"Aku tidak setuju, Ma, Pa. Aku tidak setuju kalau kalian menentukan masa depanku hanya berdasarkan kemampuan Dinda, anak pembantu itu. Kalian sama sekali tidak memikirkan bahwa ini masa depanku. Bagaimana mungkin kalian memintaku masuk ke universitas biasa hanya karena dia tidak diterima di universitas bergengsi?"
Kanya membanting formulir pendaftaran yang baru saja diberikan kedua orang tuanya saat ia sedang bersantai di ruang keluarga.
Gadis itu menatap mereka dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Orang tua yang seharusnya memikirkan masa depan anaknya justru rela mengorbankannya demi putri mantan pembantu yang telah meninggal setelah menyelamatkan salah satu anggota keluarga mereka.
Bagi Kanya, masa depan bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan bahan kompromi. Ia tidak akan mempertaruhkannya hanya karena seorang anak pembantu gagal diterima di universitas impian.
"Suka atau tidak, kamu tetap harus menjalaninya, Kanya," ujar Stefanus dengan nada tegas. "Dinda tidak diterima di universitas bergengsi. Setidaknya kamu bisa menemaninya kuliah di kampus yang sama. Lagi pula, setelah lulus nanti kamu akan menikah dan menjadi ibu rumah tangga. Tidak mungkin kamu menjadi wanita karier. Selama ini saja kamu lebih sering bermalas-malasan."
"Aku bermalas-malasan?" Kanya menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tak percaya. "Kapan Papa dan Mama pernah benar-benar memerhatikan apakah aku belajar atau tidak? Jangan mempermainkan masa depanku hanya demi anak seorang pembantu."
"Kanya, jaga ucapanmu," tegur Rossa. "Dinda sudah kami anggap sebagai bagian dari keluarga. Jangan terus-menerus menyebutnya anak pembantu. Itu tidak pantas."
Rossa menarik napas panjang sebelum kembali berbicara.
"Kalau kalian kuliah di kampus yang sama, Mama tidak perlu khawatir Dinda akan dirundung. Ada kamu yang bisa menjaganya. Lagi pula, kalau nanti kamu tetap ingin menjadi wanita karier, kamu bisa bekerja di perusahaan keluarga. Papa pasti akan memberikan jabatan yang layak."
Rossa berusaha menggenggam tangan putrinya, tetapi Kanya langsung menarik tangannya.
Kanya berdiri. Tatapannya tertuju pada sang ibu, dipenuhi kekecewaan.
"Mama mengerti atau tidak? Aku tidak mau masuk universitas biasa karena aku punya tujuan hidupku sendiri. Kalau anak pembantu itu tidak diterima di kampus favorit, kenapa aku juga harus ikut menjadi korban? Sejak SMP sampai SMA aku sudah dipaksa bersekolah di tempat yang sama dengannya. Apa Mama dan Papa pernah memikirkan perasaanku?"
Kanya menggeleng pelan. Benar-benar sulit baginya memahami bagaimana kedua orang tuanya sanggup mempertaruhkan masa depan anak kandung sendiri demi seorang gadis yang kemampuan akademiknya jauh di bawahnya.
"Kanya, namanya Dinda, bukan 'anak pembantu'," tegur Rossa sekali lagi. "Keputusan ini sudah final. Mama dan Papa akan mendaftarkan kamu ke kampus yang sama dengannya. Kamu harus mematuhi keputusan kami."
"Kurang ajar sekali ucapanmu itu, Kanya."
Suara tegas itu membuat semua orang menoleh.
Wati baru saja memasuki ruang keluarga. Di sampingnya, Dinda menggandeng lengannya dengan hati-hati.
Alih-alih gentar melihat neneknya datang, Kanya justru tersenyum sinis.
"Kenapa? Nenek mau marah? Datang untuk membela anak pembantu itu?" tanyanya sinis. "Menganggap anak orang lain sebagai cucu sendiri, tetapi memperlakukan cucu kandung seperti orang asing. Di mana letak logikanya?"
Raut wajah Wati langsung mengeras. Melihat keadaan mulai memanas, Rossa segera membantu ibu mertuanya duduk.
"Bu, jangan terlalu dipikirkan. Kanya masih delapan belas tahun. Cara berpikirnya masih labil." Tatapan Rossa kemudian beralih kepada putrinya. "Segera minta maaf kepada Nenek dan Dinda. Apa yang kamu katakan sudah menyakiti perasaan mereka."
Kanya memandang mamanya dengan tatapan tak percaya. "Aku? Meminta maaf kepada mereka? Memangnya apa kesalahanku?"
Wati menatap cucunya tajam. "Minta maaf karena kamu terus menyebut Dinda sebagai anak pembantu. Di rumah ini dia sudah menjadi bagian dari keluarga. Tidak pantas kamu terus merendahkannya."
"Di mana letak kesalahan dari fakta yang aku katakan?" balas Kanya dengan suara meninggi. "Dia memang anak pembantu. Bagaimanapun kalian mencoba menutupinya, kenyataannya tidak akan berubah. Dia tetap anak pembantu yang—"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kanya hingga kepalanya terlempar ke samping. Rasa panas menjalar di wajahnya, disusul perih yang seketika menusuk hingga ke dasar hati.
Saat menoleh, ia mendapati William Sutraja berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin.
"Begini caramu berbicara kepada orang yang lebih tua?" ujar William. "Kamu sama sekali tidak menunjukkan sopan santun. Tamparan ini pantas kamu terima agar kamu belajar menghormati orang lain."
Kanya perlahan menegakkan tubuh. Tatapannya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia menunjuk William dengan tangan yang gemetar menahan amarah.
"Kamu bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi langsung menamparku. Apa logikamu juga sudah rusak seperti mereka? Kamu bilang aku tidak punya sopan santun. Memangnya sopan santun bisa dibeli?"
"Kanya!" bentak William.
"Apa?" balas Kanya lantang. "Mau menamparku lagi? Silakan! Tampar saja! Ayo!"
Kanya menyodorkan pipinya tanpa gentar.
William spontan melangkah maju, tetapi segera ditahan oleh Rossa.
"Aku tidak akan pernah mau kuliah di kampus yang sama dengan anak pembantu itu," ucap Kanya sambil menatap satu per satu anggota keluarganya. "Kalau kalian tetap memaksaku, lebih baik aku tidak usah kuliah sama sekali." Kanya menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Kalian harus ingat. Orang yang memiliki utang budi kepada ibunya adalah Nenek. Ibunya meninggal karena menyelamatkan Nenek. Sedangkan aku tidak pernah memiliki utang apa pun kepada siapa pun, termasuk kepada Dinda. Aku tidak berkewajiban membayar utang nyawa itu dengan mengorbankan masa depanku."
Tatapannya kembali menyapu seluruh anggota keluarga.
"Kalian selalu bersikap pilih kasih. Selama ini aku terus mengalah. Tapi jangan pernah berharap aku akan mengorbankan pendidikanku hanya demi memenuhi keinginan kalian."
Setelah mengatakan itu, Kanya berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua, mengabaikan teriakan kedua orang tuanya yang berusaha menghentikannya.
Baginya, masa depan adalah hal paling berharga. Ia sudah terlalu lama mengalah. Kini, saatnya ia memperjuangkan hidup yang benar-benar diinginkannya.