Haikal Dennis Rahadyan

1270 Kata
     Mengubah segala yang sudah ditekankan oleh keadaan di hadapanku saat ini memang sulit, berumah tangga dikelilingi harta melimpah juga ketenaran sudah pasti menjadi satu negosiasi tak mampu ditolak. Mengapa? Demi mempertahankan situasi keluarga besar Aderald juga keluarga besarku maka aku harus tetap bertahan dengan perjodohan ini. Ya, pernikahan tidak didasari rasa cinta juga keinginan. Tapi untuk hal setia aku tidak akan janji, apalagi menolak pesona laki-laki penyayang seperti Haikal Dennis Rahadyan.      Pria blasteran Jawa-Maroko itu baru aku kenal selama 2 bulan saat aku datang ke pesta temanku, Nala. Dia sosok pria yang tenang dan mudah bergaul dengan banyak orang, dengan hobinya yang selalu berpakaian santai tapi tetap berkesan mewah itu membuat wajah ovalnya terlihat sangat cocok, warna sawo matang kulitnya pun sepadan dengan caranya bergaya pakaian.      Bukan karena aku seorang wanita b******n dengan lebih dari satu lelaki di sampingku terutama aku sudah menikah, tetapi jujur saja aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Semester satu kuliahku saat itu terbengkalai begitu saja ketika ayahku berpesan sebelum beliau meninggal aku harus menerima pinangan keluarga Aderald, awalnya memang ada kesepakatan untuk aku tetap bisa kuliah tapi semua itu sirna oleh kehamilanku. Tapi apa yang aku pertahankan dengan menyanggupi semua itu nyatanya bayi mungil itu tak bisa aku jaga, aku mengalami keguguran.      Harapan juga cita-citaku sirna begitu saja karena satu masalah 3 tahun yang lalu, aku merasa tidak berarti apapun karena saat itu aku sudah bisa merasakan keberadaan bayiku. Tapi sampai sekarang pun Libra melarangku untuk melakukan kegiatan berat yang bisa menghambat program kehamilan yang tengah kami lakukan, tapi ada satu solusi yang memang ampuh menghilangkan rasa bosan tapi aku tetap bisa bekerja karena Libra sudah memberikan aku sebuah butik juga namaku yang sudah dikenal sebagai penulis. Ya, aku seorang penulis sastra dan sudah ada 3 karyaku yang menjadi buku.      “Hayo.”      Sial. Aku baru saja akan mengumpat di ruang tunggu kantor majalah ternama di Jakarta, seketika aku mematikan ponsel saat aku tengah asyik dengan tulisanku di sebuah aplikasi. Wajah yang selalu tanpa dosa itu menunjukkan gigi putihnya di depanku, tapi jika sudah begini aku malas bersuara karena Nala sudah membuatku terkejut terutama imaginasi yang sudah terkumpul pergi begitu saja.      “Lagi ngapain sih? Asyik banget sampai nggak peduli sama chat aku?” Nala pasti akan mengajukan pertanyaan itu saat kami baru saja bertemu.      “Nggak liat aku lagi nulis? Bikin kaget aja,” aku membuang muka ke arah pintu di mana kantor Haikal berada di dekat kafe perusahaan Inbest Media Group. “Kamu ngapain ke sini? Kok bisa tau aku ada di sini?”      “Idih, aku ke sini juga bukan karena kamu sayang. Aku tadi dapat kabar dari Haikal kalau ada pemotretan mendadak, makanya aku ke sini.” Jawaban Nala meyakinkan.      “Oh… Tapi tadi Haikal nggak bilang kamu mau ke sini sih. Mungkin nggak penting juga dia kasih tau, iya ‘kan?” Aku membalasnya dengan ucapan yang meremehkan Nala.      Aku mendengar Nala mendengus kesal dan aku merasa puas jika melihat sahabatku yang mulai manja, hal itu memang ampuh untuk dijadikan sebuah hiburan di dalam hidupku yang selalu saja sunyi.      “Baiklah, Shafira Zeline Aderald. Jangan merengek ya kalau nanti aku ada pemotretan di luar kota.”      Mendengar ucapan Nala aku mulai was-was, karena sahabatku satu-satunya di Jakarta hanya wanita dengan wajah bulat bertubuh kecil di sampingku. “Emangnya kamu mau keluar kota kapan?”      “Lusa,”      Dengan malas melihat gaya Nala berlenggok seakan memuaskan diri mengejek, aku berusaha mengendalikan diri agar tidak gelisah. “Ada apa di sana? Pemotretan lagi? Haikal ikut juga?”      “Ngapain calon suamimu yang kedua itu ikutan? Kan…,”      Demi apapun suara Nala sangat keras di dalam ruangan yang luas, aku membungkam mulut itu dengan telapak tangan. “Diem! Kamu ini kenapa sih selalu aja berusaha biar orang tau hubungan aku sama Haikal?”      Mulut itu tetap aku pertahankan agar diam sampai akhirnya Nala melawan dan mengikat pergelangan tanganku dengan jemarinya yang lentik. Pertikaian kami pun berakhir dengan canda yang saling menggelitik bagian pinggang tapi tiba-tiba saja Nala berhenti dan menatap ke arah lain, aku pun penasaran dan melihat wajah tampan dengan setelan jas merah maroon itu menatapku dengan senyum meneduhkan.      “Mas,” aku segera bangkit untuk memberikan pelukan seperti biasa. “Udah lama di sini? Kok Mas Libra nggak kasih tau?”      Tatapanku liar ketika pintu ruangan di depanku terbuka, dan memang benar rasa khawatir ini mengarah pada wajah memiliki lesung pipi yang merupakan kekasihku. Sebisanya aku mengendalikan diri agar tidak membuat Libra curiga karena wajahku mendadak pucat pasi.      “Baru aja kok, Mas ada urusan bentar di sini. Kamu ngapain di sini sayang?” Libra mulai membuatku kehilangan akal dengan mengajukan pertanyaan seperti itu.      “Oh aku…,” sial. Lidahku mulai kelu. “Aku…,”      “Pak Libra pura-pura nggak liat ya? Kan di sini ada aku, Shafira nemenin aku pemotretan Pak.”      “Oh hai Nala, maaf saya nggak liat kamu. Maaf ya.” Libra memasang wajah itu lagi, raut yang begitu ramah kepada siapa pun.      Sungguh tak dapat diduga Nala membuat pengakuan palsu tapi itu memang ampuh saat mataku tak lepas dari sosok Haikal yang mulai mendekat ke arahku. Kepala sudah berpikir macam-macam tapi aku tak mampu memberikan pengertian walau hanya ucapan tanpa suara untuk menghentikan langkah Haikal, tubuh tegap dengan tinggi 180 centimeter itu berjalan seolah-olah tidak ada masalah, aku hanya bisa menundukkan kepala saat Libra tanpa henti membelai sisi wajahku.      “Selamat siang.”      Ah kenapa harus posisi ini ada? Bagaimana jika Haikal berbuat nekat memberitahu tentang hubunganku dengannya? Apa yang akan dilakukan Libra?      “Hai, selamat siang. Wah, senang rasanya bisa melihat Anda kembali Tuan Haikal.”      Lagi? Aku mendongak menatap wajah dan mata indah dua pria yang saling berjabat tangan, mereka saling menukar sapaan melalui senyuman. Aku yang terdiam hanya bisa mengamati dua lelakiku saling menjalin keakraban.      “Sama-sama Pak, saya juga rasanya tidak percaya Anda bersedia ke tempat kami yang ya… Sederhana.” Suara bas Haikal sudah membuatku merasa tertekan, itu artinya mereka saling dekat?      “Semua berawal dari hal kecil, dan saya suka sekali bisa menjalin bisnis dengan Anda.” Satu lagi, suara serak basah suamiku rupanya membuat isi kepalaku terasa berat. Ya, rupanya memang Libra dan Haikal menjalin pertemanan karena memperluas bisnis mereka.      Aku masih mengamati senyuman Libra yang memang meneduhkan setiap mata memandang juga tatapan mata tegas Haikal di depanku, bahkan saat Nala pamit saja aku tidak seperti biasanya yang pasti akan mewanti-wanti agar nanti malam dia datang ke rumah jika Libra pulang malam.      Tangan keras selalu menyajikan belaian lembut itu merengkuh pinggang, Libra juga memberikan kecupan mesra di pipi. Situasi terlalu berat untukku, tapi tak ada pilihan yang harus membuat perasaanku tenang.      “Perkenalkan, ini istri saya. Cantik ‘kan?”      Tatapan itu kembali menajam. Aku pun memberikan tangan sebagai sambutan kepada Haikal. “Hai, namaku Shafira Zeline Aderald. Tapi Anda cukup memanggilnya…,”      “Zee.”      Terkejut bahkan rasanya aku ingin pingsan, Haikal tiba-tiba menyebutkan nama yang biasa ia lontarkan ketika aku bermanja-manja dengan malam bersamanya.      “Maaf, saya suka sekali sok tau. Juga hobi bercanda Nyonya Shafira.” Mungkinkah Haikal memberikan aku tanda jika dia marah?      “Oh tidak apa-apa, Mas Libra juga suka sekali dengan nama itu.”      Sialnya aku sudah berkata demikian, ucapanku membuat senyum Haikal memudar. Suasana kembali mencekam karena Libra tiba saja memeluk juga berulang kali menciumi rambut yang tergerai menutupi bahu. Kedua mata indah Haikal menjadi akhir sapaan sebelum aku memejamkan mata menikmati alur yang telah disisipkan dalam kehidupan, dengan merasakan sebuah pelukan hangat tubuh Libra aku mematung tanpa berani menatap mesra ke arah Libra atau bahkan pria dengan nama Haikal Dennis Rahadyan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN