bc

Jodoh Itu Kamu

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
fated
second chance
pregnant
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
kicking
bold
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Selama beberapa tahun hidupnya, Kanya Kenzie tak pernah benar-benar merasakan hangatnya kasih sayang keluarga. Hanya karena kehadiran Dinda, cucu angkat kesayangan sang nenek, Kanya selalu menjadi pihak yang disalahkan. Kedua orang tuanya, bahkan ketiga kakak laki-lakinya, tak pernah ragu memihak Dinda dan mengorbankan perasaan Kanya.Padahal, Kanya adalah gadis cerdas dengan masa depan yang gemilang. Mimpinya untuk menempuh pendidikan di kampus impian harus hancur ketika keluarganya memaksa dirinya masuk ke perguruan tinggi biasa demi menemani Dinda. Tak sanggup lagi hidup dalam ketidakadilan, Kanya memilih kabur dari rumah. Keputusan itu semakin berat karena saat itu ia sedang mengandung anak dari kekasihnya, Kenzo Karesh, pemuda yang ia tinggalkan. Di negara yang asing, Kanya memulai hidup dari nol. Seorang diri, ia berjuang melewati pahitnya kehidupan hingga akhirnya melahirkan tiga anak kembar yang menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan. Sementara itu, Kenzo tak pernah berhenti mencari gadis yang dicintainya, meski semua jejak Kanya seolah lenyap ditelan waktu.Tiga belas tahun berlalu. Kanya kembali sebagai wanita tangguh dengan tiga anak yang luar biasa. Kepulangannya membuka kembali luka lama yang berusaha ia abaikan serta mempertemukannya dengan keluarga yang pernah mengabaikannya dan dengan Kenzo, pria yang tak pernah berhenti mencarinya.

chap-preview
Free preview
Bab 1. Kanya Kenzie
Kanya Kenzie menatap alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis dengan tatapan datar. Ekspresi wajahnya tidak terlalu terkejut karena ia memang sudah menduga hasilnya akan seperti ini. Hanya saja, hal yang paling tidak pernah ia sangka adalah kenyataan bahwa dirinya hamil pada usia delapan belas tahun. Ya, di usia yang masih sangat muda, ia sudah mengandung anak dari kekasihnya, Kenzo Kavrez, yang telah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun. Belakangan ini mereka memang cukup sering menghabiskan waktu bersama setelah lulus sama-sama sekolah. Namun, hubungan mereka mulai merenggang sejak dua minggu terakhir, tepat setelah Kanya memergoki Kenzo membonceng Dinda Aprilia. "Aku tidak bisa terus hidup dalam tekanan seperti ini. Mungkin satu-satunya jalan adalah mencari solusi atas masalah yang telah aku ciptakan sendiri," gumam Kanya. Gadis itu segera turun dari tempat tidurnya ketika mendengar suara motor milik Kenzo. Kamarnya berada di lantai dua. Saat berdiri di balkon, ia melihat Dinda baru saja turun dari motor Kenzo. Pemandangan itu membuat kedua tangan Kanya mengepal erat di sisi tubuhnya. Luar biasa. Kenzo sama sekali tidak berusaha membujuknya. Sebaliknya, ia justru mengantar gadis yang selama ini berusaha merebut semua yang dimiliki Kanya. Gadis yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga ini, tetapi mampu membuat seluruh penghuni rumah menyayanginya. Kanya masih berdiri di balkon ketika Kenzo yang tengah berbincang dengan Dinda mendongakkan kepala. Tatapan mereka bertemu. Wajah Kenzo tampak terkejut, tetapi Kanya segera membalikkan badan dan masuk ke kamarnya. "Dasar laki-laki menyebalkan. Aku tidak akan pernah mau berurusan lagi dengan seseorang yang sudah memilih berpihak kepada anak pembantu itu." Kanya kemudian menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia mengambilnya, membuka seluruh media sosial dan kontak Kenzo, lalu memblokir semuanya tanpa ragu. "Aku tidak mungkin membunuhnya. Aku sudah berdosa karena menghadirkannya dengan cara yang salah. Aku tidak ingin menambah dosa dengan membuangnya begitu saja." Tangannya perlahan mengusap perutnya. Tak lama kemudian, Kanya membawa ponselnya, keluar dari kamar, lalu bersiap meninggalkan rumah. Ia memiliki tujuan yang tidak akan diberitahukannya kepada siapa pun. "Kanya?" Dinda tampak terkejut melihat kemunculannya. Namun, Kanya hanya menatapnya dengan wajah datar. "Aku minta maaf karena tadi meminta Kenzo menjemputku. Sebenarnya aku sudah menghubungi Bang Abra terlebih dahulu, tetapi beliau masih berada di kampus." Dinda menundukkan kepala. Namun, Kanya yang sudah tidak ingin berbicara memilih berlalu begitu saja tanpa memberikan jawaban. Wajahnya tetap dingin ketika ia menaiki sepeda motornya dan melaju menuju sebuah rumah di kawasan perumahan elite. Sesampainya di depan gerbang perumahan, Kanya tidak diizinkan masuk oleh petugas keamanan karena tidak memiliki janji dengan penghuni rumah. Akhirnya, ia hanya menunggu di depan gerbang hingga mobil milik salah seorang pengusaha ternama--yang juga merupakan rival bisnis ayahnya--melintas. Kesabarannya membuahkan hasil. Begitu mobil dengan nomor polisi yang sudah dihafalnya muncul, Kanya segera berdiri menghadang laju kendaraan tersebut. "Om, saya ingin berbicara dengan Om. Ini sangat penting dan menyangkut hidup mati saya," ujar Kanya. Pria itu tetap berada di dalam mobil. Ia hanya menurunkan kaca jendela belakang karena Kanya memang sengaja menghentikan laju kendaraannya. "Apakah kita saling mengenal?" tanya pria paruh baya itu dengan raut bingung. Jelas ia tidak mengenali gadis di hadapannya karena mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya. "Om memang tidak mengenal saya, tetapi saya mengenal Om," jawab Kanya tenang. "Saya adalah putri Stefanus Sutraja, musuh sekaligus rival bisnis Om. Jika Om tidak bersedia berbicara dengan saya, saya akan duduk di tengah jalan ini sampai orang-orang berkumpul dan Om menjadi pusat perhatian." "Kamu putri Stefan? Untuk apa datang ke sini? Apa kamu ingin menjebak saya?" Kening Arif Sutanto langsung berkerut mendengar nama rival bisnisnya disebut. Kanya tersenyum tipis. "Kalau Om tidak memberi saya kesempatan untuk berbicara, saya benar-benar akan melakukan hal itu." Dua puluh menit kemudian, Arif Sutanto dan istrinya, Vina Bukane Panduwinata, hanya bisa saling berpandangan setelah mendengar penuturan gadis berusia delapan belas tahun itu. Vina perlahan mendekat kepada suaminya. "Mas yakin ini bukan jebakan? Bagaimana kalau Stefan sengaja mengirim putrinya untuk menjatuhkan nama baik Mas?" bisiknya pelan. Belum lagi mereka masih memiliki tiga orang anak yang harus dibesarkan. Kesalahan dalam mengambil keputusan dapat berdampak besar, bahkan terhadap perusahaan yang mereka bangun. "Saya jamin, jika Om dan Tante bersedia membantu saya, tidak akan ada seorang pun yang mencurigai kalian. Saya juga tidak akan menyeret Om maupun Tante ke dalam masalah ini. Kalau Om dan Tante masih ragu, silakan selidiki semua yang saya ceritakan. Semua ini benar adanya." Ada jeda sejenak dimana mata Kanya tampak berkaca-kaca. "Saya tidak ingin masa depan saya, yang sudah hancur, menjadi semakin buruk hanya karena saya tidak berani keluar dari keadaan ini. Saya mohon, Om, Tante, tolong saya. Hanya kalian yang dapat membantu saya." Arif menatap Kanya cukup lama. "Kamu baru berusia delapan belas tahun. Mengapa bisa memiliki pemikiran sejauh ini?" Kanya tersenyum pahit. "Keadaan yang memaksa saya. Sejak SMP sampai SMA saya terus mengalah mengikuti mau mereka masuk sekolah biasa. Sekarang saya tidak ingin mengalah lagi. Saya ingin mengejar impian dan cita-cita saya. Jika suatu hari nanti saya berhasil, saya akan selalu mengingat kebaikan Om dan Tante. Saya tidak ingin mempertaruhkan masa depan saya hanya demi memenuhi keinginan egois kedua orang tua saya yang tidak masuk akal." "Kalau nanti kamu benar-benar pergi ke sana, apa yang akan kamu lakukan? Kamu belum mengenal siapa pun. Kehidupan di sana sangat berbeda dengan di sini. Masyarakatnya cenderung lebih individualis. Tante khawatir kamu tidak akan betah," ujar Vina. "Lalu, apakah kamu menguasai bahasa asing?" Kanya menegakkan tubuh sambil tersenyum yakin. "Saya sudah tidak memiliki rasa takut lagi setelah melalui begitu banyak masalah dalam hidup. Saya menguasai beberapa bahasa asing, seperti Jepang, Mandarin, Korea, Inggris, Portugis, Prancis, dan Arab. Memang belum semuanya fasih, tetapi saya mampu berkomunikasi dengan cukup baik." Kanya tampak percaya diri saat menyebutkan bahasa-bahasa yang dikuasainya. Masih ada beberapa bahasa lain yang sedang dipelajarinya secara mandiri. Jika diberi kesempatan, ia ingin terus mempelajari lebih banyak bahasa dari berbagai negara. Arif dan Vina kembali dibuat terkejut. "Dari mana kamu belajar semua bahasa itu?" "Secara otodidak. Saya belajar diam-diam, dan tidak seorang pun di keluarga saya mengetahuinya." Arif menghela napas pelan. "Baiklah. Om dan Tante akan mempertimbangkan permintaanmu dengan matang." Hanya itu yang dapat Arif katakan. Ia harus memikirkan langkah yang paling tepat karena keputusan yang akan diambil bukan hanya menyangkut masa depan seorang gadis muda, tetapi juga melibatkan putri dari rival bisnisnya sendiri.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
816.9K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
378.5K
bc

Not just, the Beta

read
359.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook