Mabuk

1016 Kata
"Kamu tau?? aku ini penguasa!!" rancau Elena dengan menunjuk dirinya sendiri Elena saat ini benar-benar tidak terkendalikan, dia mengatakan apa yang ada didalam dirinya. Rahasia yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun demi Angga, mantan suaminya yang dengan tega mengkhianati dirinya tanpa perasaan. "Angga!! pria brengsekk, asal kamu tau!! aku penguasa" ucap Elena dengan menunjuk Dion yang hanya diam duduk dengan memegang gelas kecil yang masih terisi alkohol. Hemmss Dion membuang napas lelah! dia yang setuju dengan apa yang Elena inginkan, dia juga yang merasa kasihan dengan Elena. Untuk pertama kalinya Dion merasa kasihan dengan perempuan! hanya pada Elena Dion merasakan Iba. "Len, kamu jangan bicara terus" lirih Dion Elena menoleh ke arah Dion dengan mata memicing! tatapannya kabur setelah meminum alkohol. Dia ingin memastikan siapa yang ada didepannya! Elena berharap orang yang ada didepannya adalah Angga. Elena ingin memecahkan kepala Angga dengan botol wins yang ada disalah satu tangannya. "Angga" lirih Elena "Len ini aku Dion!" sahut Dion "Oh Dion!" lirih Elena kembali berbalik Elena seolah kehilangan arah saat ini, hanya karena mantan suaminya berselingkuh dia sekarang malah suka mabuk-mabukan. Kehidupan lama yang dia tinggalkan demi seorang Angga pecundang yang dulunya tidak layak membawa sepatu Elena, sekarang melupakan asal usulnya. Elena tidak terima dengan apa yang sudah terjadi, tapi dia masih mencintai suaminya, meskipun luka yang Angga berikan. Ahhhh.. Elena berteriak dengan sangat kencang, saat dia merasa dadanya sangat sesak, kesal, marah dan murka. Dion membiarkan saja, tidak ada yang berani mengusik Elena dimana Elena dan Dion sekarang!. Dion sudah memerintahkan anak buahnya agar tidak mengganggu dirinya dengan perempuan yang dia bawa ke club malam, dimana club masih ada dibawa naungan Dion. "Dion!! kamu jangan jadi seperti pria b******n yang sudah melukai perasaan ku" pekik Elena Hikss Hikee Elena kembali menangis setelah mengatakan apa yang ada didalam dadanya!. "Aku sangat mencintai dia, aku sangat menghargai dia, aku meninggalkan kekuasaan ku demi dia, aku meninggalkan segalanya demi dia, aku meninggalkan orang-orang yang baik demi dia! dimana perasaan kamu Ga, kenapa kamu tega?? aku putri satu-satunya Prawari disakiti bagaikan hewan" Elena terus merancu tidak jelas Dion merasa sangat kasihan dengan Elena, dia mengambil ponselnya yang ada diatas meja yang ada didepannya. Dion menghubungi Asisten pribadinya untuk membatalkan kerja sama dengan perusahaan Bramasta. Dion tidak ingin Elena semakin terluka, saat Angga berhasil bangkit tanpa Elena! dia akan membantu Elena menekan perusahan lumayan besar milik Elena. Bahkan kalau Elena rela, dia dengan mudah membuat bisnis Bramasta lenyap malam hari ini juga, tanpa sisa sedikit pun. Dion dengan mudah menghancurkan bisnis yang tidak seberapa milik Elena yang di kuasi Angga saat ini! perusahaan yang sahamnya terus anjlok sejak Angga berpisah dari Elena. Tanpa banyak kata dan banyak drama, Elena memang tengah dalam keadaan sedih, tapi jiwa penghancurnya masih sangat membabi buta dalam dirinya. Dion menarik tangan Elena dengan pelan, setelah dia menghubungi Asisten pribadinya. "Duduk yang tenang!" ucap Dion "Kenapa aku harus duduk! aku ingin memecahkan kepala Angga dan Siska" sahut Elena "Nanti ada waktunya kamu membuat mereka menjadi abu! tapi sekarang dengarkan aku, kita pulang sekarang!" ajak Dion "Pulang??" lirih Elena dengan menoleh ke arah Dion "Kenapa harus pulang??" tanya Elena "Len! ini sudah pukul 2 malam! kamu nggak takut kalau Velia melihat kamu dalam keadaan seperti ini" sahut Dion Mendengar nama putri semata wayangnya Elena menaruh botol wins yang ada ditangannya. Dia beranjak dari duduknya dengan menggandeng tangan Dion! Elena menarik tangan Dion meninggalkan tempat mereka menghabiskan uang. Elena menuruti apa yang Dion katakan, dia juga tidak ingin kalau putrinya tau, kalau Elena bukan lah orang tua yang baik untuk Velia. "Aku sangat mencintai Velia, dia anak angkat tapi sudah aku anggap anak kandung" ucap Elena "Maka dari itu! kita pulang, jangan sampai Velia tau, kamu seperti sekarang dan membuat dia sedih" sahut Dion sangat sabar menghadapi Elena. Entah sihir apa yang Elena berikan pada Dion, sampai sang penguasa sangat lah baik dan sangat sabar menghadapi Elena. Bahkan anak buahnya yang terus saja menjadi pengawal bayangan saja merasa tidak yakin kalau yang mereka jaga adalah Bos mereka yang sangat kejam. Karena melihat sikap, tingkah, tutur katanya saat bersama dengan Elena sangat lah bertolak belakang, tidak sama saat bersama dengan orang lain. Seperti sekarang ini anak buah Dion berbisik-bisik sesama teman mereka! mereka takut salah menjaga orang. Melihat Dion yang sekarang ini, seperti melihat orang lain. Sedangkan Dion sendiri, dia sendiri tidak tau kenapa dia peduli dengan Elena, bukan karena Elena bisa saja melenyapkan dirinya. Tapi ada sesuatu hal yang tidak bisa dia jelaskan dan katakan! melihat Elena merasa sedih dia sangat Iba, ingin menjadikan bahunya untuk sandaran Elena. Tapi dia tidak berani mengatakan apa yang ingin dia lakukan! melihat Elena menangis dadanya ikut sesak dan juga nyeri. Ingin Dion mengusap air mata Elena tapi dia tidak berani untuk menyentuh perempuan yang kini masih menggandengnya. Hah.. Dion membuang napas kasar dengan mengikuti langkah Elena yang tidak seimbang, berulang kali Dion membantu Elena untuk menegakkan tubuhnya. Dion merasa sesuatu yang tidak perna dia rasakan sebelumnya dengan perempuan mana pun. Jangankan digandeng seperti Elena menggandengnya, di dekati saja Dion merasa tidak senang. Bahkan jantungnya terus terpacu saat melihat mata indahnya yang sangat memikat, Dion sempat berpikir kalau dia akan pergi ke Dokter jantung untuk menanyakan soal jantungnya yang bermasalah. Dokter jantung mungkin juga tidak akan paham dengan gejala yang Dion rasakan saat ini. "Seperti ini sulitnya menjaga perempuan" batin Dion membantu Elena masuk ke dalam Mobil. Berulang kali Elena akan jatuh saat akan masuk ke dalam mobil, Dion yang tidak tega dia membantu Elena. Elena menekan leher Dion yang membantunya duduk, tanpa Elena sadari apa yang sudah dia lakukan. Elena mencium bibir Dion berulang kali, membuat Dion diam membisu, seluruh tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan. Bukan hanya itu saja Dion hampir saja jatuh kalau saja dia tidak berpegangan pintu Mobil dengan sangat erat! saking terkejutnya Dion. Belum selesai Dion terkejut, kini Elena kembali berulah menarik kemeja yang Dion kenakan sampai Dion menunduk. "Tampan! kamu mau jadi simpanan ku??" tanya Elena tanpa sadar siapa yang dia ajak bicara. Glekkk Dion menelan ludahnya saat melihat tatapan mata Elena yang sangat polos saat ini, jiwa prianya ingin mencium kedua mata Elena. "Sangat sempurna!" batin Dion Cuppp
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN