“Maaf untuk ini Honey,” Libra bahkan mengejarku hingga ke dapur. “Plis biar Mas ngomong dulu!” “Nggak perlu! Nggak ada yang harus dibicarakan lagi! Cukup Mas,” aku merintih karena tidak sanggup menahan suara ku yang serak. “Aku kan di sini cuma numpang, jadi… Mana visa dan paspor ku, biar aku pulang ke Indonesia.” Libra menggenggam punggung kursi dapur, langkahnya perlahan mendekat. “Honey, kamu ini hamil muda. Jangan gegabah!” “Nggak usah sok peduli sama aku Mas, udah cukup aku denger semua kata manis yang semata itu cuma kedok. Aku… Mau kita cerai!” Aku bersikeras, sambil menahan apa itu rasa sakit di kepala. Tangisku pecah menahan apa yang sudah Libra katakan beberapa menit lalu, entah dari mana hati itu terbentuk hingga memiliki niat yang buruk. Aku terus m

