10

3143 Kata
Hari ini Venus sengaja memilih celana berwarna hitam dengan atasan blus berlengan panjang yang dipadukan dengan jas berwarna krem. Rambut panjangnya diikat ekor kuda. Tanpa make-up berlebih, hanya bedak tipis dan lipstick berwarna peach. Tidak ada perhiasan yang melekat di tubuh selain gelang mawar yang ada di tangan kanan. Setelah menghabiskan nasi goreng sebagai menu utama sarapan, Venus langsung melarikan diri dari pertanyaan Miranti perihal kepulangan Venus semalam. Untung saja Miranti tidak sempat melihat sedan milik Adrian, jika tidak, bisa dibayangkan sendiri dengan level ke-kepo-an Miranti, pastinya Venus akan diinterogasi layaknya narapidana. Berangkat ke kantor dengan mengandalkan abang ojek yang biasa menjadi langganan keluarga Venus, sekali selip maka hup, Venus sudah sampai dengan selamat di tujuan.  Seperti biasa, Venus memberi salam kepada petugas keamanan yang berdiri di lobi. Lalu, Venus memilih menaiki tangga darurat untuk menuju kubikel-nya yang kebetulan berada di lantai tiga. Venus tidak suka naik elevator dikarenakan rasa paranoidnya akan ruangan sempit. Ngeri, bagaimana jika tali atau apa pun yang menarik kotak besi itu sampai putus? Jatuh berdebum dengan kekuatan yang bisa menghancurkan tubuh manusia. Begitulah kira-kira alasan ketakutan Venus terhadap elevator.  Sampai di lantai tiga, Venus langsung menghambur menuju kubikelnya yang kebetulan sudah dikerubungi oleh pegawai wanita. Salah satu manusia yang ikut mengerubungi itu tidak lain adalah Winda. ″Ven,″ katanya. ″Kamu nggak bakal percaya dengan apa yang kamu dapatkan hari ini.″ Setelah para pegawai memberikan ruang bagi Venus melihat apa yang Winda maksudkan, barulah Venus terkejut. ″Kamu dapat rangkaian bunga iris,″ jelas Winda, ″yang artinya aku mencintaimu dengan sepenuh hati.″ Cewek lainnya menyahut, ″Lihat siapa yang ngirim, pasti kamu bakal kena serangan jantung.″ Di sebuah kartu yang tersemat di antara kelopak bunga berwarna ungu, jelaslah sudah.  ″Adrian, gila Venus!″ seru Winda. ″Traktiran dong.″ Venus hanya berkomentar, ″Oh″, sementara buket bunga tersebut diletakkan begitu saja di atas meja. Melihat raut tanpa ekspresi khas si wanita es, para penonton pun—termasuk Winda—kembali ke kubikel mereka masing-masing dengan perasaan kecewa.  Sebenarnya Venus berniat membuang bunga tersebut ke tempat sampah, berhubung Venus sadar bahwa Adrian merupakan keponakan dari Hartawan yang notabene pimpinan tertinggi di tempat Venus berkerja, dengan sangat terpaksa Venus mengurungkan niatnya. Jika Venus langsung main buang tanpa pikir, itu bisa membuat Venus dilaporkan para cewek yang tengah dimabuk sindrom Adrian. Venus ngeri membayangkan wajah Rahwana yang akan Hartawan munculkan, meskipun sosok Hartawan lebih mirip beruang madu bernama Winnie the Pooh; bentuk tubuh lebar, perut buncit, kepala setengah botak, dengan kumis tebal ala Pak Raden. Tetap saja, orang yang setiap harinya berperangai halus pun bisa berubah menjadi Buto Ijo jika perasaan terdalamnya diusik. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati.  Tidak salah rasanya Venus menjuluki Adrian sebagai cowok bermuka badak. Entahlah, apa yang ada dalam pikiran seorang model bernama Adrian, yang jelas Venus berniat untuk memasukkan nama cowok itu ke daftar teratas manusia yang jangan pernah dijumpai dalam hidupnya. Tak sampai beberapa menit ponsel milik Venus berbunyi. Dengan sigap Venus segera mengangkat panggilan tersebut dan berkata, ″Ya, Ma.″ ″Nduk, kamu udah balikan ama mantanmu to?″ Mendengar pertanyaan aneh itu, Venus hanya bisa mengerutkan kening. ″Maksudnya?″ ″Barusan, Mama terima rangkaian bunga mawar, warnanya merah. Tak kira iku dari cowok yang namane Romeo kae lo. Eladalah, begitu tak lihat di kartu ucapan, nama yang muncul malah Adrian. Seingat Mama, Adrian iku yo bocah sing pernah mbok ajak ke rumah pas SMA dulu. Pacarmu kan itu dulu?″ Door!  Kejutan yang sayangnya datang dari manusia yang tidak diharapkan kehadirannya. Barulah Venus tersadar saat terakhir kali Adrian mengantarnya. Ternyata, pemuda itu masih hafal alamat rumah Venus. Memang, semenjak Venus kembali dari Semarang dan memutuskan menetap di Jakarta. Venus sekeluarga tidak ingin tinggal di daerah baru, mereka merasa lebih nyaman di rumah yang lama.  Lalu yang lebih membuat Venus bertambah pusing adalah reaksi Miranti yang terus berkicau riang bagaikan burung nuri kuning yang terbang melayang di angkasa raya. ″Nduk, Mama sebenere lebih seneng kalau kamu sama Romeo. Dia keliatan ramah, sopan lagi anaknya. Tapi, nek awakmu sukanya sama Adrian opo sopo wae. Siapa pun lelaki yang kamu pilih, Mama seneng.″ ″Ma,″ kata Venus tegas, ″buang aja bunganya.″ ″Haduh, yo jangan to, Ven.″ ″Kalau gitu kasih aja sama Mbok Sri, biar dijual ke pasar.″ ″Dek, sopo sing gelem? Ndak ada yang mau beli, yo.″ ″Nah itu, Mama juga tahu.″ Di titik seperti ini, Miranti sudah paham bahwa segala macam petuah yang keluar dari mulutnya tidak akan berguna. ″Nduk, pas nikahan anaknya Bude Laras nanti, kamu ikut, ya?″ Dalam kepala Venus, sebentuk rumus matematika sederhana pun muncul. Pernikahan + Keluarga = Kepo. Terbayang jelas berbagai macam pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan ke arah Venus perihal statusnya yang masih melajang. Belum lagi rumus berikutnya: Pertanyaan Kepo + Status Venus = Mati Bosan. Suasana yang tak terbayangkan bosannya di acara pernikahan, pemandangan konde sebesar lapangan sepak bola, wanita-wanita berdandan setebal sepuluh sentimenter yang dikhususkan untuk menutupi kawah-kawah yang ada di wajah, senyum buatan yang harus Venus paksakan di wajah ketika bertemu dengan para sesepuh penghuni dunia kayangan lapis, ralat, tingkat ketujuh, kedelapan, ke berapa pula? Belum lagi mitos-mitos seputar wanita yang tidak segera menikah alias label tidak laku yang akan dicapkan di dahi Venus yang licin mentereng bagaikan piring yang dicuci bersih. Oke, Venus sudah bisa membayangkan seberapa besar penderitaan yang akan ditanggungnya nanti, hingga tanpa ragu Venus berkata, ″Gimana, kalau Venus ndak usah ikut?″ ″Ndak boleh,″ tolaknya tegas. ″Venus sibuk.″ Sibuk mencari cara membebaskan diri dari para ibu-ibu kepo besanggul selebar wajan dodol. ″Bukannya acara nikahannya jatuh di hari Minggu? Kamu memangnya sibuk apa? Wes, tidak bisa diganggu gugat, kamu harus ikut. Siapa tahu ketularan.″ ″Ya,″ jawab Venus dengan nada tidak bersemangat.  ″Wis, ngomong karo awakmu bukannya seneng malah bikin Mama merana tingkat dewa, iki piye to? Dah, gitu aja. Mama mau pergi dulu. Sing ngati-ngati yo, Cah ayu.″ Setelah itu pembicaraan di antara mereka berdua pun terhenti.  Cah ayu? Jarang sekali Venus menerima pujian, apalagi itu dari Miranti. Dulu ketika Venus masih di TK, menang lomba menggambar pun tak pernah dipuji, apa lagi dirayakan.  Dan kini? Seolah semuanya mulai berjalan di luar kendali Venus. *** Romeo berulang kali meneliti berkas-berkas kasus yang diberikan padanya. Tidak mudah memahami kebenaran melalui tulisan yang tercetak di atas lembaran kertas. Dia harus benar-benar mengerti alur cerita yang tengah dirunutnya, salah sedikit saja, maka bisa saja pihak yang bertanggung jawab atas sebuah kesalahan malah bebas berkeliaran di luar sana. Setidaknya, kasus-kasus tersebut masih mudah untuk dipahami, tidak seperti hatinya. Kemunculan Adrian, Romeo bisa mencium aroma persaingan. Yah, walaupun Adrian tidak menunjukkan niatannya kepada Romeo untuk bersaing, namun tetap saja, Adrian itu berbahaya. ″Permisi.″ Sebuah suara berhasil menarik Romeo kembali ke dunia nyata. Dia mendongak ke arah pintu, dan tepat di sana, Johan tengah bersandar di sisi pintu sembari membawa laporan yang harus diserahkannya kepada Romeo. ″Hai, Mas Bro,″ sapa Johan. ″Ngelamun mulu.″ ″Siapa yang ngelamun?″ sanggah Romeo. Dia segera membenarkan posisi duduknya.  ″Yeah, siapa yang nglamun,″ tiru Johan.  ″Jangan nyebelin kaya mainan Jack-in-the-box gitu.″ ″Bukan, aku ini Johan-in-the-box, siap melayani Anda.″ Romeo mengerutkan kening, bingung. ″Kamu baru ditolak? Sumpah, nyebelin banget.″ Mendengar komentar sarkatis yang ditujukan padanya, Johan hanya tertawa. Diletakkannya laporan-laporan tersebut di atas meja kerja Romeo. Terkadang, Johan merasa iri dengan keberuntungan yang Romeo dapatkan; ruangan pribadi, gaji yang lebih tinggi, dan digilai oleh para Hawa. Khusus bagian yang terakhir itu, Johan rela melakukan apa pun. ″Mas Bro,″ kata Johan. ″Tahu nggak, di kantor kita ini sedang terjadi kehebohan.″ ″Yohana nolak kamu?″ ″Shit, jangan bahas yang satu itu. Aku nggak ditolak, dia hanya bilang pengin temenan dulu.″ ″Sama saja.″ ″Ya nggak, lah,″ sanggah Johan. ″Kami berdua masih ada harapan.″ ″Harapan palsu.″ ″Teman macam apa itu? Seharusnya kamu senang aku sudah bisa move on dari Kinar.″ Romeo hanya bisa menggelengkan kepala. ″Kadang aku iri dengan cara pikirmu yang kelewat positif.″ Johan berdecak, ″Kamu itu yang harusnya mulai mengubah pola pikir. Udah nggak zaman nangis kucing gara-gara cinta ditolak.″ ″Betul juga,″ ujar Romeo. ″Mungkin, aku juga harus melakukan sesuatu dengan cara pikirmu itu. Perlu kuberikan nomor telepon pskiater terkenal nggak?″ ″Ngomong sama kamu itu bikin bad mood. Mendingan aku balik ke sono, lihat Venus.″ Begitu nama Venus terucap, mau tak mau Romeo langsung bertanya, ″Memangnya ada apa?″ ″Bro, Venus dapat buket bunga segede Lawu. Aku yakin, yang ngirim pasti keturunan bangsawan. Habis, tuh bunga harus dipegang pakek dua tangan. Hm, tuh cowok benar-benar bermental baja. Venus, si ratu es yang ngeliat cowok sekelas James Bond aja nggak ngiler. Aku mau godain dia dulu, ah.″ Setelah mengutarakan niatan buruknya untuk menjahili Venus, Johan pun melenggang pergi dari ruangan Romeo.  Kini, Romeo hanya bisa terdiam di dalam ruangannya. Duduk merenung sembari memandangi hamaran kosong yang ada di depannya. *** Salah satu keuntungan bekerja di firma hukum beken adalah fasilitas ngeprint dan foto copy gratis. Venus tidak keberatan walaupun harus mengantre menggunakan mesin foto copy, begitu tiba giliran Venus, si mesin foto copy malah rusak. Berulang kali Venus menekan tombol—secara acak—namun si mesin tak kunjung juga merespon perintah Venus. ″Eh,″ kata Venus. ″Jangan rusak pas giliranku dong. Masak aku harus foto copy di luar?″ Melirik ke kanan dan kiri, berharap ada seseorang yang bisa dimintai tolong. Kebetulan yang mencengangkan, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.  Keputusan bulat: Venus harus keluar. ″Hai,″ sapa Romeo.  Romeo, terlihat rapi dengan caranya sendiri; kemeja bergaris-garis biru dan celana hitam yang ditambah dengan dasi berwarna silver.  ″Hai,″ balas Venus pongah. Jika sampai ada anggota ″Romeo’s fans club″ yang tahu cara Venus menyapa Romeo, niscaya, mereka akan mulai menyusun rencana pembalasan yang diarahkan pada si wanita es.  ″Apa yang dilakukan seorang Yuki Onna di sini?″ Venus hanya bisa mengerutkan dahi mendengar dirinya disebut sebagai Yuki Onna. ″Yuki?″  ″Si wanita salju,″ jelas Romeo. ″Hantu cantik dari Jepang.″ Baiklah, setidaknya Venus bisa mencari persamaan antara dirinya dan si Yuki Onna. Venus sering dijuluki sebagai wanita berhati es, dan kini Romeo menambahkan satu julukan lagi.  ″Aku bukan hantu yang doyan nyulik cowok cakep.″ ″Tapi, kamu sering ngambil hati cowok cakep,″ balas Romeo sambil tersenyum. ″Cowok cakep yang mana pula? Ish, gara-gara aku dapat kiriman kembang setaman, image-ku langsung berubah. Kalau aku lebih senang di panggil si wanita berhati es.″ ″Es teh atau es doger?″ Mereka berdua diam sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai beberapa orang hanya menatap bingung ke arah Venus dan Romeo. ″Ada masalah?″ tanya Romeo. ″Mesinnya macet, kayaknya si mesin ngambek.″ ″Kenapa nggak minta si Mamang aja untuk foto copy?″ ″Iya, ya.″  Barulah Venus sadar ada penyelesaian yang lebih efektif daripada harus berpanas-panasan di luar: minta tolong si Mamang alias Bang Jepri yang merupakan salah satu OB yang bekerja di sini. Venus hendak berjalan ke arah ruang OB sebelum Romeo kembali memanggilnya. ″Ven, aku ada tawaran. Kira-kira, kamu mau nggak jadi asistenku?″ tawar Romeo. Lama Venus berpikir sebelum akhirnya dia berkata, ″Kenapa nggak minta Winda aja? Dia lebih jago daripada aku.″ ″Karena aku lebih yakin sama kamu,″ jawabnya. ″Bagaimana? Lumayan lo.″ Venus mengangguk. ″Oke.″ *** Jam menunjukkan pukul tiga sore, saatnya bagi Venus untuk pulang. Ketika Venus akan mengambil tas, si iris biru nampak tak malu-malu menggoda Venus. Seolah-olah bunga tersebut merupakan penjelmaan dari sosok Adrian yang berkata, hai gadis manis. Bawalah daku bersamamu. Jangan pernah tinggalkan daku seorang diri di ruangan gelap dan membuatku berada jauh darimu yang tidak lain merupakan pemilik hatiku. Padahal iris itu hanyalah benda mati (walaupun bunga dalam IPA masih dikategorikan sebagai mahluk hidup, namun bagi Venus—yang dikarenakan si bunga berasal dari sosok yang ingin sekali dihapus keberadaannya dari bumi pertiwi—iris tersebut merupakan sumber malapetaka). Ingin rasanya Venus melempar iris biru itu ke tong sampah terdekat.  Walaupun tak ingin, Venus akhirnya bersedia membawa serta si iris biru pulang bersamanya. Sementara beberapa teman sekantornya yang merasa bahwa sosok Venus yang membawa bunga itu bagaikan melihat fenomena alam langka, tanpa ragu memberikan berbagai macam komentar: ″Prikitiew, ada yang sedang kasmaran ini.″ Oke, itu Arman si songong. Biarin aja, pikir Venus. ″Ahem, Neng nggak minta dijemput?″ Susi, liat aja. Laporan kriminal minggu depan tidak akan kubantu. ″Duh, si Eneng udah ada yang punya. Ati Abang jadi cenat-cenut pegel linu.″ Johan sialan! ″Pegel linu, Mas?″ sahut seseorang yang Venus kenali sebagai Dodi. ″Minum jamu dong.″ ″What the hell with those people?″ geram Venus dalam hati. Beruntung Winda sudah pulang, jika tidak bisa dipastikan Winda akan bergabung ke dalam klub ″mari ganggu Venus bersama-sama″. Sebal rasanya. Venus yang terkenal akan sosok wanita esnya pun langsung lenyap di udara hanya karena sebuket bunga. Dibantu oleh dorongan amarah akibat ledekan dari teman-temannya, Venus pun mempercepat langkah menuju lobi.  Sesampainya di lobi, barulah Venus bisa bernapas lega. Tidak ada yang akan berkomentar mengenai dirinya.  Setidaknya, itulah yang dipikirkan Venus, sebelum menyadari kehadiran sosok Adrian yang tengah bercakap dengan petugas jaga.  Adrian tampak mengesankan dalam balutan jins hitam yang dipadukan dengan kemeja berlengan pendek bermotif kotak-kotak biru, yang pastinya memamerkan kedua lengan atletisnya, bahu, serta dadanya yang pantas dijadikan sebagai sandaran kaum Hawa.  Sayang, pesona itu tidak berlaku bagi seorang Venus yang lebih menitikberatkan pada buku dan cover. Pepatah bijak itu sangat berlaku pada kasus Venus. Tanpa pikir panjang Venus langsung melangkah mendekati Adrian. ″Hai,″ sapa Adrian. Si penjaga yang merasa menjadi kehadiran yang tak diharapkan pun langsung mengambil inisiatif untuk meninggalkan Adrian bersama Venus. ″Nggak usah sok manis segala,″ ucap Venus ketus. Kedua matanya meruncing bagaikan elang yang memburu mangsa. ″Dan, tolong bawa bunga ini. Aku nggak butuh.″ Daripada menyambut buket bunga iris, Adrian hanya tersenyum melihat buket bunga yang sengaja dikirimkan untuk Venus. ″Apa kamu lebih suka bunga bank?″ godanya. Tak urung ucapan Adrian membuat wajah Venus menjadi pongah. Di saat seperti ini pun Adrian masih menyempatkan diri untuk bercanda.  ″Ambil,″ perintah Venus. Sudah pegal rasanya kedua tangan Venus yang sedari tadi membawa bunga iris. ″Aku nggak butuh bunga bank, bungalow, bunglon, dan sebagainya. Yang kuinginkan hanyalah kehidupan damai tanpa sosok Adrian di dalamnya.″ Meski Adrian sudah menduga bahwa Venus tidak akan bersikap manis padanya, anehnya Adrian justru merasa nyaman dengan keadaan mereka berdua yang seperti ini. Mungkin beberapa orang akan menyebutnya sebagai seorang masokhis karena rela diperlakukan sedemikian rupa. Adrian memutuskan untuk tidak ambil pusing terhadap komentar yang beredar di sekeliling. Barangkali itu bukan hal yang aneh, mengingat banyaknya manusia yang rela jatuh cinta meskipun pada akhirnya hubungan mereka berakhir menyakitkan bagi masing-masing pihak. Seakan di dalam cinta itu seperti ada candu yang membuat manusia tak bisa lepas dari cinta. Bukan. Lebih tepat dikatakan bahwa manusia memang membutuhkan cinta semenjak mereka keluar dari rahim ibunya. Entah cinta itu berasal dari orangtua, teman, benda atau hewan kesayangan, dan bahkan yang paling diharapkan oleh setiap ingsan di dunia: cinta dari pasangan.  ″Too bad,″ kata Adrian dengan nada memelas. ″Permintaanmu yang satu itu sulit kuwujudkan. Tak masalah, jika kamu senang bersikap sadis, namun ingat, aku bukan pria yang bisa segampang itu dipukul mundur. Venus, kamu ingat apa yang diucapkan William Shakespeare dalam Hamlet?″ Lalu Adrian pun mulai mengutip, ″Doubt that the sun doth move, doubt truth to be a liar, but never doubt I love. Kamu boleh meragukan segala hal yang ada di sekitarmu, namun jangan pernah sekalipun kamu meragukan kesungguhan cintaku. Yah, mungkin bagimu ini terkesan sampah, karena kata-kata itu keluar dari mulut seorang pria sepertiku. Meskipun aku bukan penjelmaan dari sosok pangeran berkuda putih yang lebih pantas berkata puitis, namun ketahuilah kesungguhan yang ada di dalam hatiku itu murni dan tidak dibuat-buat.″ Sejenak Venus hanya memandang kosong ke arah Adrian, sebelum akhirnya berkata, ″Jika kamu tahu seberapa penting arti diriku untukmu, seharusnya kamu berpikir seratus kali untuk melukaiku. Kamu nggak bisa merubah keadaan yang nyata terjadi, keadaan di mana sosok yang sekarang kamu lihat ini berbeda jauh dari sosok cewek enam belas tahun yang memuja cinta sebagai hal yang paling murni di dunia ini tanpa berpikir duri yang tersembunyi di balik lipatan sayap putih sang cinta. Luka yang ada di sini, di hatiku, terlalu dalam. Sorry aja, aku bukan kerbau yang bisa jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Dan sekarang,″ tegasnya, ″bawa bunga ini, aku nggak butuh. Dan jangan pernah mengirimiku bunga, baik di kantor maupun di rumah. Itu annoying banget.″ Adrian mulai mendekati Venus dan berbisik, ″Sedalam luka yang ada di dalam hatimu, sedalam itu pula rasa cintaku padamu. Dan, aku nggak mau bawa bunga itu. Kalau kamu nggak malu, kamu boleh buang bunga itu di depan pamanku saat ini juga.″ Setelah Adrian menarik dirinya menjauh dari Venus, nampaklah senyum kemenangan tertoreh di wajahnya. Dan tanpa Venus sadari, ternyata Hartawan sudah berada tak jauh dari mereka berdua. Dalam hati Venus memaki kelicikan Adrian, terpaksa Venus memutuskan membawa serta bunga itu pulang bersamanya. Walau akan lebih baik bagi Venus untuk menggunakan buket tersebut sebagai alat penyiksa. Betapa indahnya jika Venus bisa memukul Adrian menggunakan buket bunga yang dipesannya. Tentu saja, itu hanya ada di dalam pikiran Venus. ″Badak,″ maki Venus pada Adrian yang tersenyum manis di hadapan Venus.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN