....kehadiran saya hanya akan membuat kamu terluka. Saya tidak ingin kamu bersedih Khiya, lebih baik saya pergi. Khiya mengerjap pelan, kalimat itu masih memenuhi kepalanya. Farel meninggalkannya? Khiya tidak percaya ini. Ini pasti hanya mimpi! “Apa dia baik-baik saja? “ Khiya bisa melihat siluet bayang dari pintu yang setengah terbuka. Itu suara Aliya. Ini bukan mimpi! Rasa sedih itu kembali menghampiri relung hati Khiya. Terasa sangat pedih, mengalahkan rasa nyeri di sendinya bahkan Khiya tidak sadar bahwa kakinya bengkak. “Gak! Hubby gak mungkin pergi! “ Khiya menepis selimut dari tubuhnya. “Aaww !” Nyeri langsung menjalar ke seluruh tubuh Khiya. Kakinya sakit. Khiya meringgis kesakitan. Mendengar suara rintihan Khiya, Aliya dan Fauzan spontan langsung masuk ke dalam kamar.

