Bab 4. Negosiasi

1155 Words
Bab 4 Negosiasi Calista menggerutu dalam hati karena ulah Daniel di kampusnya tadi. Selama perjalanan dari kampus ke rumah kakak iparnya, gadis itu tak berhenti mengomel seorang diri. Walaupun Daniel adalah orang yang berjasa menyelamatkan kakak iparnya, tapi tetap saja dia dongkol dan kesal melihat pria yang sialnya kadar ketampanannya semakin meningkat saja. Setelah memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, akhirnya Calista tiba di kediaman Feli. Calista memarkirkan mobilnya di halaman rumah kakaknya. Dan tak lupa dia membawa paper bag hadiah dari ayahnya untuk Kak Feli yang sedang hamil muda itu. Ayahnya sangat gembira saat mengetahui kalau menantunya hamil. Tanpa mengetuk pintu, Calista langsung menyelinap masuk ke rumah kakaknya itu. Dan rumah itu sangat sepi seperti tak berpenghuni. Kemana kakak iparnya itu? "Kak Feli ngapain?" Tanya Calista saat mendapati kakak iparnya tengah memotong bawang merah. Entah lah di usia kehamilan yang masuk bulan kedua ini, kakak iparnya tak mengalami morning sickness seperti kebanyakan calon ibu muda lainnya. Malah terlihat sangat bertenaga. "Ah, Calista. Maaf ya aku tak mendengar mu masuk," Ucap Feli penuh rasa menyesal. "Enggak tau kenapa pengen coba buat dendeng," jelas Feli saat melihat tatapan penuh tanya dari Calista. Calista mendekat ke arah Feli dan melihat aktivitas kakak iparnya. "Oh ya kak, tadi ayah nitip sesuatu. Tadi Calista letak di ruang tamu."  "Ayah memang begitu padahal tak usah repot-repot," ucap Feli tak enak. "Nanti malam, kak seret Alex ke rumah Ayah sekalian berkunjung sudah lama juga enggak ketemu Ayah." Calista hanya tersenyum kecil. "Kalau enggak bisa enggak usah dipaksakan kak, Calista paham dengan kondisi kak sekarang." Feli mengehentikan aktivitas memotong bawangnya dan menatap Calista. "Jadi kakak enggak boleh jenguk Ayah gitu?" lirihnya pada Calista dan mata Feli tampak berkaca-kaca. Calista gelagapan melihat perubahan sikap kakak iparnya itu. Kata orang, wanita yang sedanghamil hormon nya memang naik turun, jadi harap dimaklumi saja. Tapi dia tak menyangka sama sekali kalau itu terjadi pada kakak iparnya. "Bukan gitu kak." Calista mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang.  Calista bingung mengahadapi wanita hamil apalagi ini pengamalan pertamanya. "Ya udah nanti malam Calista tunggu ya dan jangan lupa suruh kak Alex bawa makanan karena Calista malas masak." Akhirnya Calista bisa menjawab dengan aman. Mata Feli langsung berbinar menatap Calista. "Sungguh?!" ucap Feli senang. "Baiklah kalau gitu nanti aku akan menyuruh Alex pulang cepat." Calista hanya mengangguk saja mendengar ucapan kakak iparnya itu. Calista melihat jam di ponselnya dan dia harus ke kantor Ayahnya karena dia sudah janji. Padahal dia ingin berlama-lama di sini. "Kak, Calista pamit ya ada urusan lain yang harus di urus. Calista tunggu entar malam di rumah," ucap Calista. Calista berharap semoga kakak iparnya ini mengizinkan dia pergi. Feli tiba-tiba cemberut. "Baru aja sampai udah pergi lagi."  "Calista mau ke kantor Ayah habis ini kak, takut macet," jawab Calista jujur.  Feli menghela napas. "Ya sudah, hati-hati di jalan." Feli cemberut dan terpaksa mengizinkan Calista pergi. Calista tertawa. "Iya kak, aman itu." Calista bisa bernapas lega dan kemudian dia pamit kalau tidak ingin terjebak macet di jam istirahat kantor. *** Alex meremas rambutnya menghadapi pria didepannya ini. Bukannya Alex tak yakin dengan apa yang barusan dikatakan pria itu, sungguh. Tapi, melihat sikap Calista yang tampak cuek setelah berbicara dengan Daniel pada malam itu membuat Alex tampak sedikit ragu. Dan siapa juga yang mau dengan pria tampan ala-ala stalker seperti Daniel. Mungkin di luaran sana banyak tapi tidak termasuk untuk Calista. Alex mengenal Daniel yang merupakan tipe yang tak kenal kata menyerah. Dia akan berusaha terus maju apapun yang akan terjadi sampai dia mendapatkan apa yang diinginkannya. "Bagaimana Alex?" Tanya Daniel sembari tersenyum simpul, senyum yang sungguh membuat Alex jengkel melihatnya. "Bagaimana apanya? Jelas-jelas Calista menolak mu dan aku bisa apa?!" ucap Alex frustasi.  