8. Hati (Bagian Dua)

1437 Words
Tatapan bosan dihadiahkan Elliot karena menatap orang-orang yang meremehkannya, tetapi kemudian ia menyoroti mereka dengan mata datar dan dingin. Seketika, para lelaki yang berniat mengerjainya di sore hari saat ia sedang menunggu Emma seperti biasa di bawah pohon tempat kegemaran mereka, terdiam kaku saat berhadapan dengan dirinya satu lawan satu. Tiga orang pemuda yang terlihat ingin menghajar Elliot karena sudah membuat idola mereka—Vassa si model karena mencoba mengakhiri dirinya saat mendengar rumor sang iblis telah memiliki kekasih, pun terdiam kaku karena merasakan kejanggalan di tubuh mereka karena telah berhadapan dengan lelaki yang dijuluki iblis. Bukan tanpa alasan, tetapi sekarang mereka tahu kenapa Elliot mendapatkan julukan seperti itu. Lelaki yang memiliki rambut kecokelatan gemetar saat merasakan aura Elliot yang menyengat bagai lebah. Mereka seperti melihat bayangan hitam yang menatap mereka dengan mata merah mengerikan dan seketika membuat mereka tidak sadarkan diri. Elliot menatap ketiga lelaki yang pingsan itu dengan pandangan dingin, lalu ia berbisik pelan kepada bayangan hitam yang mengikutinya. "Seharusnya kau tidak perlu menampakkan diri," ucapnya datar. Lelaki itu kemudian meninggalkan mereka. "Aku hanya membantu, aku tidak ingin adikku disakiti." Noah menahan senyum karena melihat sang adik yang mendecak dan akhirnya mengembuskan napas. "Merepotkan kalau mereka pingsan." Mengalihkan atensi kepada tiga lelaki itu, kemudian menatap bayangan hitam di belakang tubuh. Ia melangkah, kemudian pergi dari tempat itu seraya mengambil ponsel untuk mengabari Emma bahwa mereka tidak jadi berjumpa di bawah pohon karena ada pengganggu. "Hei! Jadi, aku tidak mengetahui bahwa kau sebegitu bernafsunya dengan calon adik iparku itu. Kalian masih berpacaran, jadi kau jangan sembarangan mencium atau menggigitnya." Kembali Noah berbicara dan menyeringai senang karena berhasil menggoda sang adik. Bahkan, wajah si bungsu itu sudah memerah. "Jangan membuatku seperti orang gila karena meladeni ucapanmu." Lelaki itu cemberut, kemudian menatap tajam dan berbicara dengan suara seperti seseorang yang tengah berbisikan. "Tapi jujur saja. Emma itu memang menggemaskan. Sepertinya aku menjadi tertarik kepadanya. Dan aku ingin menciu—" "Jangan bercanda!" Semua orang yang tadi menjadikan Elliot sebagai bahan bergosip mereka, menjadi terdiam. Mereka ketakutan setengah mati karena tidak biasanya sang iblis marah saat mendengar bisikan-bisikan mereka. Elliot yang baru menyadari kalau dirinya berada di lorong kampus karena sedari tadi meladeni sang kakak, pun menjadi pusat perhatian. Dan ketika ia menatap mereka yang terdiam ketakutan, semuanya menjadi tertunduk menatap jari kaki masing-masing. Kepalang tanggung, Elliot kemudian menarik kerah seorang lelaki yang tadi menatapnya, lalu ia menyeret sosok itu ke hadapannya hingga mereka saling berhadapan satu lawan satu. "Dengar, aku tidak akan segan-segan menghancurkan siapa pun yang berani menyakiti Emma, mengerti." Noah tersenyum kecil melihat tingkah adiknya, ia pun menambahkan kesan suram dengan dramatis kepada Elliot yang tengah mengucapkan ancaman dengan suara yang sangat datar. Ya, karena ini sore hari, Noah sengaja membuat lampu-lampu penerang lorong menjadi berkedip-kedip dan membuat angin di dalam lorong gedung filsafat itu bertiup dingin hingga membuat orang menggigil ngeri. Entah dari mana angin itu datang padahal gedung ini menggunakan AC. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di lorong gedung filsafat itu pun menjadi gemetaran karena melihat kemarahan Elliot untuk pertama kalinya. Setelah Elliot melepaskan cengakramannya dari lelaki yang sudah berkeringat dingin itu dan kemudian berjalan santai, barulah lampu-lampu yang ada di sepanjang lorong kembali normal. Mereka yang masih terdiam di sana saling menatap dan bahkan ada beberapa mahasiswi yang langsung menangis karena teramat ketakutan. Beberapa ada yang menenangkan diri, ada yang kesal dan menatap takut-takut kepada punggung Elliot yang melangkah pergi. *** Dengkus napas terdengar, Elliot bersumpah ingin mencekik sang kakak yang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi. Lelaki itu dari tadi terus saja menertawakannya dan menirukan kata-kata ancaman yang ia berikan kepada orang-orang di kampus. Setelah mengantar Emma ke kediaman gadis itu, Elliot yang sedang tiduran di kasurnya pun memicingkan mata karena kesal. Kalau bisa, ia ingin melempar vas bunga yang ada di meja nakas, tetapi itu akan menjadi sia-sia karena Noah adalah jiwa dan tidak bisa disentuh. "Hahaha... membela Emma... ya ampun, adik iparku pasti merona jika mendengarnya. Hahhah... Elliot, oh Elliot. Kau sangat romantis ternyata. Elliot, seharunya kau berkata seperti itu di depan Emma." "Diamlah, Bodoh. Ini semua gara-gara kau." Elliot mendudukan diri di ranjangnya sekarang, ia menatap Noah dengan pandangan kesal, kemudian kembali berbicara, "Dan apa-apaan itu, kenapa kau malah membuat sedramatis itu? Bisa-bisa rumor tentangku semakin bertambah parah. Bagaimana kalau Emma minta putus karena aku ini benar-benar setengah iblis?" Sekarang ia menjadi tidak tenang, sebab Emma memang belum tahu tentang status dirinya yang setengah iblis. Lagi pula, Elliot juga belum bisa jujur kepada gadis itu. Tidak ingin hal yang ia pikirkan menjadi nyata, contohnya Emma meminta putus karena ia bukanlah seorang manusia biasa. "Sudahlah, seharusnya sedari dulu kau beri mereka pelajaran. Kenapa kau sangat tidak acuh dengan masalah seperti itu. Kau bisa memenjarakan mereka dengan tuduhan pencemaran nama baik." Mendengar ucapan sang kakak, membuat Elliot mengembuskan napas dramatis dan kembali menjatuhkan tubuh ke ranjang. Ia menatap langit-langit kamar sejenak dan memejamkan mata sebelum berkata sesuatu kepada saudaranya itu. "Buang-buang waktu saja." Setelah Elliot mengucapakan kalimat tersebut, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua, sementara Elliot memutuskan untuk mengistirahatkan diri sejenak sebelum pada malam hari memeriksa kembali makam-makan untuk mencari tahu tentang tanggal lahir dan golongan darah dari orang-orang yang sudah mati itu. *** Esok paginya, Emma yang selalu berangkat bersama Elliot pun kebingungan karena melihat banyak yang terdiam saat mereka berjalan melewati para penggosip itu, biasanya ia akan mendengar bisik-bisik di sepanjang koridor, bahkan cenderung berisik atau menatap sinis kepada mereka. Namun, hari ini aneh, bahkan Emma melihat ada lelaki yang lari ketika menyadari keberadaannya dan sang kekasih. Menatap ke arah yang lain, ia pun mendapati ekspresi mereka seperti orang-orang yang pertama kali terlihat di koridor ini. Ketakutan, agak panik dan memilih untuk menghindari tatapan Emma. Ok, ini benar-benar aneh. Emma membatin, kemudian memandangi sang kekasih di sebelahnya. "Elliot, kenapa mereka kelihatan seperti ketakutan?" tanya Emma menatap lelaki yang berjalan santai di sampingnya. "Hah, jangan pedulikan. Oh ya, hari ini hanya satu kelas, kan? Aku ingin kita makan siang bersama, kau ada rekomendasi?" tanya lelaki itu mengalihkan pembicaraan mereka yang sebelumnya membahas hal yang tidak penting menurut Elliot. "Hmmm... bagaimana kalau makan masakan jepang, ada salah satu restoran yang kusuka. Tempatnya sih biasa saja, tapi rasanya sangat ok, loh." "Sudah sering makan di sana?" Emma menggelengkan kepalanya dan kemudian berbicara dengan antusias. "Tidak juga, hanya beberapa kali, sih, itu pun karena diteraktir oleh Steve. Hehe." Emma merasa malu karena selalu makan dengan gratisan. "Hm, kau memanggil nama depannya." "Ya, awalnya sih agak aneh karena saat berkenalan dia yang menyuruh, tapi karena orangnya juga baik dan kami berteman, jadi tidak masalah. Mau tidak Elliot? Rasanya tidak kalah seperti di restoran mewah, deh." Emma mengangkat kedua jempolnya ke arah Elliot sambil menyengir dan menunjukkan gigi-gigi putihnya. "Terserah." "Baiklah, jika kelasku sudah selesai, akan kuhubungi, ya." Emma melambaikan tangannya kepada sang kekasih dan membuka pintu untuk masuk. Setalah gadis itu pergi, ia berjalan ke arah sebaliknya untuk menuju ke kelasnya, Elliot yang akan melewati belokan lorong pun terhenti karena mendengar pembicaraan beberapa orang gadis yang membahas tentang hubungannya dengan Emma. "—percayalah padaku, Emma kita kan sudah menaklukkan iblis sialan itu, kita tunggu saja tanggal mainnya. Pasti sebentar lagi iblis itu menderita karena dipermainkan oleh Emma. Bagaimana pun, Emma kan ikut bertaruh untuk menaklukkan sang iblis dan akan mempermainkan hidupnya karena dia sudah merusak dan mempermalukan para gadis seenakknya." "Yeah, untung saja Emma berani mendekatinya, saat iblis itu sudah mencintainya, maka Emma hanya tinggal mencampakkannya. Hahaha... pasti itu keren, kita lihat wajah sialan itu akan bisa tersenyum sinis lagi atau tidak. Ya kan, Karin." Tawa kecil cenderung sinis terdengar. "Aku tidak sabar menunggu hari itu, Irene. Emma adalah sahabat kita, dan dia akan segera membalaskan dendam kita." "Iya, lalu kita akan merayakannya seperti biasa. Peraya—" Elliot tidak mendengar hal apa lagi yang dibicarakan para sahabat kekasihnya itu karena kakinya sudah berjalan terus tanpa memedulikan kedua gadis yang masih asik berbicara. Wajah Elliot terlihat datar, tetapi rahangnya mengeras karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Seluruh otaknya berpikir, bertanya-tanya apakah semua itu benar? Apakah Emma memang mempermainkan dirinya seperti yang dijelaskan gadis-gadis yang sempat ia dengarkan pembicaraannya tadi? "Jangan dengarkan! Mereka hanya perempuan penggosip yang selalu mencari celah untuk menghancurkan hubungan kalian." Walau Elliot mendengar Noah yang ingin menenangkannya, ia tetap merasa gundah. Sebab Rumor tenang taruhan ini beberapa kali pernah ia dengar. Elliot awalnya tidak percaya dengan rumor yang beredar kalau Emma hanya berniat mempermainkannya. Namun, ketika yang berbicara mengenai hal ini adalah kedua sahabat sang kekasih, maka ia merasakan hatinya seperti ditusuk jarum-jarum kasat mata. Noah menatap khawatir Elliot yang matanya berubah warna menjadi merah darah. Lelaki itu bahkan sempat menyeringai setelah melangkahkan kakinya. Jadi, dia sudah mulai mempermainkanku dengan berselingkuh dengan si laki-laki bernama Steve itu? Elliot meremas dadanya, di mana hatinya bersarang. Ia merasakan hal aneh pada hatinya. Kenapa rasanya sangat sakit dan sesak? Ada apa dengan hatinya? Kenapa, rasa sakit di hatinya ini jauh lebih sakit bahkan ketika kedua orang tuanya dan kakaknya meninggal? . . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD