|4. Pemantik – I|

1065 Words
“Estri, kamu ke mana aja? Kenapa mainnya pasti ke sungai, sih? Kalau nanti kamu hanyut bagaimana?” Omelan dari sang ibu menyambut kepulangan Estri yang baru saja selesai bermain bola. Permainan bola amatir yang berakhir ketika azan Magrib berkumandang. Pulang ketika hari berangsur gelap, tentu saja ia mendapatkan omelan dari sang ibu. Sedangkan ayahnya sendiri tidak banyak berkomentar, ia malah cengar-cengir seolah menikmati putri semata wayang dimarahi sang ibu. “Estri main bola, kok. Enggak ke sungai. Ibu enggak tahu aja kalau airnya lagi surut. Mana bisa main air kalau airnya aja cetek.” Estri tidak peduli jika ibunya akan lebih banyak mengomel sehabis ini. Bermain bola artinya lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki. Dan, ibunya tidak pernah senang jika Estri terlalu banyak bergaul dengan mereka. Anak perempuan harusnya bergaul dengan anak perempuan. Bermain boneka atau masak-masakan. Bukannya main bola, mengejar layangan, atau berburu katak. “Apalagi itu! Cepat mandi sana. Malu kalau nanti sama tamunya Ayah kalau kamu bau kecut kayak gini!” Tak seperti biasanya, ibu yang lebih banyak mengomel mendorong Estri ke kamar mandi sembari memberikan anak perempuannya itu sebotol sampo dan sabun yang masih baru. “Eh, Ayah ada tamu? Kenapa Ibu enggak bilang dari tadi? Kalau gitu, kan, Estri bisa ke masjid aja ngaji sama yang lain biar enggak usah ketemu sama tamunya Ayah,” balas Estri yang segera disambut dengan cubitan lembut di pipi. “Hus, mereka yang datang itu petinggi pabrik tempat ayahmu kerja. Mereka yang kasih ayahmu kerja. Kalau mereka bertamu secara pribadi kayak gini, mungkin ada pembicaraan penting. Jadi kami juga jangan lupa ketemu sama mereka. Jangan lupa salim, loh.” Ibunya memberikan terlalu banyak informasi yang dibenci Estri. “Tahu kalau ada tamu, mending enggak usah pulang tadi.” Cubitan kedua kali ini mendarat di lengan anak perempuan delapan tahun tersebut. Ibunya kembali berkata, “Anak perempuan jangan bicara seenak hati gitu. Omongannya dijaga, ya. Udah, kamu jangan banyak ngomel, mandi sana. Kalau tamunya Ayah udah datang, kan kamu udah wangi.” Betul sekali perkiraan ibunya. Setelah Estri menyelesaikan ritual mandi setengah hati itu, suara beberapa pria dewasa saling bercengkrama terdengar dari dapur yang terhubung dengan kamar mandi. Ibunya tengah disibukkan dengan beberapa cangkir kopi dan piring-piring berisikan makanan ringan. Berhubung Estri baru saja mandi dan sudah wangi, maka ia dijadikan tumbal untuk membawakan sisa-sisa piringa yang tidak bisa dibawa sang ibu. Entah pembicaraan mereka. Yang jelas, suasana di ruang tamu sedikit canggung dan kaku sebelum ia dan ibu datang membawakan makanan dan minuman. Setelah menyapa para tamu dan menyalimi mereka semua, barulah Estri undur diri ke dapur. Uh … dengan suasana seburuk itu, ia tidak ingin berlama-lama di rumah. Memang lebih baik pergi masjid atau menonton televisi di balai desa—padahal mereka memiliki televisi sendiri di rumah. Ibunya sendiri masih memanggang kue ketika Estri kabur dari rumah. Ia sudah mengenakan bagian atas mukena dan mengantongi bagian bawahnya di saku celana. Sebelum betul-betul meninggalkan rumah, masih terlihat para pria itu saling berdiskusi. Estri tahu bahwa ayahnya tidak nyaman berada di sana dan tampak sedang disudutkan. Tapi di titik itu ia tidak peduli. Hal terpenting saat ini kabur dari rumah. Walaupun pulang-pulang nanti akan dimarahi ibunya lagi. *** Anak laki-laki selalu menakut-nakuti Estri tentang hantu penunggu pohon nangka besar yang berada di samping rumah. Biasanya Estri tidak begitu peduli, tapi malam itu berbeda karena ia melewati pohon tersebut sendirian ketika tetangganya tidak ada di rumah semua. Dan bagian terburuknya adalah karena terjadi pemadaman listrik tiba-tiba. Tidak menyisakan penerangan apa pun untuk membantunya melihat jalan. Ia hanya tidak ingin berurusan dengan hal-hal klenik ketika sendirian seperti ini. Baru saja berpikir demikian, dari balik pohon besar itu, siluet seorang perempuan berkelebat. Melintas begitu saja membuatnya jatuh terduduk dan menjerit ketakutan. “Anak nakal! Itu balasannya kalau jadi anak nakal. Udah pergi dari rumah enggak pamit, perginya lama pula!” Ibunya muncul membawa sebuah senter yang baterainya mungkin sudah habis karena berkedip-kedip sedari tadi. Estri sungguh bersyukur, kendati harus diomeli ibunya sampai besok pagi, yang penting jangan sampai berurusan dengan hantu, setan, demit, atau apa pun itulah namanya. Sepanjang perjalanan pulang, ibunya tidak berhenti mengomel. Tentang betapa nakalnya dia, pergaulan yang buruk, khawatir bagaimana jadinya ia jika dewasa, dan kecemasan lain. Kecemasan tak berdasar khas ibu-ibu, padahal belum tentu kecemasannya itu betulan kejadian. Ayah menyambut kedatangan mereka dengan tatapan pasrah. Pastilah ia lebih dulu mendengarkan omelan tak berakhir ibu. Berhubung malam semakin larut dan belum ada tanda-tanda listrik akan menyala, mereka memutuskan tidur bersama di ruang tengah. Tikar digelar, tiga bantal dijadikan alas kepala, dan satu selimut besar membungkus mereka. Di tengah kegelapan itu, kedua orang tuanya melakukan pembicaraan serius, yang tanpa mereka ketahui, Estri masih belum bisa tidur tetapi berpura-pura memejamkan mata. Tentang atasan-atasannya datang membawakan tawaran paling kotor. Menjadikan pabrik jamu yang pemasukannya tidak seberapa itu dialihfungsikan memproduksi benda-benda bernilai jual lebih tinggi. Minuman keras dan obat-obat tanpa izin edar. Estri paham bahwa tawaran mereka betul-betul kotor. Ayahnya yang bahkan tidak akan pernah menerima kembalian seratus rupiah pastilah menolak keras tawaran mereka. Namun, mengapa ia yang telah melakukan hal baik malah merasa tidak tenang? “Mereka bisa saja datang ke sini lagi. Bukan lagi meminta, tapi memaksa menuruti yang mereka katakan. Kalau sampai di tahap itu, aku enggak yakin bisa menolak.” Kekhawatiran ayahnya memang betul-betul tidak bisa disembunyikan. Kalau sudah begini, yang menjadi fokus utama sang ayah, tentu saja mereka berdua. Ia dan ibu. “Semoga mereka enggak melakukan hal-hal buruk ke kalian. Satu-satunya ketakutanku hanya itu, kalian.” Sudah diduga. Ayahnya memang memiliki hati yang lembut di balik penampilan berwibawa sebagai kepala keluarga. Ketika pembicaraan mereka berdua telah berkembang ke topik lain yang lebih berat, secara natural Estri merasa tidak paham dan bosan. Ia terlelap tanpa mengetahui kapan tepatnya rasa kantuk itu datang. *** Seperti dugaan ayahnya, dua orang tamu waktu itu semakin sering menyambangi rumah. Di satu titik, mereka membawa seorang pria yang tampak lebih berwibawa dan berkuasa. Ialah putra pemilik pabrik tersebut. Bahkan anak kecil seperti Estri dan teman-teman sepantaran pun menyadari jika pria itu lebih berbahaya daripada yang lain. Jika pria itu terlihat di sekitar rumah, maka Estri memilih pergi. Walaupun ia sendiri khawatir dengan ayah dan ibunya yang mungkin menghadapi hal berat dengan mereka, ia tetaplah anak delapan tahun. Tidak memiliki keberanian sama sekali. Kendati begitu, ia menyadari jika pertemuan-pertemuan itu akan menjadi awal buruk. Seperti puntung rokok yang memantik api. Mimpi buruk tak berakhir Estri dimulai dari sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD