Jake

3765 Kata
Aku memikirkan dimana Luke , mengapa dirinya tidak mengikuti lagi, aku takut berada didekat Jake aku membutuhkan Luke.  "Apa yang kamu pikirkan, Luke tidak akan menolongmu"  "Diam kau, Luke pasti akan datang untuk menjemputku"  Mobil yang membawaku tiba-tiba menabrak sesuatu , membuat diriku dan Jake bersentuhan, tatapan mata Jake bertemu dengan mataku, Jake menatapku tidak dan jika kuperhatikan wajahnya mirip dengan Luke .  Aku menarik pandanganku darinya, memperbaiki posisi dudukku dan mengalihkan pandangan keluar , mobil itu menabrak mobil yang ada  Luke membuka kasar pintu kemudi , memukul kepala lelaki berbadan besar itu , aku terdiam ketakutan, Jake keluar dari mobil lalu menarikku keluar juga bersamanya .  "Jangan harap kau bisa ikut bersamanya Emma"  Lelaki berbadan besar itu pingsan dalam pukulan Luke .  "Kau tidak akan bisa membawa Emma pergi bersamamu" "Hey brother, come on sudah kukatakan padamu, dan aku akan melakukan apapun untuk semuanya" Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang mereka perbincangkan, aku menatap Luke berharap dirinya bisa membawaku pergi dari Jake.  Jake sangat gila , aku tidak percaya padanya .  "Jake kumohon biarkan aku pergi, dan kupikir aku sudah lama tidak mengganggumu, lagipula kau sudah bahagia mengambil ibuku" "Ibumu sakit sekarang, apakah kau tidak ingin menemuinya" Aku terkejut mendengarnya, air mataku langsung saja menetes dari mataku mengalir dipipiku.  Sudah hampir 5 tahun sebenarnya aku tidak bertemu dengan Caroline , bukan aku tidak mau mendatanginya tapi karena aku memang benar-benar takut dengan Mario dan Jake.  "Apakah kau benar, kau tidak mencoba menipukukan?" "Untuk apa aku menipumu, kau mau ikut denganku atau tidak itu terserah padamu"  "Aku ikut denganmu tapi kumohon biarkan Luke ikut bersama kita"  "Tidak, aku tidak akan mengajaknya"  Luke terdiam tidak melakukan apapun dan seakan-akan membiarkanku pergi bersama Jake , aku bingung dengan sikapnya. "Luke , lepaskan aku dari Jake , kenapa kau diam saja?"  Luke menatapku, mata birunya memerah , dan tak lama meneteskan air mata dan mengalir dipipinya.  "Pergilah bersama Jake, jika sudah waktunya aku akan menjemputmu, aku berjanji padamu"  Jake melepaskan genggamannya padaku, aku berlari kearah Luke , Luke memelukku erat dan berbisik kepadaku. "My Mumu, kau pergilah dulu, bukannya aku tidak mau menolongmu tapi kau memang harus pergi sekarang bersamanya"  Aku menatapnya dalam-dalam , Luke menyentuh pipiku lembut, matanya memerah, aku menangis , memeluk erat tubuhnya, aku tidak ingin pergi darinya tapi aku juga butuh bertemu Caroline .  "Kumohon Jake biarkan Luke bersamaku" Mataku tidak tahan merasakan perih dibalik kelopak mataku dan air mataku mengalir dengan sendirinya , aku menatap Jake , Jake memutar kedua bola matanya.  "Tidak, ayo kita pergi sekarang kalau tidak kau tidak akan bertemu Caroline selama-lamanya"  Jake membalikkan badannya, sangat arogan, Luke terdiam menatapku, membiarkanku pergi , aku mengikuti langkah Jake , masuk kedalam mobil Range Rover putih yang tadi membawaku bersama Jake, dan sekarang Jake yang mengemudikan mobil itu, aku duduk disebelah kemudi.  Luke berdiri menatap kepergian mobil yang membawaku.  Aku menangis , aku tetap merasa takut dengan Jake , Jake hanya diam disebelahku tatapannya fokus kejalanan.  _____ "Masuklah Caroline didalam, lurus saja kamar nomor 2 didekat tangga"  Aku berlari masuk kedalam rumah besar Jake , aku tidak melihat Mario disana , tapi aku tidak peduli aku cepat-cepat mendatangi Caroline. "Mom..." Air mataku mengalir begitu saja , aku merasa diriku tidak berguna sebagai anak selama hidupku. Kudekati Caroline yang terbaring melemah , matanya tertutup , wajahnya pucat , alat oksigen melekat di wajahnya, suara monitor ECG meramaikan ruangan , Jake berdiri dibelakangku, tidak sengaja mata kami bertemu , matanya memerah menahan tangis entah apakah dia sedih atau merasakan apa aku tidak tau.  "Mom, maafkan aku yang tidak pernah mendatangimu , maafkan aku yang sudah pergi meninggalkanmu, ada apa denganmu?" Aku memegang tangannya yang lemah dan sangat dingin.  "Dia koma , semenjak kau pergi, dirinya tau aku penyebab kepergianmu"  Aku tidak peduli apa yang diucapkan pada Jake , aku menangis , memeluk tangan Caroline .  "Mario pergi bersama istri barunya , aku yang merawat Caroline"  Hatiku perih mendengar kata-kata dari Jake, sialan , Mario pergi bersama wanita lain dan Caroline dibiarkannya begitu saja , apakah dia berniat membunuh ibuku juga seperti yang dilakukannya pada ibu Luke dan Jake .  "Mario tidak akan kembali lagi kesini, dirinya sudah meninggalkanku dan Caroline , jadi ibumu sudah lama ada denganku, jika aku tidak berbaik hati merawatnya dirinya mungkin sudah mati"  Aku bergetar mendengar kata-katanya lagi dan berdiri , menampar Jake geram .  Jake berseringai, terdengar suara giginya mengatup. "Ouhhh sweety, apakah ini balasanmu padaku setelah lama aku merawatnya?" "Kau lelaki gila sama seperti ayahmu!"  Aku teriak dihadapannya. "Jika aku sama seperti Mario, sudah pasti ibumu telah mati dan kau tidak mungkin bisa bertemu lagi dengannya"  "Kenapa kau tidak mencoba mencariku , you so fuckin crazy man!!!" Aku tidak peduli sama omongan kosongnya .  "Omong kosong, jangan pikir aku akan berterima kasih padamu , apalagi membalas budi padamu"  "Aku tidak ingin kau berterima kasih padaku, aku hanya menginginkan kamu untuk merawat Caroline" "Aku akan membawanya pergi dari sini, dan kembali ketempat Luke"  "Sudah kubilang kau tidak akan bisa kembali lagi dengannya, dan sayangnya ibumu tidak bisa dibawa kemana-mana" "Kau sangat licik Jake , kau menahanku bersama ibuku"  "Aku tidak menahanmu, aku hanya ingin ibumu pulih dari koma"  Aku menatap Jake tajam, aku menyipitkan mataku padanya , dan ingin menampar wajahnya lagi, tapi tangannya menahanku.  "Bahkan selama ini aku mencarimu Emma"  "Omong kosong!!!"  Aku memejamkan mataku , kepalaku sedikit sakit berlama-lama dengan Jake .  "Aku memang lelaki buruk saat itu, bahkan aku sudah mengutuk diriku sendiri dan tidak akan pernah menyakiti orang lain lagi, maafkan aku" "Aku tidak akan memaafkanmu, setelah kau menyakitiku, kau membuat diriku hancur , lalu kau tidak menyakiti yang lainnya bisa membuatku memaafkanmu, sayangnya aku tidak ada belas kasihan padamu!"  Aku memejamkan mataku menahan sakit kepalaku, benar-benar sakit dan aku berteriak. "Aaaaaaaaargghhh, sakiiitttt kepalaku sakit"  Aku menangis, membayangkan kejadian dimasalalu yang dilakukan Jake padaku.  Tangan Jake tiba-tiba merangkulku, aku menjauh darinya tapi tenaganya sangat kuat, dirinya tidak membiarkanku menjauh darinya. "Tenanglah, Emma kumohon maafkan aku, dengarlah aku kali ini" Aku menahan sakitnya kepalaku, Luke terlintas ada dibayanganku, aku merindukan Luke . Aku menatap Luke dihadapanku, aku merasakan Luke memelukku, sangat lembut, tangannya yang besar menyentuh lembut pipiku. "Sayang, tenanglah aku bersamamu, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi"  Aku mendengar suara Luke begitu lembut, tidak lama aku merasa sedikit tenang , sakit kepalaku sedikit hilang, aku membenamkan kepalaku didalam d**a yang bidang itu. "Jangan pergi dariku, kumohon" "Tidak akan pernah"  Jawabnya, aku tertidur, tubuh besar itu mengangkatku , meletakkanku dikamar yang sangat luas , tempat tidur king size , aku tertidur nyenyak. *****  "Luke"  "Hey kau sudah bangun"  "Tidak , dimana Luke ?"  "Kau bersamaku dari tadi, Luke tidak pernah berada disini"  "Bohong, tadi Luke mengangkatku , aku tertidur dipelukannya, kau bohong, kau menyuruhnya pergi kan?"  Aku mulai menangis lagi. "Aku tidak pernah bohong Emma, Lagipula ada sesuatu yang harus kau ketahui"  "Aku tidak ingin mengetahui apa-apa darimu, pergilah tinggalkan aku sendiri"  "Baiklah, aku akan berada dikamar Caroline , jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja aku"  "Tidak akan"  Aku bergumam.  Aku mencari-cari dimana pouch milikku, aku membutuhkan ponselku untuk menghubungi Luke , tapi seperinya Jake mengambilnya.  Aku frustasi berada dirumah jake.  ---- "Aku butuh ponselku"  Aku mendatanginya keruangan Caroline , Jake duduk disofa yang berada didekat tempat tidur Caroline . "Sudah kubuang"  Dengan santainya Jake menjawab dengan perasaan tanpa besalah, aku geram dengannya.  DAMN YOU ARE THE JERK!!!! Batinku berteriak.  "Aku harus menghubungi Luke , dengar Jake kamu membuat akal sehatku hilang, bisa-bisanya kau membuangnya"  Aku benar-benar kehilangan akal sehatku seakarang, Jake membuatku gila dengan ulahnya , aku mau memukulnya tapi aku melihat Caroline yang terbaring lemah tak berdaya. Aku menatap kearah Caroline , duduk disela tempat tidurnya,menggenggam erat tangannya, aku merasakan kesedihan yang mendalam saat ini.  "Mengapa kau tidur begitu pulas , disaat aku membutuhkanmu, aku mencintaimu, Caroline"  Mencium ruas-ruas jarinya, membasahinya dengan air mataku.  "Pergilah makan dulu, kau butuh makan"  "Aku tidak lapar, kau tak perlu memerintahku"  "Keras kepala, dengar Luke tidak akan pernah kemari , makanlah aku tak mau kau mati kelaparan dirumahku"  "f**k with you!!! You sucks!" "Oh damn , you're so sweet . Give me your lips i wanna f**k her"  "You never get !!!" "I will , let see laters baby"  "f**k you Jake!!!" "Your my sweet angel, i was remember to feel you"  "CRAZY!!!!" Aku gila berbicara pada Jake terus, aku tidak tahan akhirnya aku pergi meninggalkan ruangan.  Rumah Jake sama besarnya seperti rumah Luke , seluruh interiornya berwarna putih, warna kesuakaanku , menatap foto menempel didinding .  Jake terlihat tampan, dengan setelan jaz dibadannya , begitu rapi , ah aku membuang pikiranku terhadapnya .  Aku membencinya .  "Apa yang kau lihat?wajahku memang tampan melebihi dari ketampanan Luke bukan?" "Kau menguntitku!" "Ini rumahku, jadi aku leluasa jika berada dimana saja" Jake berseringai licik tapi terlihat tampan dan menggoda, wajahnya mirip dengan Luke .  "Luke" "My Mumu , how are you baby"  "I was missing you"  "I miss you too, give me kiss"  Aku mencium lembut lelaki yang ada dihadapanku, aku merasakan bibirnya yang hangat, giginya menggigit lembut bibirku, nafasnya begitu panas.  "Give me love , baby"  "I was loving you from we start meet"  Aku menutup mataku , merasakan hangatnya tubuh lelaki yang ada dihadapanku, aku membuka mataku perlahan. Aku kebingungan, melihat tubuh besar Jake memelukku, ada apa dengan fantasiku , aku sedang berhalusinasi , aku membayangkan Jake seperti Luke , apakah aku sudah gila? Batinku bergumam .  Aku cepat-cepat melepas pelukan kami, aku tiba-tiba merasakan sakit dibagian kepalaku lagi mengingat masa laluku.  *** Disisi lain  Jake William Forbes  "Saudara tiri anda sedang mengalami gangguan Atypical s****l Parasomnia itulah wujud trauma psikologisnya yang sedang terganggu"  "Apakah bisa sembuh?" "Butuh waktu lama, tapi jika dirinya bisa selalu merasakan tenang dirinya akan sembuh" "Bagaimana caranya" "Dia harus sering-sering bertemu seseorang yang bisa membuatnya tenang, ini agak sedikit sulit tapi apa yang membuatnya trauma itulah yang bisa menyembuhkannya walaupun itu sulit awalnya untuk dirinya"  "Dirinya juga bisa berhalusinasi atau berfantasi ketika dirinya menginginkan sesuatu atau merindukan sesuatu yang sangat dirinya inginkan, bersabarlah menghadapinya" Jake mendengarkan dengan fokus, menganggukkan kepalanya.  "Baiklah , aku harus segera pergi"  "Terima kasih"  Dr. Alaric pergi meninggalkan Jake , Jake duduk di sela tempat tidur Emma yang sedang berbaring . "Aku akan berusaha menyembuhkanmu, aku tau aku tidak bisa membantu Luke , tapi aku akan membuatmu sembuh, maafkan semua kesalahanku Emma"  Air mata Jake tiba-tiba mengalir begitu saja dari matanya .  "Aku akan kehilangan saudaraku, saudaraku begitu mencintaimu tapi aku juga mencintaimu, Luke akan pergi dari hidupmu dan aku tidak akan siap melihatmu terluka lagi"  Jake mencium ruas-ruas jarinya, yaa , Luke terkena kelainan jantung sejak lahir.  Hanya Luke, Jake dan Mario yang mengetahuinya itulah kenapa dulu Mario ingin membunuhnya juga.  "Aku memang jahat terhadapmu dulu, itulah kesalahanku padamu aku memiliki dosa terhadapmu, dan biarkan aku menebus semua dosa-dosaku padamu Emma, aku tidak akan membiarkan kau terluka lagi" Wajah Jake terlihat sangat frustasi. ___ Aku membuka mataku perlahan, Jake duduk disisi tempat tidur, aku menatapnya mata kami bertemu dan saling tatap. "Emma" Aku tidak menghiraukannya dan memalingkan wajahku . Jake menarik tanganku, aku menariknya kembali , yang kubutuhkan sekarang adalah Luke.  'Luke pasti sedang cemas denganku, aku merindukannya' batinku.  "Bisakah kau menelponkan Luke untukku kali ini saja"  Wajahku memelas pada Jake, Jake tidak menghiraukan permintaanku.  "Baiklah jika kau tidak mau, kau memang lelaki terjahat yang ada didunia"  Aku mencoba bangun dari tempat tidur. "Mau kemana kau?" Tanya Jake . "Mencari udara segar dan bernafas , aku rasa aku susah bernafas jika bersamamu"  Badanku terasa lebih baik, aku berada di balcon kamar , cuaca diluar sangat gelap malam ini kota telah mengambil seluruh kehidupan dan energi dari apa yang dimiliki.  Rumah Jake berada di pusat kota , walaupun gelap tapi lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi dan rumah yang masih menyala telah menyinari seisi kota Seattle .  Aku mencintai Seattle ,tapi aku membenci untuk berada dirumah yang sangat tidak nyaman ini. "Masuklah kau akan kedinginan jika terus berada diluar"  "Ini tubuhku , mau aku kedinginan kau tak akan pernah peduli"  "Aku peduli padamu" "Jika kau peduli, kau pasti sudah mendengar keinginanku bukan? Tapi kau tidak memperdulikannya sama sekali" "Tidak untuk hal itu" Jawabnya arogan, sialan , batinku. "Masuklah atau aku akan menyeretmu" "Tidak akan"  "Tuan, nyona Caroline menggerakkan jarinya"  Aku membelalakkan mataku saat mendengar pelayan itu memberitahu keadaan Caroline, Jake terkejut lalu berlari menuju ruang Caroline , aku mengikutinya dengan semangat.  Caroline membuka matanya pelan-pelan, aku menatapnya , Caroline menyipitkan matanya saat melihatku berdiri didepannya , menangis. "Mom,,,aku disini" "E,,e,,m" Caroline mengeluarkan suara terbata-bata , Jake menyentuh tangannya, telihat begitu perhatian terhadap Caroline. "Ana...kku"  Caroline mengangkat tangannya pelan-pelan terlihat sangat kaku, tapi mengisyaratkan untuk aku datang kedekatnya. Aku mendatanginya. "Jangan menangis"  Suaranya pelan, dan berbisisk. "Kau akhirnya datang, Jake menemukanmu?" Suaranya terdengar berbisik-bisik. "Berbahagialah , maafkan aku selama ini , kau sudah dewasa"  Aku menaruh tangannya dipipiku, sambil mencium ruas-ruas jari yang dimilikinya. "Aku bahagia melihatmu bangun sekarang"  "Emma, hiduplah dengan Jake"  Akh menggelengkan kepalaku , menandakan aku tidak setuju. "Dia sudah menyesali perbuatannya terhadapmu" Aku menggelengkan kepalaku pelan aku melihat disisi matanya mengalir air mata , Caroline menangis. "Ku...mooho..n" Caroline menutup matanya, kepalanya mengarah pelan kesisi kanan hembusan nafasnya sudah tak ada lagi, jantungnya bahkan tak berdenyut lagi, aku menyentuh nadinya , meyakinkan dan aku menangis . "Mommmm, mommm, wake up, why you leave me alone" Aku menangis frustasi, tangan besar Jake menyentuh bahuku aku tidak memperdulikannya , tanganku terus menggenggam erat tangan Caroline. "Emma"  Jake menarikku pelan untuk berdiri, dr. Travis penjaga Caroline mendekati tubuhnya yabg terbaring lemah tak berdaya lagi, aku menangis saat kain putih menutupi wajahnya.  "Kenapa dia pergi begit cepat?" "Tenanglah Emma, kau tidak sendiri ada aku" "Tidak, kau bukan siapa-siapaku"  Aku pergi meninggalkan ruangan.  ____ Sudah satu minggu kepergian Caroline .  Aku merindukan Luke , apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia tidak berusaha mendatangiku kesini. Aku seperti orang yang tidak mempunyai arah berada dirumah besar , tidak tau ingin berbuat apa, Jake benar-benar menahanku. "Nona, makan malam sudah siap"  Aku membalikkan badanku, pelayan itu memberitahukan padaku bahwa waktunya makan malam. "Terima kasih"  "Panggil saja aku Carlo, aku akan siap membantu apa saja yang kau inginkan"  Carlo seorang pelayan lelaki tidak terlalu tua mungkin sekitar tiga puluhan, rambutnya hitam, bersikap sedikit seperti wanita, wajahnya manis, aku tersenyum padanya. "Baiklah tapi aku tidak ingin makan" "Ooouh nona, janganlah begitu, kau harus makan, kau sudah terlihat sangat kurus" "Ya aku tau, tapi majikanmu yang membuatku begini dan lama-lama mungkin aku bisa gila" Aku berbisik saat aku mendekat kearahnya, Carlo bergidik . "Jika kau tidak mau turun biar aku membawa makanannya kesini" "Tidak perlu Carlo, pergilah aku hanya ingin berada dikamar sendiri" "Baiklah nona, ingat panggil saja namaku berkali-kali jika kau butuh aku" "Okay, thank you" Carlo meninggalkanku, aku harus mencari cara agar bisa pergi dari rumah itu. Aku baru mengingat sesuatu , aku cepat-cepat berlari mengejar Carlo lagi. "Hey Carlo, wait me" Carlo terkejut dan memberhentikan langkahnya. "Ya nona ada apa?"  "Bisakah aku meminjam ponselmu? Aku mau menghubungi temanku"  Jake tidak sedang dirumah, jadi mungkin aman jika aku meminjam ponsel milik Carlo. "Baiklah sebentar saya ambilkan dulu didapur"  Aku menunggunya diruang keluarga milik Jake, tidak sabar.  "Ini nona" Aku meraih ponsel miliknya dengan cepat aku menghubungi Luke.  Tidak ada jawaban , sudah hampir dua puluh kali aku menghubunginya. Aku cemas dengannya, ada apa dengan Luke , aku mengirimkannya pesan singkat. -Luke , aku mencoba menghubungimu dimana kau? Kau bahkan tidak mencoba untuk mendatangiku kerumah Jake, bawalah aku pergi dari sini , waiting, your Mumu , ES- Aku mengembalikan ponsel milik Carlo. "Sudah selesai nona?" "Ya jika seseorang mengirimkanmu pesan singkat tolong beri tahu aku ya" "Baiklah nona cantik"  Aku tersenyum bersahabat pada Carlo, aku kembali kekamarku.  Melihat Jake berdiri tegap dibelakangku, aku membulatkan mataku, apakah dia tau aku meminjam ponsel milik Carlo? Pikirku. "Kau terlihat lebih baik hari ini, apakah kau sudah makan?" Aku diam, tidak menjawabnya.  "Makanlah sayang, aku akan mengajakmu pergi besok pagi pukul 08:00 AM, maka bersiaplah" "Kemana?" Tanyaku. "Kesuatu tempat, tak perlu memikirkan pakaianmu, semua sudah disiapkan oleh Carlo, pakailah pakaian yang ada didalam lemari kamar" "Kalau aku tidak mau?" "Kah harus mau dan pasti mau" Ucapnya angkuh. "Kau memerintah?" "Ini tujuan sayang" Aku pergi meninggalkannya , dan menaiki anak tangga menuju kamarku, aku diam-diam ingin tau pakaian yang harus aku kenakan besok. Membuka lemari besar yang ada didalam kamar. Sebuah jeans biru dan kemeja putih , aku menyukainya , aku menutup kembali lemari itu, aku tidak lapar dan memilih tidur lebih awal.  ____ "Bangunlah"  Aku merasakan sentuhan tangan menyentuhku, aku membuka mataku. "Luke"  Aku tersenyum lembut dihadapannya. "I was missing you" "I miss you more Ace" Aku tidak menyangka Luke datang dan membangunkanku, aku merindukannya.  "Bagaimana kabarmu?" Aku tidak menjawabnya aku langsung memeluknya erat, sangat erat dan benar-benar merasa tenang saat memeluknya. "Tenanglah, aku akan selalu bersamamu dan membuatnu selalu tenang" "Jangan pergi lagi Ace" Pintaku, mataku menatap mata birunya yang bercahaya, suara katupan giginya terdengar, nafasnya begitu segar,sudah lama aku merindukan rasa itu. "Bangunlah kita harus pergi" "Apakah Jake sudah mengizinkan kau membawaku?" Luke terdiam menatapku, tidak menjawabku dan langsung membawaku pergi, bahkan aku belum bersiap-siap. ___ Aku berada didalam mobil Range Rover putih, 'bukankah mobil ini yang membawaku bersama Jake malam itu?' Batinku bertanya-tanya.  Lelaki itu masuk dan duduk dibelakang kemudi, Jake?? Aku terkejut menatapnya. "Dimana Luke?" "Tidak pernah ada" "Kau bohong tadi Luke yang membawaku kesini" "Aku yang membawamu Emma" "Tidak mungkin, aku bahkan merasakan tangannya yang menyentuh dan membangunkanku"  "Itu aku Emma" Aku terdiam, apakah aku selalu berhalusinasi, aku bingung dengan diriku sendiri.  "Aku akan membawamu terapi untuk menyenbuhkanmu"  Aku masih terdiam, kenapa Jake berubah menjadi perhatian padaku.  "Kita terapi dimana dan mau kemana?" "Aku ada pekerjaan ke New York, jadi aku harus membawamu ikut bersamaku"  "Itu akan membosankan" Aku bergumam, memutar kedua bola mataku, Jake melirikku aku langsung membuang wajahku ketika mata kami bertemu. Sial, Jake terlihat seksi dan tampan , benar-benar mirip dengan Luke , aku begitu merindukannya.  "Apa yang kau pikirkan?" "LUKE" Aku menekan suaraku, Jake menatapku tiba-tiba menghentikan mobilnya.  "Dengar aku , kau harus bisa melupakan Luke , semua itu harus kau terima" "Tidak aku tidak akan apa urusanmu, bahkan aku sudah bertunangan dengannya" "Itu kewajibanmu , dengarkan aku kali ini saja Emma" Wajah Jake berubah menjadi sangat tajam, mata gelapnya membara , aku ingin marah padanya dan memberontak , tapi Jake langsung melajukan mobilnya.  "Duduklah dengan tenang, dan jangan menyangkal apapun"  "Kau selalu memerintahku, you're the Jerk!!" "Semua ini demi kamu, kau harus sembuh , aku yang membuatmu sakit dan aku pula hang harus menyembuhkanmu, kau tanggung jawabku"  Aku terdiam, aku hanya bisa diam tidak bisa berkata apa-apa lagi, setiap kali aku menyangkal tidak ada gunanya, lebih baik aku mengikuti permainan apa yang dilakukan Jake padaku, pikirku. "Kau harus tau semuanya suatu saat nanti" Jake bergumam tapi aku tidak bisa mendengarnya begitu jelas .  ____ Disisi lain  Luke Graham. Luke berdiri memandangi danau Redmond kota Seattle dari belakang rumah miliknya, membayangkan suasanya pertama kali dirinya dan Emma berada diteras atas rumahnya, Luke tersenyum. "Aku akan membawanya pergi, dan melakukan terapi untuknya" Luke tetap diam membelakangi lelaki yang berbicara dibelakangnya.  