Tatapan Varo seketika menjadi tajam ketika melihat seorang gadis tengah berbincang asik dengan lawan jenisnya. Gadis yang tidak lain adalah Stefanni itu langsung dihampirinya dan ditarik tangannya oleh Varo. “Kenapa sih?” heran Stefanni sembari menghempaskan tangan Varo dengan cukup kasar. “Siapa tadi?” tanya Varo tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Stefanni. “Temannya Vina, Var. Yang aku ceritakan tempo hari,” jawab Stefanni. “Kenapa ngobrolnya begitu?” tanya Varo, lantas ia duduk di sebuah kursi yang kosong di sana. Tak ingin lelah berdiri sendirian, Stefanni pun juga duduk, ia mengambil tempat duduk di samping Varo. “Kamu enggak malu apa? Ada teman-teman Vina tuh, ada teman-teman kamu juga. Dilihatin sama mereka, Var.” “Ngapain malu? Justru bagus kalau mereka lihat. J

