Tuntutan untuk berpisah menggantung di udara seperti vonis mati. Ucapan Giano sangat serius untuk di sebut tekanan ringan semata. Ravi menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mendongak, menatap punggung ayahnya yang masih berdiri membelakanginya. Sosok Giano yang selama ini ia kenal sebagai pria tenang dan penuh perhitungan kini tampak asing—tegas, marah, dan tak memberi celah untuk pembelaan. Rasa dingin itu terlalu menusuk Ravi kali ini. “Nggak,” ucap Ravi akhirnya, suaranya serak. “Aku gak akan pisah sama Julia.” Giano menoleh perlahan, tatapannya tajam. “Kamu tidak punya pilihan kalau terus seperti ini.” “Ayah itu gak mengerti,” Ravi berdiri mendadak. “Julia itu butuh aku.” “Yang kamu maksud, kamu yang membutuhkan dia,” poto