Luke membalikkan badannya menatap lelaki itu dalam.  "Jake aku tau kau mencintainya tapi kesalahan yang kau lakukan adalah menyuruh seluruh anak buahmu melanjutkan aksimu"  Jake terdiam, itu memang kesalahan Jake .  "Ya , aku tau itu , aku akan membuatnya sembuh aku berjanji"  Luke terlihat sangat pucat, Jake menatapnya begitu dalam, Jake mendekati Luke , Jake menggenggam tangan Luke . "Sini aku bantu"  Luke berjalan pelan , dibantu oleh Jake duduk dikursi roda otomatis miliknya.  "Luke , maafkan aku , itu semua memang kesalahanku itulah mengapa aku akan membawanya bersamaku dan berusaha untuk menyembuhkannya, aku tau kau sangat mencintainya, maafkan aku Luke" "Tidak, aku tidak mencintainya, aku hanya ingin bertunangan dengan seorang wanita sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini, semua hanya dramaku saja , apakah kau lupa kalau aku ini adalah seorang artis terkenal" "Kau sangat tidak pandai berakting dihadapanku luke"  Kedua lelaki tampan itu tertawa pelan, Luke benar-benar sangat pucat.  "Bawalah dia pergi, jangan biarkan dia tau dengan keadaanku, katakan padanya aku pergi berasama wanita lain" Jake hanya terdiam, tidak tau harus berbuat apa, yang dirinya harus lakukan adalah membawa Emma pergi meninggalkan kota Seattle untuk sementara waktu.  ____ "Apa yang kau bicarakan barusan?"  Aku bertanya pada Jake. "Tidak , aku tidak berkata apa-apa , aku hanya ingin meminta maaf padamu" Aku terdiam , entah aku harus menjawab apa padanya , aku melihat dirinya begitu kuat ingin membuatku sembuh tapi aku tidak bisa luluh begitu saja .  "Aku akan memaafkanmu jika kau mengembalikanku pada Luke"  "Tidak akan, sudah berapa kali harus aku katakan , Luke tidak akan pernah datang padamu"  Jake mengeluarkan ponsel miliknya , aku menatap layar ponselnya , penasaran gambar apa yang dirinya lihat. Jake menyodorkan ponsel miliknya padaku. Seperti sengatan listrik ditubuhku, Luke sedang duduk dan berciuman dengan Maria.  Aku meneteskan airmataku begitu saja , tidak ada paksaan dariku untuk mengeluarkan air mataku, hatiku sakit melihat gambar itu.  "Kau sudah lihatkan? Itulah kenapa aku katakan padamu , kau ini bodoh atau bagaimana Emma, bahkan dirinya lebih dulu mengenal Maria dibanding mengenalmu"  Semua yang dikatakan Jake benar, Luke memang lebih dulu mengenal Maria, dan disaat aku melihat mereka berdua mengobrol sangat asyik.  Tapi tiba-tiba mobil milik Jake berhenti.  Aku menatap keluar jendela mobil, berharap Luke yang datang. Seorang lelaki menutup wajahnya dengan kacamata hitam dan mengenakan topi menutup kepalanya. Jake turun dari mobil, tubuhnya sangat seksi, berdiri menemui lelaki misterius itu.  "Mengapa kau memberhentikanku" Ucap Jake , Jake begitu putih, tampan, rahangnya mengeras, matanya gelap menatap lelaki misterius itu.  "Hahaha , aku tidak akan membiarkanmu membawa Emma pergi"  "Apa urusanmu? Emma milikku" Aku penasaran apa yang terjadi diluar, lelaki itu memegang pistol ditangannya . tiba-tiba lelaki itu mengarahkan pistol itu kepada Jake tapi aku berlari kearahnya . "EMMA"  Teriak Jake . Aku terkena tembakan dibagian lengan kananku, aku terjatuh, Jake ingin mengejar lelaki itu , lelaki itu kabur dengan cepat dengan Bentley SUV hitam miliknya.  Jake mengangkatku, wajahnya terlihat sangat khawatir denganku.  ___ Jake menggendong tubuhku, aku berada dirumah sakit bersamanya , Jake membawaku masuk kedalam rumah sakit dan mencari dokter.  "Silahkan letakkan disini pak" Salah seorang perawat membawakan ranjang beroda untukku, Jake meletakkanku dan mengikutiku menuju ruang UGD . "Silahkan tanda tangan disini pak untuk melengkapi administrasi" "Okay"  Jake mengeram, rahangnya terlihat mengeras, wajahnya terlihat frustasi persis seperti Luke ketika mengkhawatirkanku.  Aku masih setengah sadar, dokter dan perawat sibuk berlalu lalang mengambil alat untuk mengeluarkan peluru yang ada didalam lenganku, seorang perawat wanita menyuntikkan bius kepadaku, aku tertidur setelah itu.  ___ "Kau sudah bangun ?" Jake berada disisi ranjangku, aku menatap wajahny, rambut gelap tembaganya , serasi dengan mata abu-abu gelapnya , aku merasakan Luke ada didalam diri Jake. "Seperti yang kau lihat" "Kau sudah bisa menjawabku itu artinya kau baik-baik saja"  Aku berseringai pada diriku sendiri, memutar kedua mataku , tidak ingin menatapnua. "Aku ingin pergi dari sini" "Kita akan pergi sekarang, lagipula kata dokter lukamu tidak begitu parah, ayo"  Jake mengangkat tubuhku, dan mendudukkanku dikursi roda lalu mendorongku menuju Range Rover putih miliknya. "Pesawat sudah menunggu kita , kita akan terbang 1 jam lagi" "Apakah kah tadi melihat lelaki yang ingin menembakmu dengan jelas"  "Aku akan segera mengetahuinya, sekarang yang terpenting membawamu sejauh mungkin dari Seattle" Jake mengeram.  Kepalaku mulai sakit lagi, tapi perlakuan Jake membuatku sedikit lebih tenang dan bisa tidak memberontak atau ingin lari. "Kau masih ketakutan?" Pandangan Jake tetap kejalanan , dan fokus mengembudikan Range Rovernya, dia melaju cepat tapi tidak sembarangan,meluncur mudah melewati belokan dan jalan lurus dengan pemandangan indah menuju airport. "Lumayan" ____ Jake punya pesawat pribadi juga? Aku bertanya-tanya sendiri dalam hatiku, kupikir kita akan sampai ke airport.  Pesawat yang besar , tapi tidak semewah milik Luke , tapi terlihat nyaman.  "Ayo cepat jangan diam saja"  Jake menarik tanganku menaiki anak tangga, pramugari muda tersenyum menatap kearahku dan kearah Jake . "Selamat pagi tuan Jake William , kita akan pergi ke New York segera, saya akan kembali dengan beberapa menu makanan , apakah ada yang anda inginkan lagi tuan?" Tanya parmugari cantik itu, wajahnya ramah, matanya seperti menginginkan Jake , terlihat sedikit memiliki nafsu terhadap Jake, aku tidak memperdulikannya. Jake duduk didepanku , beruntunglah karena dia tidak duduk disampingku.  "Bagaimana lenganmu?" "Jelas saja masih sakit, ini karena aku menolongmu, sudah banyak dariku terluka karenamu" "Maafkan aku" "Ya , kau hanya bisa berminta maaf saja , tapi tenanglah aku sudah terbiasa dengan rasa sakit, tak perlu khawatir denganku"  Aku menjelaskannya acuh, aku menatap keluar jendela, pesawat mulai lepas landas , aku mengingat pada saat Luke bersamaku ,apakah benar Luke selingkuh dengan Maria.  Air mataku tiba-tiba terjatuh begitu saja dan mengalir dipipiku, aku tidak merasakan rasa sakit bekas tembakan pada lenganku aku merasakan sakit dijantungku ketika mengingat foto Luke dan Maria berciuman.  "Kenapa kau menangis?" Aku cepat-cepat menghapus wajahku. "Aku hanya ingat dengan Caroline" Jawabku berbohong. "Aku tau kau memikirkan yang lainnya , matamu tidak bisa berbohong padaku" Pramugari cantik itu datang membawakan kami Croissant Chocolate dan dua gelas anggur putih, terlihat sangat lezat.  Jake tersenyum sedikit lembut padanya dan membuat pipi pramugari itu memerah. "Makanlah dulu, kau butuh makan" Aku mengambil Croissant itu dan melahapnya , sangat lezat.  "Kuharap kau bisa melupakan semuanya ketika kau bersamaku nanti" Keinginannya sangat keras membuatku jauh dari Luke , itu tidak akan mudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN