Di hiruk pikuk kota, dan riuh realita dunia adanya, sungguh tak ada yang sanggup mendengar gelegar Jiwa Sang Bujang yang sedari tadi menahan hentakan rasa setelah mendengar kata bahwa Diyyara sudah memiliki calon suami.
Duhai duniawi adakah yang mampu meringankan gemertak hati ini oleh sebab sesuatu yang baru saja ia dengar dan membuat Arkana mematung dengan mata memerah menahan tangis jiwa.
Duhai Wajah kematian, sudikah engkau pinjamkan kedua sayap mu, supaya aku, tinggalkan saja getir kenyataan ini, gejolak di batin Arka bergemuruh.
" Ka, Arka, hei" ucap Diyyara sembari menepuk lembut bahu Arka
" Eeee, sorry aku mau ke toilet dulu" jawab Arka, segera bangun dari duduknya berjalan menuju toilet di sudut ruangan.
"Huffttt... " Arka menghembuskan perlahan nafasnya, meluapkan segala kegundahan hatinya.
Pandangan Arka menatap lekat pada cermin di hadapanya dengan kedua tangan menyanggah pada westafel , cermin itu memantulkan kemuraman dari wajah rupawan itu.
Tangan kanan Arkana bergerak memutar kran air, lalu dibasuhnya wajah lusuh itu berharap dapat meredam kemuraman di wajahnya, dengan diakhiri beberapa tepukan di pipinya, ia kembali menatap cermin, mencoba tersenyum untuk memulihkan suasana hatinya.
"Bagaimana pun, kamu tak perlu tau Dy, jika aku menagis karna mu dan aku tak boleh menyalahkan siapapun, sebab aku lah yang salah,"
"Aku yang salah sebab sudah berani mencintai bidadari seperti mu"
"Hufttt..." Arka menghela nafasnya lagi, menguatkan diri untuk menatap wajah Diyyara setelah ini.
“Ka, kamu kenapa Kamu sakit? kok keliatan pucat gitu?”
“Eee, enggak papa Diyy,” dengan mulut kelu menjawab pertanyaan Diyyara, sebisa mungkin menyembunyikan dirinya dari golakan jiwa yang sedang dirasakan.
Arka sebisa mungkin menutupi segala kegundahan agar semuanya berjalan sebagai mana mestinya.
"Kalo gitu untuk mempersingkat waktu, kita langsung aja fitting ya, nanti mas Arka coba bajunya di sebelah sana" ujar Sheryl yang berjalan dari pintu menuju ke arah mereka dengan membawa setelan texudo berwarna hitam dan menyerahkanya ke Arkan yang masih membisu melihat semua hal yang asing baginya.
Dy, andaikan texudo yang akan aku coba ini dapat aku kenakan di hari pernikahan kita, aku akan menjadi lelaki paling bahagia... Dy
Arkana berdiri tegap di depan cermin besar memanjang di tengah ruangan, dengan Sheryl di sampingnya yang sedang merapihkan texudo nya.
"Wahh, di pake Mas Arka jadi keren banget, berasa kaya CEO muda gitu" kekeh Sheryl, Arkan hanya merespon dengan senyum.
Ah betul, Aku terlihat seperti para eksekutif
muda yang wajahnya terpajang di majalah forbes. puji Arka pada dirinya sendiri dengan kedua tangan yang ikut sibuk mengepaskaan jasnya.
Dy, jika Aku seorang eksekutif muda apakah kamu akan memilih ku? atau tetap menjatuhkan hati pada calon suami mu itu, Apakah aku mengenalnya Dy?
Selesai dengan segala urusan, mereka segera kembali, ditengah perjalanan Diyyara berinisiatif mengajak Arkana makan siang di caffe favorite nya, Diyyara fikir bahwa ini saat yang pas untuk menceritakan semuanya pada Arkana, tentang apa yang lelaki itu tidak tau, Diyyara yakin Arkan pasti merasa terkejut dengan semua yang terjadi hari ini.
"Mmmm, Ka, kita lunch dulu yuk, di caffe langganan aku, gak jauh dari sini kok" tawar Diyyara.
"Maaf, Dy. Aku harus segera pulang ke kantor, gak enak sama Mas Jhon, dan yang lain" tolak Arkana lembut dengan tatapan lurus mengarah kejalanan tanpa beralih sedetikpun.
Meski Arka benci dengan hal yang terjadi hari ini, namun Arka tetap bersikap lembut pada Diyyara, sebab ia sudah bertekad tidak ingin menyalahkan siapun. Ini salahnya dan akan tetap begitu.
Diyyara yang paham akan situasi ini mencoba mengerti, menyadari bahwa semua adalah kesalahannya sebab tidak berbicara pada Arkan sejak awal.
Maaf kan aku Ka, terlalu jahat dengan lelaki sebaik kamu. Aku hanya takut kedepanya akan menyusahkan mu.
Maaf Ka. Diyyara membatin, melihat Arkanan yang nampak menghindarinya.
Gadis itu tidak tau saja, jika Arkana juga sangat menyalahkan dirinya sendiri. Arkan menghindarinya bukan sebab marah, namun sedang berusaha menerima semuanya dengan baik.
Diyyara bersandar pada jok mobil, sambil sejenak menutup kelopak matanya perlahan.
Diyyara lelah, ya dia lelah dengan semua ini.
lelah dengan hatinya, lelah dengan hidupnya.
Arkana adalah harapanya, namun lelaki itu pun kini menghindar, Diyyara tau.
Ini salah nya sendiri.
Arkana dan Diyyara sadar, terkadang apa yang kita ingin kan atau harapkan berbeda dengan apa yang kita dapatkan.
Mereka memilih untuk berdamai dan mencoba menjalani apa yang telah di tetapkan untuk kehidupan mereka dengan baik dan mencoba memafkan diri sendiri, mungkin itu adalah obat terbaik dari segala luka hati.