4. Lonceng, Mawar Putih, Janji Palsu

958 Kata
15 menit sudah Divya dan ayahnya menunggu rekan bisnis sekaligus pria yang akan dijodohkan dengannya datang. Di sebuah restoran fin dinning yang mewah ini mereka akan membahas perjodohan dan sekaligus tanggal pernikahan yang akan segera mereka lakukan. Divya hanya tertunduk pasrah dengan segala nasib yang harus ia lalui. Jika ini yang mampu membuat ibunya bahagia. Dengan segala ketulusan hati, ia mencoba untuk merelakan dirinya pada sebuah perjanjian bodoh bernama "perjodohan". Pintu ruangan itu terbuka. Menampakan 2 orang pria dengan beda usia yang terlihat jelas dari postur tubuh dan juga wajah bagi Divya. Seketika itu juga ia berdiri dan membungkuk memberi hormat, sekalipun ia tahu seorang pria paruh baya ini lah yang berstatus menjadi rekan ayahnya dan akan segera menentukan tanggal pernikahan yang mungkin tak akan ia anggap nantinya. "Ini putrimu, pak Geo?" Tanya pria paruh baya itu ketika menemukan Divya diantara mereka. Divya hanya mencoba untuk tersenyum ramah. Walau bibirnya terasa kaku. Apa lagi melihat raut wajah seorang pria yang berdiri di belakang rekan ayahnya. Raut wajah yang tak bersahabat. "Sangat cantik. Dia memang seperti boneka barbie dan sama sekali tidak berbeda dengan apa yang pernah aku lihat di majalah." Sambung rekan ayah Divya. "Hahaha.. kamu bisa saja, Pak Nuraga. Dan apa ini adalah putramu? Dia terlihat tampan dan menawan." Ujar ayah Divya memuji seorang pria yang ternyata adalah putra dari rekan ayahnya. Pria yang juga akan segera dijodohkan dengannya. "Perkenalkan dirimu." Perintah ayah pria itu. "Selamat malam, Om. Saya Haydan." Ucap pria itu. Ya, Haydan Edzard Nuraga. "Sayang, perkenalkan dirimu." Ucap ayah Divya. "Saya Divya, senang bertemu dengan anda." Ucap Divya memperkenalkan diri dengan ramah. Setelah perkenalan itu, mereka duduk di kursi yang sudah tertata rapi di ruangan itu. Divya dan Haydan hanya menjadi pendengar di pertemuan itu. Jika mereka bertemu pandang, segera mereka mengalihkan pandangan mereka kearah lain. Haydan sebenarnya tahu jika itu Divya. Model terkenal di Indonesia ini. Ia tersenyum sinis ketika mulai memikirkan bagaimana seorang model seperti Divya yang akan menjadi istrinya. Karena menjadi model adalah sebuah pekerjaan sia-sia bagi Haydan. Terpikir olehnya untuk membuat wanita ini berhenti dari pekerjaannya. Dan membuatnya menjadi wanita rumah, lalu setelah itu ia akan menceraikannya. Kejam? Itu sudah menjadi resiko bagi Divya karena sudah menyetujui perjodohan ini. "Aku pikir kamu tak akan berharap apapun dari pernikahan bodoh ini minggu depan. Jadi jangan terlalu bangga dengan statusmu nanti." Ujar Haydan ketika hanya mereka yang tersisa di ruangan itu. Orang tua mereka memang sengaja meninggalkan mereka untuk berbicara dan saling mengenal atau mengakrabkan diri. "Tenanglah, tuan Haydan. Aku bahkan nggak akan menganggap pernikahan bodoh ini pernah kulakukan. Jadi jangan terlalu bangga dengan argumen kamu itu." Ucap Divya. Lalu ia berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan Haydan yang terlihat kesal karena Divya bukanlah seorang wanita lemah seperti yang ia pikirkan. . /// . TENG! TENG! TENG! Suara lonceng gereja berbunyi merdu dan terdengar hingga ke dalam gereja itu. Banyak orang yang tengah ada di sana . Bukan karena hari minggu sehingga mereka datang untuk memanjatkan doa mereka. Tapi karena ada sebuah janji suci yang akan segera terucap di dalam gedung mewah gereja ini. "Haydan Edzard Nuraga, bersediakah kamu mencintai Divya Lavani dalam suka maupun duka, dalam senang maupun susah, dalam keadaan sehat maupun sakit?" Tanya pendeta yang memimpin pernikahan mereka pada Haydan yang terlihat menatap ke depan kosong. Hingga pendeta perlu mengulangi kalimat itu lagi. "Haydan Edzard Nuraga, bersediakah kamu mencintai Divya Lavani dalam suka maupun duka, dalam senang maupun susah, dalam keadaan sehat maupun sakit?" Ulang pendeta itu dan akhirnya Haydan tersadar dari lamunannya. "Ya, saya bersedia." Jawab Haydan ragu. Keraguannya ini muncul ketika melihat sesosok wanita yang berdiri di antara para tamu undangan dengan wajah kacaunya. Rosa, maaf... "Lalu, Divya Lavani, bersediakah kamu mencintai Haydan Edzard Nuraga dalam suka maupun duka, dalam senang maupun susah, dalam keadaan sehat maupun sakit?" Tanya pendeta itu pada Divya. Divya memejamkan matanya sebentar, mencari keyakinan yang hampir hilang dan malah tergantikan dengan keraguan yang sudah hampir sampai pada ujung lidahnya untuk menolak. Namun... "Ya, saya bersedia." Ucap Divya akhirnya. Divya hanya memasang wajah datarnya ketika kini ia berhadapan dengan Haydan yang hendak menciumnya. Sebagai tanda bahwa dia sudah menjadi milik Haydan. Dan Haydan pun tak benar-benar berniat untuk melakukannya. Ia hanya mendekatkan wajah itu. Wajah yang cukup menarik sebagai seorang wanita, dingin dan tanpa ekspresi. Seharusnya wanita ini memang lebih cocok menjadi seorang pria. Karena terlalu mempesona sebagai seorang wanita dengan paket lengkap, tapi dengan cepat Haydan menepis semua pikiran itu ketika Rosa memandangnya sendu. Dan ia tak suka Rosa seperti itu. Setelah lama wajah mereka berdekatan. Ya, hanya berdekatan. Haydan menarik lagi wajahnya dan tersenyum sinis pada Divya, namun lagi-lagi hanya tatapan dingin tanpa ekspresi sebagai respon dari Divya padanya. Suara tepuk tangan memenuhi ruangan ini. Sebagai perayaan atas pernikahan Haydan dan Divya. Pernikahan yang cukup bodoh bagi mereka. "Yeah! Divya kita pasti bahagia banget hari ini!" Sambut Nata ketika Divya menghampiri rekan-rekannya di tengah pesta pernikahannya dengan Haydan. PLETAKK! "Aish…elo..." Rintih Nata. "Ck! Lo lihat apa gue bahagia, hah?" Sungut Divya. "Tapi setidaknya nanti malam pasti kita akan bakal punya keponakan..." Celetuk Gusta salah satu teman model Divya. "Bangke! Bahkan gue nggak bakalan pernah ngelakuin itu! Dasar m***m!" Umpat Divya. Divya tertawa dan bercanda bersama teman-temannya. Tak menghiraukan bagaimana orang di sekelilingnya memandang aneh dirinya yang justru lebih memilih menghabiskan pesta bersama teman dibanding sang mempelai pria. Selain itu, berkat perangai dinginnya is selalu disalah artikan oleh orang lain. Cuek, kasar, sombong dan lain-lain. Ia memang dingin, tapi itu tak berlaku untuk orang yang sudah mengenalnya dengan baik. Dan Haydan sejak tadi memandangi Divya dari kejauhan. Mengevaluasi wanita yang baru saja dinikahinya beberapa jam yang lalu, Ia baru menyadari Divya adalah pribadi yang cukup menarik. Gadis yang menarik. Dan permainan kita baru saja dimulai. Batinnya. . /// .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN