Kesalahan demi kesalahan ini sedang ditegur, aku mengusung tubuhku ke dalam pelukan kain selimut sambil melihat titik salju yang jatuh. Aku menangis, meronta dalam diam karena hampir 2 Minggu ini Libra tidak kembali pulang. Ke mana? Aku takut sekaligus merasa dia pergi karena aku sudah mencaci nya, mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya terlontar. Maaf, hanya itu saja aku mampu berkata dalam hati yang terluka. Bentuk yang kini berusia 7 Minggu hanya mengandalkan kekuatan batin ini sudah menjadi satu dalam derita, aku membelai perutku yang masih terlihat rata. “Sabar ya sayang, nanti pasti kita ketemu sama Papa. Karena Mama janji nggak akan pisahkan kamu sama Papa, yang kuat si mungil nya Mama.” Malam semakin menunjukkan betapa diri ini sangat merindukan, sampai akhirn

