6

2367 Kata
Kantor hari ini penuh dengan selebaran yang berisi mengenai laporan kasus-kasus yang harus segera diselesaikan. Semua jari Venus sibuk menari-nari di atas keyboard, beberapa kali Venus melirik ke arah Winda yang keadaannya ternyata tidak jauh lebih baik. Meja Winda dipenuhi dengan tumpukan makalah dan portofolio yang harus segera diselesaikan. Lamat-lamat, Venus bisa memastikan bahwa keadaan seperti ini akan berlangsung selama kurang lebih tiga minggu ke depan. Pekerjaan menumpuk. Ya pekerjaan! Hanya pekerjaanlah yang dibutuhkan oleh Venus. Pekerjaan yang bisa membuatnya lupa akan tuntutan Miranti yang mendesaknya agar segera membina keluarga.  Venus heran, mengapa pernikahan harus dibuat tergesa-gesa, dengan berbagai macam alasan pula. Sudah gede lah, umur yang kelewat, atau jika tidak khawatir akan bahaya hamil di usia tua. Bagi Venus, menikah itu bukan masalah cepat atau tidaknya. Menikah itu harus berdasarkan kesepakatan masing-masing pihak, dan yang paling terpenting adalah masalah kenyaman.  Benar, kenyaman merupakan faktor utama yang harus dipenuhi. Venus ngeri, bagaimana seseorang bisa menikah dengan calon yang bahkan baru dikenal selama beberapa minggu? Bagaimana kalau ternyata si calon itu punya simpanan istri di mana-mana? Atau, bagaimana kalau si calon memiliki kebiasaan pukul sana-sini ketika bertengkar? Big NO! Venus sadar benar dengan kekhawatirannya yang satu itu. ″Ven!″ panggil Winda. ″Abis ini kamu temenin aku ke salon, ya? Aku pusing, butuh refresing.″ Venus hanya mengangguk.  Masalah sebesar apa pun akan hilang hanya dengan pijatan lembut tangan mbak-mbak salon, begitulah prinsip hidup Winda. Sedangkan Venus, masalahnya akan hilang jika dia bisa menemukan cara untuk membungkam cerocos Miranti mengenai calon menantu.  *** ″Mas bro, nih, laporan yang harus kamu baca.″ Johan, pemuda berusia dua puluh enam itu terlihat bersemangat untuk merusak kedamaian Romeo. Tanpa ragu, dia masuk ke dalam ruang kerja Romeo. Tidak perlu basa-basi, Johan langsung meletakkan beberapa map ke atas meja Romeo. Romeo menatap sengit tumpukan map aneka warna.  ″Kamu yakin, ini sudah benar?″ Johan langsung duduk di kursi yang ada di depan meja Romeo. ″Sudah dong. Jangan remehkan kinerjaku.″ Sejujurnya, kinerja Johan sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Dia adalah salah satu pegawai yang pekerjaannya paling sempurna. Semua laporan bisa diselesaikannya hanya dalam beberapa jam, dan yang paling mengagumkan dari Johan adalah kemampuannya memilah setiap lembaran kertas berisi berbagai macam catatan; keluhan, rentetan tuntutan, dan sebagainya. Sayang, karena dia memiliki kepribadian yang sedikit menjengkelkan, akhirnya dia berakhir di bagian pemberkasan. ″Coba kamu lebih serius, aku yakin, Pak Hartawan pasti akan memikirkan kembali posisimu di firma ini.″ Mendengar komentar Romeo, Johan hanya bisa berdecak, ″Ih, udah deh, kayaknya aku merasa lebih nyaman di bagian ini. Lagi pula, cewek di sini cantik-cantik.″ ″Cewek mulu,″ sindir Romeo, ″kerja dong.″ ″Emang benar, kok. Di sini ceweknya cantik-cantik. Memangnya kamu nggak tahu apa, alasan Pak Fabian meminta Kinar untuk menjadi pengacaranya? Dia tuh nggak bisa nolak pesona seorang Kinar.″ Romeo mengambil sebuah map berwarna kuning. Dia mulai membaca laporan yang ada di sana. Sudah biasa baginya membaca sembari mendengarkan komentar dari siapa pun. ″Termasuk kamu?″ celetuk Romeo. ″Iya,″ aku Johan. ″Aku ditolak.″ Romeo mengangguk. ″Dia memang paham kualitas seorang pria.″ Komentar Romeo membuat Johan jengkel. ″Itu gara-gara kamu nolak kencan dengan Kinar.″ Sejenak, Romeo menghentikan kegiatannya meneliti laporan.  ″Kamu tahu dari mana?″ tanyanya. Wajahnya menatap lurus ke arah Johan. ″Ya ampun, orang sekantor tahu lagi. Kamu tuh sebenarnya pengin wanita yang kaya gimana, sih? Kinar. Cewek secantik itu. Kurang apa coba?″ Memang, Kinar memiliki kualitas sebagai seorang istri yang baik. Dia cantik, ramah, supel, dan tidak pernah membeda-bedakan rekan kerjanya. Tidak ada kekurangan yang menempel dalam sosok seorang Kinar. Dia sempurna. Namun, Romeo tidak ingin memiliki hubungan khusus dengan Kinar. Satu-satunya wanita yang ingin didapatkannya hanyalah Venus. Sayang, sepertinya hal itu masih jauh dari angan Romeo. Venus tidak mengenalinya, dan lagi, dia terlalu dingin. ″Sumpah,″ cerosos Johan. ″Kalau kamu terlalu pemilih, nanti nggak ada cewek yang mau mendekatimu.″ ″Harusnya kamu bersyukur dong. Sainganmu berkurang.″ Johan hanya bisa menggelengkan kepala. Nasihatnya sama sekali tidak didengarkan. ″Tahu ah, gelap.″ *** Tepat jam dua siang, Venus dan Winda keluar dari kantor. Mereka berdua segera menunggu bis di pemberhentian bis terdekat. Tidak sampai dua menit, bis yang ditunggu pun datang. Dalam bis yang penuh sesak itu, Venus tak sengaja melihat sepasang kekasih. Nampak, si pemuda menggenggam mesra tangan pasangannya sembari mengutarakan lelucon yang membuat gadis itu cekikikan. Dunia, ralat, bis bagaikan milik mereka berdua dan pengguna bis lainnya hanyalah lalat kecil yang terbang di sekitar pasangan itu.  Dalam hati Venus membentak: Go to hell you freakly couple! Penderitaan Venus berakhir ketika bis menghentikan lajunya.  Venus dan Winda segera berderap keluar dan berjalan menuju mal.  Tidak seperti biasanya, kali ini Venus memilih untuk menunggu Winda di bagian buku. Dia sedang tidak ingin melakukan apa pun di salaon, lebih menyenangkan berlama-lama menghabiskan waktu di toko buku.  Tampak barisan novel romansa berjejer rapi di rak. Beberapa sudah pernah dibaca Venus. Cinta, padahal Venus tidak berminat menjalin hubungan itu dengan siapa pun—setidaknya untuk saat ini. Cinta, perasaan yang bisa memicu hormon endorfin. Hormon yang membawa kebahagiaan, kurang lebihnya seperti itu.  Sayangnya, cinta yang pernah dirasakan oleh Venus membuatnya sakit hati. Venus berusaha mengenyahkan perasaan benci. Memasukan berbagai macam sugesti positif ke dalam ruang pikirnya, mengganti kenangan buruk dengan lembaran kasus yang telah dikerjakannya di kantor. Namun masih saja, perasaan sakit itu menggenang di hati Venus. Mengental dan menyebabkan rasa pilu yang tak terkira. Tidak, aku harus bangkit. Venus memutuskan untuk mengambil kumpulan karya Kahlil Gibran dan segera membayar di kasir. Selepas itu, Venus melenggang keluar dari toko.  ″Aw!″ Tanpa sengaja Venus menubruk seseorang. ″Maaf,″ ucap Venus. Pandangan Venus tertuju pada sosok yang tidak diduga.  Kedua mata hitam yang sempat meruntuhkan perasaan Venus.  Kedua sorot mata yang ingin dihindari Venus.  Kini waktu terhenti, dan Venus merasa raganya akan segera hancur. *** Awalnya Venus hanya ingin mengembalikan catatan yang dipinjamnya dari Adrian. Venus tahu, pacarnya selalu menghabiskan waktu di taman belakang. Harusnya Venus tidak usah mengembalikan catatan tersebut. Jika saja Venus tidak datang ke taman, maka dia tidak perlu melihat pemandangan yang sedemikian rupa. Venus mematung menyaksikan Adrian memeluk mesra Hana—sahabat Venus. Tidak pernah menyangka, jika manusia yang paling dipercayainya itu akan melakukan hal yang sedemikian. Melakukan hal yang demikian keji. Begitu kejamnya hingga Venus tak sanggup berucap; hanya berdiri dalam diam dan menahan tangis.   ″Adrian,″ ucap Hana. ″Apakah—″ ″Sssst,″ potong Adrian sembari menekankan telunjuknya di bibir Hana. ″I love you.″ Hana hanya bisa tersenyum mendengar tiga kata itu. ″Me too.″ Ketika Adrian dan Hana saling membagi cinta mereka masing-masing, seorang diri Venus terisak di belakang pohon yang menyembunyikan sosoknya dari kedua manusia tersebut.  Rasa sakit mulai berdenyut di d**a, begitu menyiksa dan tak tertahankan.  Kini Venus sadar, semua perhatian Adrian padanya hanyalah kebohongan. Dusta yang ditata begitu apik hingga Venus tak sadar bahwa dia hanyalah boneka yang tengah dimainkan.  Adrian tidak benar-benar tertarik pada Venus. Satu-satunya gadis yang berarti bagi Adrian hanyalah Hana.  Susah payah Venus berusaha menahan air mata yang terus membasahi kedua pipinya. Berusaha berpikir bahwa mungkin saja yang dilihatnya tidaklah nyata. Senyum Hana, ucapan manis Adrian, dan kebahagiaan yang terlihat indah.  Venus berusaha tegar dan melupakan kepedihan dikhianati.  Percuma!  Tetap saja, rasa sakit yang berdenyut di hati Venus itu ada. Menyedihkan, mencintai seseorang yang ternyata juga dicintai orang lain. Seolah dunia ini telah berkomplot untuk mempermalukan Venus dengan kenaifannya. Tidak ada persahabatan. Tidak ada kesetiaan. Satu-satunya yang Venus dapatkan adalah pengkhianatan.  Ketika Adrian dan Hana tertawa bahagia, Venus menangis pilu dalam kesendirian. Tidak tahu harus berkata apa kepada mereka berdua. Tidak tahu mana yang harus dipilih. Harusnya Venus mendengar nasihat teman-temannya untuk menjauhi Adrian. ″Ven,″ ucap mereka memperingatkan, ″Adrian itu nggak setia. Dia tak baik untukmu.″ Terlambat. Kini, yang terasa hanyalah sakit.  Venus akhirnya memilih untuk berlari menjauh dan berjanji untuk menghapus sosok Adrian dari ingatannya.  ″Pembohong!″ *** Beberapa tahun telah terlewat, namun, masih saja Venus belum bisa menghapus ingatan terkelam dalam benaknya. Dan kini, Venus duduk semeja dengan manusia yang paling tidak ingin ditemuinya. Jika bisa, Venus memilih dikirim ke Mars dan berjumpa dengan sosok asing bertungkai mirip gurita. Jadi duta antargalaksi pun tak masalah, asalkan di sana tidak ada manusia bernama Adrian. ″Nggak nyangka, bakalan ketemu kamu di sini.″ Adrian mulai mengaduk jus jeruk yang dipesannya.  Sial bagi Venus, dia harus menghabiskan akhir sorenya bersama Adrian. Jika tahu akan bertemu Adrian, lebih baik Venus memilih menemani Winda di salon. Mendengarkan gosip artis pun terasa lebih menggiurkan dibanding duduk bersama musuh bebuyutan. Venus rela mendengar cuap-cuap yang berseliweran di salon. Apa saja, asalkan dia tidak bersama Adrian. ″Oh, ya,″ ucap Venus tak tertarik.  Dunia benar-benar hanya selebar daun, begitu banyak pilihan manusia yang mungkin bisa dijumpai Venus, dan dari sekian pilihan itu, Venus malah dipertemukan dengan Adrian. Tidak menyenangkan. Adrian mencoba menetralkan suasana dengan berkata, ″Reaksi yang sangat menarik.″ Sosok Adrian yang diingat Venus tidak jauh berbeda dari kali terakhir mereka berpisah. Pembawaan Adrian masih tenang seperti sebelumnya. Juga, Venus harus mengakui bahwa pria itu semakin tampan. Venus membenci kenyataan itu.  ″Reaksi?″ ″Kamu nggak pesan, Ven?″ tanya Adrian mengalihkan pembicaraan.  ″Tidak,″ jawab Venus ketus. ″Aku mau pulang.″ Venus segera bangkit dari duduknya, namun tangan Adrian langsung meraih lengan Venus yang membuat Venus sedikit terhuyung.  ″Lepas.″ Venus berusaha menyentak cengkeraman Adrian.  ″Kamu kenapa?″ Kamu kenapa? Haruskah Venus menjawab pertanyaan itu?  Haruskah Venus berkata bahwa sebenarnya dia tidak ingin berjumpa dengan Adrian?  ″Pakek nanya lagi.″ ″Apa ini karena Hana?″ Venus terdiam. Mendengar nama itu disebut, apalagi oleh Adrian membuatnya sakit hati. ″Ven, aku nggak pernah mengiakan perpisahan kita.″ ″Lepas atau aku teriak,″ ancam Venus. Sejenak, kedua mata mereka beradu.  Adrian menatap jauh ke dalam kedua mata Venus. Sosok gadis yang dulu diingatnya sudah hilang tak berbekas. Gadis dengan senyum ceria telah lenyap. Sebagai gantinya, seorang wanita cantik yang kedua matanya dipenuhi dengan bara amarah menatap Adrian. Tak bisa disalahkan, Adrian tahu pemicu kobaran api yang ada pada sosok yang dicengkeramnya itu.  ″Kamu boleh teriak sekeras yang kamu mau. Aku nggak keberatan,″ tantang Adrian. ″Apa kamu nggak sadar dengan pandangan orang di sekitar kita?″ Venus mulai menyisir keadaan di sekitar mereka berdua: tampak berpasang-pasang manik mata tengah memandang penasaran ke arah Venus dan Adrian, menerka-nerka kejadian seru yang mungkin Venus dan Adrian suguhkan. Menyerah. Akhirnya Venus memutuskan untuk menunda kepergiannya. ″Keputusan bijak,″ komentar Adrian puas.  Mengetahui lawan bicaranya bersedia mengikuti perintah, Adrian segera melepas cengkeramannya dari Venus. Dalam hati Venus bersumpah untuk mengutuk seluruh keturunan Adrian, jika perlu, hingga tujuh generasi. Berani-beraninya pria ini memerintah dan mengancam Venus. Andai diizinkan, Venus ingin sekali melempar Adrian dari lantai tujuh.  ″To the point aja,″ keluh Venus. Kedua tangannya terlipat di depan d**a. Menunjukkan sikap defensif akan sosok pria yang ada di depannya. Seulas senyum menghias wajah rupawan Adrian. Tak peduli, meski Venus bersikap superjutek, Adrian tetap saja menganggap Venus sebagai sosok penting.  ″Apa nggak bisa kita menulis ulang kisah di antara kita berdua?″ ″Menulis ulang?″ Enak saja! Venus menggelengkan kepala, tak percaya, manusia yang ada di hadapannya itu ternyata berhati iblis. ″Kamu pikir, bagaimana perasaanku dulu? Hana itu sahabatku. Kamu tahu arti sahabat? Aku curhat semuanya ke dia, dan tiba-tiba saja, boom, kalian berdua sama saja.″ ″Ven, apa yang aku rasakan ke Hana itu sama dengan apa yang kurasakan ke kamu.″ Entahlah, Venus bingung harus memberikan komentar seperti apa mendengar bahwa cowok yang ada di hadapannya itu ternyata buaya sejati. ″Kamu benar-benar nggak punya urat malu.″ ″Terserah, perasaanku masih sama seperti saat kita berpisah. Aku tahu, kamu pasti menganggap diriku sebagai manusia batu. Ketahuilah, jauh sebelum aku bertemu denganmu, aku dan Hana sudah menjalin hubungan.″ ″Apa maksudmu?″  ″Aku dan Hana. Kami berdua sudah berpacaran sejak kelas dua SMP. Memang, dia tidak pernah mengutarakan hubungan kami kepada siapa pun, tidak keluarganya, keluargaku, bahkan dirimu sekalipun. Dan, ketika kami berdua beranjak SMA, dia bertemu denganmu. Sosok sahabat yang selama ini diimpikannya, dan ternyata sahabat yang disayanginya menaruh perasaan terhadapku.″ Adrian menatap tajam sosok Venus sebelum dia kembali bercerita, ″Hana tidak seburuk itu. Dia bahkan memohon padaku agar aku bersedia menjadi pacarmu, meskipun dia sendiri akan merasa sakit. Tidak ingatkah kamu, bagaimana rupa Hana setiap kali melihat kita berdua bercengkerama di depannya? Jika kamu pikir dia jahat, itu salah. Semua itu salah. Dia bahkan rela berkorban lebih dari itu.  ″Dan, seperti yang selama ini kutakutkan, kehadiranmu ternyata mampu mengambil setengah dari posisi Hana. Entahlah, mungkin aku yang tidak waras di sini. Bisakah seseorang di dunia ini menjawab pertanyaanku? Bagaimana bisa hati kita mencintai dua orang di saat yang sama? Tidak ada yang lebih, ataupun kurang. Keduanya sama.″ ″Bull s**t,″ ucap Venus. ″Omong kosong. Jadi, di sini akulah penjahatnya? Bagaimana bisa? Aku nggak bisa menerima penjelasan ini. Hana seharusnya jujur. Apa yang dia lakukan, bukan, apa yang kalian berdua lakukan itu sama buruknya. Kalian berdua ... kalian berdua jahat. Jahat. Bagaimana bisa kalian melakukan hal yang sedemikian rupa? Pergi saja kalian, lenyap saja dari dunia ini.″ ″Hana sudah nggak ada di dunia ini.″ ″Apa maksudmu?″ tanya Venus tak mengerti. ″Dia sudah meninggal.″
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN