"Faen?" Deg Deg Rasya mematung di tempatnya, matanya masih mebelalak lebar melihat apa yang tengah Percy pegang. Ia merasa seluruh tubuhnya kaku dan sulit sekali untuk di gerakkan. Bahkan untuk sekedar menelan salivanya sendiri terasa begitu sulit. Percy beranjak dengan membawa boneka kodok hijau itu, ia berjalan mendekati Rasya. Dan saat ini ia sudah berdiri tegak tepat di depan Rasya yang masih menatap dirinya dengan kaku dan jantung yang berdegup hebat. "Apa maksud semua ini?" tanya Percy penuh penekanan. "I-itu." "Katakan kalau kamu bukan Faen!" Mendengar bentakan Percy membuat Rasya terlonjak kager, ia sampai mundur selangkah ke belakang. "Katakan Rasya Prasaja!" pekiknya dengan mata yang memerah karena emosi. "Itu, a-aku-" "Ternyata benar kamu." Percy tersenyum sinis deng