Daniel menatap Alex dengan tenang, pria itu sangat tahu bagaimana watak Calista yang manja sekaligus keras kepala. "Alex, kita sudah mencapai kesepakatan saat itu dan tak mungkin kau menarik lagi ucapan mu itu kan." Alex menatap Daniel tak percaya. Perjanjian atau negosiasi konyol itu. "Aku tahu hal itu, Dan. Tanpa aku kasih tahu pun, kau sendiri sudah tahu watak Calista itu bagaimana. Tolong jangan menguntit dia seperti itu dia bakalan marah dan berubah menjadi benci." Daniel tertawa mendengar kata penguntit yang dilontarkan Alex padanya. Tapi benar beberapa kali pertemuannya dengan Calista memang sengaja dilakukannya. Dan ya, dia memang penguntit ternyata. "Benci ya?" Daniel tampak berpikir sejenak. "Benci dan cinta itu beda tipis," ucap Daniel sembari mengulum senyum yang membuat Alex merasa kesal maksimal. Memainkan emosi Alex membuat Daniel terhibur. Kakak dan adik memiliki watak yang sama. Astaga, terbuat dari apa pria di depannya ini. Alex sangat tak habis pikir. Alex menghembuskan napas lelah. Berdebat dengan Daniel tak akan pernah mencapai kata sepakat secara singkat, pasti terjadi konflik dahulu. Alex tahu, dia tak akan pernah bisa menolak permintaan dari Daniel. "Oke, dulu aku memang b******k tapi sekarang aku berubah dan kau bisa memegang ucapan ku ini," ucap Daniel serius.  Kedua tangannya di lipat ke d**a sembari menatap Alex tajam. "Kalau aku main-main lebih baik aku pilih wanita di club malam tempat kau mabuk parah waktu itu dan aku tahu siapa saja wanita yang sangat menggairahkan ketika di ranjang."  Alex mengangkat kedua tangannya ke udara. Menyerah. Berdebat dengan Daniel Kusuma memang membuang energinya sejak awal. Alex menduga kalau Daniel sengaja memancing emosinya sejak di awal tadi dan sialnya dia malah dengan gampang nya melemparkan diri ke dalam permainan Daniel. "Baiklah, terserah pada mu. Kalau kau melakukan sesuatu yang tak pantas pada adik ku, saat itu juga aku orang pertama yang akan menghajar mu." Alex terkadang merasa kesal pada dirinya sendiri di saat seperti ini.  Daniel terkekeh, beginilah kalau berurusan dengan kakak yang sangat sayang pada adiknya. "Hentikan sikap posesif mu itu, sungguh tak pantas dengan wajah mu itu," entah pujian entah ledekan yang dikatakan Daniel itu dan Alex malas mengambil pusing. "Dan kapan aku bisa bertemu lagi dengan adik mu itu?"  Sebelum Alex menjawab todongan pertanyaan Daniel dia menerima sebuah pesan dari Feli. Ntar malam kita ketemu Ayah ya. Kangen sama Ayah. Ntar kamu yang masak ya sayang di dapur Ayah. Udah lama gak liat kamu masak. Setelah dia membaca dan membalas pesan istri tercintanya itu, tiba-tiba saja terlintas ide yang konyol. Alex harus memohon maaf pada Calista di dalam hati.  "Entar malam datanglah ke rumah Ayah ku." Sebuah senyum terbit di wajah tampan Daniel. "Baiklah," jawab Daniel cepat dan membuat Alex cemberut.  "Jangan gelisah seperti itu, aku tahu apa yang ada dipikiran mu saat ini. Aku belum akan menyeret adik mu ke ranjang sebelum dia sah jadi istriku." Daniel tersenyum geli melihat ekspresi Alex ketika dia mengatakan itu. Alex menghembuskan napas. Entah apa yang akan terjadi nanti malam saat Calista dan Daniel bertemu. Inilah konsekuensinya kalau berurusan dengan keluarga Kusuma, batin Alex.  Lalu sebuah masuk pesan dari Calista. Awas aja kalau kak sampai berani ngajak si Dandang itu ke rumah ayah. Calista bakalan ngambek sama kakak. Ini serius kak  Nah, belum apa-apa adiknya sudah main ancam-mengancam segala. Alex tak tahu reaksi apa yang akan didapatkannya ketika tahu kalau Alex mengundang Daniel makan malam. Oh God, hanya tuhan yang tahu bagaimana kelanjutan sesi makan malam nanti nya. "Aku sangat menantikan kejutan nanti malam," ucap Daniel puas sembari tersenyum tipis.Bab 4 Negosiasi Sedangkan Alex yang mendengar ucapan puas dari Daniel hanya bisa tersenyum masam. Sungguh pria yang menyebalkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD