"Jadi gini ya rasanya diselingkuhin." Fakhri bergumam sendiri. Ia bersandar pada tempat duduk tribun gedung olahraga indoor lantai dua. Ia duduk di tribun paling tinggi. Di sini ia bisa merasakan sepoi angin dari jendela besar di dinding. Namun, sejuknya angin tak bisa membuat hatinya mendingin.
Rasanya dadanya panas bercampur kesal, kecewa, dan sedih dalam satu waktu. Fakhri ingin sekali menjungkirbalikkan kursi tribun untuk meluapkan emosinya, namun kursi tribun yang tersambung satu sama lain dengan besi terlalu berat untuk Fakhri angkat. Jadi, ia hanya bisa diam duduk bersandar di sana sembari merenungkan hal yang telah terjadi.
"Jadi, ini ya yang namanya karma." Fakhri bergumam sedih seraya tertawa lirih. Lalu berganti menjadi gelak menggelegar. Ia sepertinya sudah gila.
"Woi guguk! Udah gak waras ya lo ketawa-ketawa sendiri?" Itu suara Amal, ia datang begitu tiba-tiba hingga Fakhri terlonjak kaget.
"Dateng-dateng pakai salam dong, ini malah ngatain gue guguk!" Fakhri sewot. Ia langsung mengalihkan pandangannya dari Amal.
Amal mendekat. Naik ke tribun lalu duduk di kursi tribun di bawah Fakhri. "Gimana rasanya karma?" tanya Amal acuh tak acuh.
"Ck. k*****t. Gak enak bro."
"Nah, itu juga yang dirasain cewek-cewek yang lo putusin gitu aja."
"..."
"Lo kalau mau pacaran itu gak boleh egois bro, jangan karena cewek lo nyebelin, lo segampang itu mutusin dia terus cari cewek yang lain."
"..."
"Lo masih idup kan? Kenapa diam aja?"
"Gue gak tau mau bales omongon lo. Tapi, meskipun lo udah jomblo dari lama omongan lo ada benernya juga."
Amal berdecak. Inginnya ia memukul Fakhri atas ejekkannya barusan. Namun, melihat situasi Fakhri kali ini, Amal mencoba sabar.
"Gue liat Clara sama Deon. Kayaknya mereka pacaran."
"Lo liat dimana?"
"Di kantin."
"Oh, jadi namanya Deon."
"Lo gak tau?"
"Enggak, baru aja gue tau. Kan lo yang ngasih tau."
"Ck. Ini nih kebiasaan lo yang sering caper ke cewek-cewek, mainnya gak jauh-jauh dari cewek. Sama si Deon aja lo gak tau."
"Ck. Ejek aja gue sepuas lo."
Amal nyengir. "Anjir!"
"Mal, gue mau nanya."
"Apa?"
"Kok lo bisa tau gue di sini."
"Kalau enggak di sini ya di mana lagi. Gue tau banget tempat ini udah tercemar sama tingkah busuk lo, yang bawa pacar lo pas istirahat berduaan di sini."
"Ha?!" Fakhri membelakkakan mata. Ia tak percaya Amal tahu hal itu.
"Mentang-mentang di sini sepi. Malah asik-asik si anjir!"
Fakhri betulan tergelak. Kali ini bukan karna ia tak waras, namun karna Amal. Ia tak menyangka Amal tahu hal itu, padahal ia sudah hati-hati mencari tempat sepi. Lain kali, ia akan pindah lokasi.
**
"Jadi ini pacar lo Din." Rara memperlihatkan ponselnya yang menampilkan akun sosial media milik Dina, di sana ada foto Dina bersama pacarnya.
"Iya. Namanya Raka. Seangkatan sama Bang Rafdan."
"Ganteng. Pinter ya lo cari cowok." Rara tertawa kecil seraya mengacungkan ibu jari pada Dina dan merasa bangga akan temannya itu.
Kristi mengangguk setuju. Memang ya, kalau punya teman yang memiliki pacar dengan wajah di atas rata-rata, entah kenapa rasanya malah bangga. Kadang, bisa juga dijadikan ajang mencari pasangan oleh teman laki-laki dari si pacar teman kita ini. Kristi punya firasat, Rara akan minta dicarikan pacar pada pacarnya Dina. Maka sebelum itu, Kristi hendak tahu sudah berapa lama hubungan Dina dan Raka. Karna kan, baru akhir-akhir ini Dina dan Kristi berteman dekat. Jadi, tidak masalah bukan kalau Kristi ingin tahu?
"Udah berapa lama pacaran sama dia Din?"
"Hm. Udah setengah tahun."
"Wah, gila aja. Udah lama dong ya."
Dina nyengir. "Iya Kris."
Rara kemudian beralih ke akun sosial media pacarnya Dina, yang ia ketahui pada postingan Dina dengan men-tag akun pacarnya itu. Di sanalah, Rara menemukan teman pacar Dina yang lumayan ganteng.
Ia pun seketika heboh, bertanya pada Dina. "Din, Din, ini temennya pacar lo ya?"
"Oh itu, bukan. Dia sepupunya."
"Ganteng anjir, kenalin dong."
Nah tuh kan, apa kata Kristi! Awalnya memang minta kenalan, ujung-ujungnya PDKT dan kalau memang untung akhirnya menjali hubungan pacaran.
Mereka bertiga sedang berjalan bersisian menuju Kelas, sehabis dari kantin. Koridor kelas menuju kelas mereka terlihat lengang. Kristi mengintip ke kelas-kelas yang ia lewati dan tak ada orang sama sekali. Memang ya, kalau sedang jam istirahat begini kelas selalu kosong melompong. Mereka lalu memutuskan duduk-duduk di depan kelas. Duduk lesehan di lantai teras , tepat berhadapan dengan taman kecil yang ada di depan kelas.
"Dina, bisa ngomong sebentar?" Suara itu datang tiba-tiba. Jujur membuat ketiganya terkejut, namun reaksi setelahnya adalah tatapan penuh kagum. Suara itu berasal dari Raka, pacar Dina.
Dina lalu beranjak dari duduknya dan berujar. "Gue pergi dulu ya."
"Iya!!" Kompak Rara dan Kristi berseri setuju. Ke duanya heboh bukan main. Ternyata dilihat secara langsung, Dina dan Raka cocok sekali.
"Mereka cocok banget, gue jadi tambah bangga sama Dina." Rara berseloroh sembari sesekali melirik ke arah Dina dan Raka yang bicara berdua di ujung koridor kelas.
Ke duanya tampak tertawa. Dan dilihat-lihat Dina sama sekali tak canggung dengan pacarnya. Apa karena hubungan mereka sudah berjalan setengah tahun ya?
"Uhh, jadi pengen punya pacar." Rara bicara lagi.
"Gue doain lo jodoh sama sepupunya pacar Dina."
"Wuahhh. Semoga ya Kris."
Lalu ke duanya sibuk dengan akun sosial media sepupu pacarnya Dina. Tak sulit untuk mengetahui akunnya, karena ada pada salah satu postinga pacarnya Dina, cowok itu men-tag akun sepupunya.
Nama akunnya Dean Pratama. Seangkatan dengan pacar Dina yaitu kelas tiga SMA di sekolah sebelah. Jarak sekolah sekitar tiga kilometer dari sekolah Rara.
"Namanya Dean, Ra. Gak jadi sama Deon dapatnya Dean." Kristi tergelak karna ucapnnya sendiri. Rara pun juga ikut tergelak.
Karena mereka berdua sibuk tertawa hingga tak menyadari seorang gadis yang lewat dan terlihat sibuk menutupi lehernya. Rara yang pertama kali sadar, ia mengernyit heran melihat gadis itu dan memerhatikan leher yang berusaha ditutupi oleh gadis itu, sampai ia sadar mendapati jejek merah di lehernya.
"Anjir, abis ngapain tuh cewek." Rara jadi salty.
"Kenapa?" Kristi yang tak tahu apa-apa, jadi penasaran.
"Lehernya ada bekas cupang."
"Ikan cupang?"
"Bukan anjir. Cupang itu bekas cipokan di leher."
"Ohhhh. Parah sih, begituan di sekolah."
"Iya kan? ckck."
Gadis itu adalah Clara yang mereka lihat di kantin tadi.
"Nah itu alasan gue nolak jadi pacar si Deon. Si cewek itu aja udah begitu di sekolah, gimana kalau di luar sekolah coba." Rara bergidik ngeri. Ia bersyukur karna saat masa pendekatan dengan Deon ia tak jatuh pada pesona cowok itu. Percuma saja ganteng kalau malah merusak.
**
Bang Rafdan
Dek, nanti pulannya tunggu aja di pos satpam ya, gak usah ke gedung olahraga.
Setelah kejadian hari itu, Fina tidak dibolehi melihat Rafdan bermain basket. Melangkah ke gedung olahraga saja sudah tak boleh. Apalagi masuk ke dalamnya. Fina merasa akhir-akhir ini ia sedikit lebih bangga dengan dirinya, karena kejadian hari itu membuat ia terkenal dan dibicarakan orang-orang. Kebanyakan sih bilang kalau dirinya keren menolak terang-terangan Fikri tukang caper itu.
Pulang sekolah ini, Fina menurut untuk menunggu di pos satpam sekolah sesuai perkataan Rafdan. Namun, agaknya pos satpam bukanlah tempat yang tepat. Sebab, ia harus melihat bagaimana dekatnya Kristi dan Amal.
Fina beringsut mundur, sembunyi di balik dinding pos satpam agar tak terlihat ke duanya.
Kristi dan Amal berjalan bersisian menuju pos satpam sekolah. Kristi masih memikirkan gadis tadi. Ia seketika bergidik ngeri dan teringat salah satu temannya di SMP yang putus sekolah karna salah pergaulan.
"Amal." Kristi mendekat lalu memegang lengan Amal.
"Kenapa? Lo kayak lagi mikir sesuatu. Mikirin apaan sih?" Amal menaikkan alis seraya menoleh.
"Lo liat kan cewek yang di kantin tadi, yang bareng Bang Deon."
Amal mengangguk. "Liat. Terus kenapa?"
"Tadi, dia lewat depan kelas sambil nutupin lehernya bekas cupang."
"Anjir. Lo tau cupang itu apa?"
"Tau. Bekas ciuman di leher kan."
"Tau darimana."
"Dari Rara. Awalnya gue ngira ikan cupang masa."
Amal tergelak. Ia lalu merangkul Kristi dan kembali berjalan menuju Pos satpam, tempat sepeda Amal di parkir.
"Makanya kalau cari cowok harus hati-hati. Jangan asal iya aja kalau ada yang minta deket. Lo harus selalu bilang ya siapapun cowok yang deketin lo ke gue, karna gue gak mau lo salah pergaulan dan malah jadi cewek gak bener."
Kristi mengangguk patuh. Ia sangat bersyukur kenal dengan Amal yang selalu menjaganya dari hal-hal yang buruk. Dalam keadaan seperti ini, Amal seperti Abang-able.
Amal pun mengambil sepedanya dan Kristi duduk di jok belakang, tak lama ke duanya sudah keluar dari gerbang sekolah.
Fina mendesah lega. Ia lalu keluar dari persembunyiannya dan melihat Amal dan Kristi yang sudah menjauh. Mendengar omongan Amal tadi, Fina rasa ia jadi semakin suka dengan cowok itu. Namun, di sisi lain ia iri sekali dengan Kristi yang mendapat perhatian Amal sampai seperti itu.
Dalam benaknya Fina berpikir, "Kapan ya gue bisa digituin Amal juga."
Bosan menunggu Rafdan sendirian di pos satpam karena agaknya Rafdan agaknya masih lama di gedung olahraga. Fina memutuskan kembali masuk ke sekolah. Lalu menuju ruang UKS, menjenguk Clara.
Tadi, setelah istirahat Clara izin ke UKS karna sakit kepala. Namun, Fina tak yakin Clara benar-benar sedang sakit kepala. Sebab, pagi tadi gadis itu tampak senang bukan main mendapat ponsel baru. Jadi, tidak ada kolerasinya tiba-tiba gadis itu malah sakit kepala.
Ruang UKS terlihat lengang. Fina melangkah masuk dan menuju tirai yang tertutup di paling ujung. Ia lalu menyibak tirai itu dan mendapati Clara sedang sibuk dengan ponsel barunya.
"Jadi ini maksud lo yang sakit kepala itu?" Fina bersedekap d**a. Ia merasa kesal melihat tingkah Clara akhir-akhir ini.
Clara adalah teman dekat Fina sejak SMP. Namun, saat masuk SMA dan Clara bergaul dengan Deon, Clara jadi berubah lebih nakal. Memang sih saat SMP Clara sering tidak mengerjakan PR, telat datang ke sekolah namun masih bisa dianggap wajar. Sebab saat itu Clara masih dalam masa kesedihan karna orang tuanya bercerai. Tapi, kali ini agaknya Clara lebih kelewatan lagi.
Karna Clara hanya meliriknya dan kembali sibuk dengan ponsel barunya, Fina jadi dibuat makin kesal. Ia langsung merebut ponsel itu dari tangan Clara.
"Apaan sih Fin!!" Clara sontak beranjak untuk duduk dan saat itulah Fina melihat jejak merah di leher gadis itu.
"Demi apa Clara, ada ini di leher lo!!" Fina pun murka, ia menyibak rambut Clara yang menutupi leher dan mendapati sekitar tiga bekas merah di leher gadis itu. "Ck. Lo mau dicap jadi cewek gak bener?"
"Maksud lo apa Fin?!"
"Gak usah pura-pura b**o! Gue kan udah bilang jangan deket-deket sama si Deon itu. Sekarang lo belum sah jadi pacarnya aja udah jadi begini, gimana kalau lo jadi pacarnya, ha?!"
"..."
Tiba-tiba suara gedebak gedebuk dari luar ruang UKS membuat keduanya terdiam. Padahal Fina sudah hendak bicara lagi dan segera membungkam mulutnya sendiri. Kali ini, ia menajamkan telinganya.
"Dia ada di sini? Berani-beraninya dia deketin Deonnya gue!!"
Mendengar itu, Fina sontak menarik Clara untuk segera bersembunyi di bawah tempat tidur. Fina menutup mulut Clara yang tampak syhok, agaknya ia tidak mengira akan hal ini.
Fina mengawasi langkah kaki orang itu. Kira-kira ada sekitar tiga orang yang masuk ke dalam ruang UKS. Dari suaranya Fina menebak kalau orang itu adalah suporter tim basket sekolah. Sebab, suaranya yang terdengar nyaring saat menyemangati tim basket bertanding waktu itu dan Fina ingat betul suara dan wajah gadis itu. Dari cara bicara orang itu, agaknya dia pacarnya Deon. Namun, saat jadi suporter tim basket sekolah orang itu terlihat menempeli tim basket terutama si Raka temannya Rafdan.
Kalau tidak salah kira, ia adalah Kakak kelas dan satu geng yang terkenal garang dan suka menindas adik kelas dari rumor yang beredar. Fina jadi takut. Namun, ia malah mendapati badan Clara bergetar hebat. Gadis itu lebih terlihat takut. Fina jadi kasihan. Ia menarik tangan Clara untuk ia genggam dan berharap untuk kali ini saja, ia dan Clara aman dari hal-hal buruk yang sudah bisa Fina bayangkan.
"Gila aja ya tu cewek, mepet-mepetin Deon. Gara-gara lo kena skors ni Jen, makanya dia berani." Suara lain terdengar memanas-manasi.
"Dasar! Kemana sih tu cewek! Awas aja kalau ketemu."
Untungnya, gadis-gadis itu tidak memeriksa seluruh ruang UKS. Hari ini akhirnya Fina dan Clara selamat. Ke duanya mendesah lega saat suara langkah kaki gadis-gadis itu sudah menjauh dari pintu UKS, Fina pun melepas genggaman tangannya pada tangan Clara. Sebagai gantinya ia memukul keras kepala Clara dan mulai mengomel.
"Kan itu baru satu hal buruk yang bakal terjadi ke elo. Belum lagi hal-hal buruk lainnya. Lo mau?"
Clara menggeleng, ia mulai terisak. Ke duanya masih di tempat yang sama, di bawah ranjang ruang UKS.
"Maaf Fin." Clara berujar lirih.
**