Sepanjang jalan Ariana melamun, pertemuannya dengan Anka barusan menambah perih hatinya yang belum pudar. Dari bagaimana cara Rebecca menatap Anka, dia sudah tahu, gadis itu tergila-gila padanya. Perutnya kram, Ariana menjerit di dalam taksi. "Bu, mau ke rumah sakit Bu?" Ariana menggeleng, "apartemen saja Pak." Ia memutuskan pulang dan beristirahat. Ariana berbaring di kasur, kram perutnya semakin mengeras seperti meremas-remas seluruh organ dalamnya. Menahan sakit, Ariana menghubungi David. "Hai, Sayang." Sapa David di sana. "Vid, ke apartement gue Vid. Gue kesakitan, tolongin gue Vid." Ariana setengah berteriak. "Tt--tunggu Ar, gue kesana sekarang." Ariana memejamkan mata, berharap David cepat sampai dan membawanya ke rumah sakit. David mengetuk seperti orang gila. Ariana terlalu

