia melepas seatbelt kemudian, “kurang tidur.” Jawabnya singkat. Gadis itu segera berjalan masuk menuju kantor lebih dulu seperti biasa, dari kejauhan Ravi melihat Julia sudah memasuki lobi kantor. Pria itu kini mengejarnya, ia berharap bisa membujuk Julia untuk kembali padanya. Beruntung. Gadis itu masih menunggu lift terbuka, Ravi segera berdiri di sampingnya, begitu akan menyapa Julia seketika memalingkan wajahnya. Pintu lift pun terbuka, Ravi membiarkan Julia masuk lebih dulu baru dirinya, namun tak berselang lama, karyawan lain masuk, berdempetan seperti biasa. Julia kali ini kembali terpojok dengan Ravi yang melindunginya seperti hari pertamanya bekerja. Pria itu menjulang tinggi di hadapannya, Julia hanya setinggi dagunya, ia bisa melihat jelas garis wajah Ravi yang tegas. Pria itu kemudian menoleh ke bawah, melihat Julia yang sedang menatap padanya. Julia terdiam, ia terpergok sedang memperhatikan Ravi. Mata mereka bersinggungan, Julia sendiri bisa melihat dengan jelas kalau pria itu masih terlihat segar, matanya aman saja tidak sepertinya yang masih sembab dan bengkak. Cih, dia bahkan tidak sedih sama sekali setelah putus? Apa benar dia tulus? Julia menahan rasa kesalnya, melihat Ravi dalam kondisi seperti ini malah membuatnya lebih muak lagi. Tatapan Julia menjadi sengit pada Ravi, sementara pria itu menatapnya dengan sendu, bagai ikut merasakan kepedihan yang di rasakan Julia. “Tidak usah menatap seperti itu, percuma kalau kamu pura-pura sedih padahal hatimu baik-baik saja,” ucapan Julia terdengar dingin, suaranya begitu jelas di telinga Ravi. "Kamu sudah tidak bisa menipuku lagi, Rav."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN