Bab 1. Awal dari segalanya
Anindiya tiba-tiba terbangun di sebuah tempat yang tampak begitu asing. Di tangannya terdapat cambuk yang entah sejak kapan sudah berada di genggamannya.
Di mana ini? Bukankah aku tadi sedang lembur menandatangani novel yang baru saja akan diterbitkan besok?
Seorang pria yang sedari tadi berlutut membelakanginya menoleh sedikit. Melirik Anindiya melalui sudut matanya.
"Kau sudah puas?"
Sontak suara tersebut pun membuat Anindiya terkejut. Ia memandang pria di hadapannya dari atas hingga ke bawah. Kemeja yang pria itu kenakan tampak robek. Memperlihatkan beberapa luka di tubuhnya.
Astaga! Kenapa Adegan ini terasa familiar sekali? Batin Anindiya. Beberapa saat kemudian, ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan sebelah tangan.
Apa jangan-jangan ... aku masuk ke novel buatanku sendiri?!
Kepalanya mendadak terasa pusing. Ingatan gadis itu berpindah pada sesaat sebelum karakter asli dari pemilik tubuh tersebut menyiksa sang tokoh utama pria.
Anindiya ingat bahwa dirinya bertransmigrasi dan menjadi tokoh antagonis wanita, yang sering memukuli suaminya sendiri. Bukan hanya itu, pemilik tubuh asli juga berselingkuh dengan seorang gigolo, pria miskin yang hanya memanfaatkannya demi uang.
Akhirnya, saat tokoh utama wanita mulai muncul dan bertemu dengan tokoh utama pria, mereka berdua pun saling jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tokoh utama pria yang memang sedari lama menyimpan dendam kepada sang pemilik tubuh asli pun memutuskan untuk menceraikannya. Lalu membuangnya ke kota Timur untuk dijadikan p*****r. Sebagai pembalasan dendam atas perlakuan yang didapatkannya selama ini.
Setelah itu, tokoh utama pria dan wanita pun menikah. Keduanya hidup bahagia. Sementara pemilih tubuh asli, digilir beramai-ramai oleh para preman dan berakhir dengan tragis setelah tertular penyakit kelamin dari preman-preman tersebut.
Tanpa disadari, tubuh Anindiya sedikit mengejang. Merinding mengingat betapa sialnya nasib yang akan ia alami nanti.
Baru ia sadari. Menyesal karena telah menulis cerita yang sangat buruk seperti ini. Bahkan mencantumkan namanya sendiri sebagai karakter jahat yang akan bernasib sial.
Gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Menyadarkannya dari lamunan.
Kalau tidak salah, plot penyiksaan ini masih sedikit awal. Dan tokoh utama wanita akan muncul sekitar satu bulan lagi. Jadi, aku masih bisa mengubah nasibku sendiri sebelum semua itu terjadi. Batin Anindiya, mencoba melihat situasi yang terjadi saat ini.
Gawat! Gawat! Itu berarti, pria di depanku ini adalah Dirga Bimantara. Tokoh utama pria. Aku harus segera kabur dari sini, sebelum pria psikopat itu balas dendam.
Baru saja gadis itu hendak kabur, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan Dirga yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya.
"Jika belum puas, kau masih bisa memukulku lagi. Tapi jangan harap aku akan menyerahkan proyek itu kepada selingkuhanmu itu!" ucap Dirga dengan tegas.
Seketika seluruh tubuh Anindiya terasa bergetar hebat. Wajah setampan itu dan aura sedingin itu, sungguh perpaduan yang sangat sempurna. Sayangnya, ia tetap harus menjauh dari pria yang saat ini masih menjadi suaminya tersebut. Agar dapat menghindar dari nasib tragis yang sedang menunggunya di ujung cerita nanti.
Gadis itu ingat bahwa di dalam buku, pemilik tubuh asli rela menyiksa tokoh utama pria hanya untuk mengambil alih proyek senilai ratusan miliar, yang kemudian akan diserahkan kepada pria selingkuhannya. Namun, sang suami menolak. Hal itulah yang membuat kemarahannya semakin menjadi-jadi dan terus mencambuk suaminya hingga membabi-buta.
Anindiya segera membuang cambuk di tangannya. Melempar benda tersebut ke lantai. Lantas ia memaksakan senyumannya di hadapan Dirga.
"Kalau aku bilang aku gak sengaja, kamu percaya enggak?" kata Anindiya dengan suara lirih. Nyaris tidak terdengar.
"Jangan menggunakan trik murahan itu lagi. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah percaya padamu."
Dirga berjalan menjauh. Hendak keluar dari kamar tersebut, untuk mengobati luka di tubuhnya.
Namun, langkah pria itu berhenti sejenak di ambang pintu.
"Setelah kesehatan kakek membaik, kita akan bercerai." Ia berkata dengan nada dingin. Lalu kembali melangkah pergi.
Sepertinya, kali ini tekad pria itu benar-benar sudah bulat. Setelah sekian lama menahan diri, hanya demi kesembuhan sang kakek.
Pernikahan ini memang awalnya hanyalah sebuah perjodohan belaka. Di mana kakek dari Dirga menjodohkan mereka berdua, sebagai bentuk balas budi. Sebab, mendiang kakek dari Anindiya pernah mengorbankan nyawanya sendiri, untuk menolong kakek Dirga dari kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya.
Kala itu kakek dari Dirga sedang memegang sebuah proyek pembangunan. Sementara kakek dari Anindiya hanyalah kuli biasa. Ketika ia sedang meninjau proyek di suatu kota, entah mengapa balok besar dari atas tiba-tiba saja terjatuh dan hampir menimpa kakek Dirga.
Beruntung saat itu kakek Anindiya datang tepat waktu untuk menyelamatkannya. Namun naas, balok itu justru mengenai pria tersebut dan menyebabkan benturan keras di kepalanya.
Di saat-saat terakhir dalam hidup kakek Anindiya berpesan, agar kakek Dirga mau membantunya untuk menjaga cucu satu-satunya, yaitu Anindiya. Sebab, kedua orang tua Anindiya sudah tiada dalam kecelakaan mobil, saat hendak pergi bekerja bersama-sama.
Saat itu, Anindiya yang masih bayi sengaja dititipkan kepada sang kakek. Mengingat meeting yang akan mereka hadiri begitu penting. Mengharuskan keduanya terpaksa meninggalkan sang buah hati untuk sementara waktu. Hanya saja, kejadian tersebut justru membuat mereka bertiga berpisah selamanya.
Pada akhirnya, sang kakek terpaksa mencari pekerjaan serabutan, untuk memenuhi kebutuhan cucunya.
Namun sayangnya, Anindiya yang tumbuh tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya itupun lambat laun justru berubah menjadi seorang gadis pembangkang.
Ia bahkan tidak segan untuk membentak serta memaki sang kakek yang sudah merawatnya dengan kata-kata kasar. Hal itu dilakukannya saat hendak meminta uang yang akan dirinya habiskan dengan cara berfoya-foya.
Hingga pada akhirnya sang kakek meninggal dalam insiden kecelakaan di tempatnya bekerja. Otomatis menjadikan Anindiya hidup dalam kesendirian.
Namun, di saat melihat tubuh sang kakek yang sudah terbujur kaku pun, Anindiya sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi kesedihan di wajahnya. Hal tersebut membuat para tetangga yang berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa seketika berbisik lirih. Mencibirnya sebagai cucu yang tidak berbakti.
Anindiya hanya diam. Entah apa yang ada dalam isi pikirannya saat itu.
Beberapa saat kemudian, rumah itu kedatangan orang-orang berpakaian sangat rapi. Salah satu dari mereka tidak lain merupakan kakek dari Dirga, yang sudah diamanati untuk menjaga Anindiya.
"Siapa kalian?" tanya Anindiya, sembari menatap orang-orang di hadapannya.
"Apa kau gadis bernama Anindiya?"
Anindiya mengangguk.
Sontak kakek tersebut tersenyum ramah. "Perkenalkan, nama saya Fero Bimantara. Kakek kamu sudah berjasa besar menolong saya dan beliau menitipkanmu kepada saya. Mulai sekarang, saya yang akan gantikan tugas beliau utuk merawatmu. Jadi, apa kamu bersedia untuk ikut dengan saya?"
Untuk beberapa waktu, Anindiya diam di tempat. Mencoba untuk mencerna kalimat yang kakek Fero ucapkan barusan.
Melihat dari setelah jas yang pria tua itu kenakan, membuat otak licik Anindiya segera bekerja. Ia yakin, pria di hadapannya itu bukanlah pria biasa. Mungkin saja, nasibnya akan berubah setelah dirinya diasuh oleh kakek tersebut dan menjadi wanita kaya raya.
"oke," jawab Anindiya singkat.
Dari situlah akhirnya Anindiya diboyong ke rumah keluarga Bimantara. Lantas dinikahkan dengan penerus kerajaan bisnis keluarga tersebut, yang tidak lain adalah Dirga Bimantara.
Namun, pernikahan yang tidak dilandasi oleh perasaan cinta memang sulit berjalan dengan mulus. Terlebih, sifat Anindiya yang seenaknya sendiri, serta sikap dingin dari Dirga. Keduanya menjalani pernikahan ini, semata-mata hanya untuk menunaikan kewajiban saja.
Sampai suatu ketika Anindiya bertemu dengan seorang pria dari club malam. Pria tersebut bernama Tora Subagio. Mereka berdua diperkenalkan melalui salah satu sahabat dekat Anindiya yang bernama Ratna.
Mungkin lebih tepatnya, seseorang yang menjerumuskan temannya sendiri ke hal-hal yang salah.
Anindiya menatap punggung Dirga yang semakin menjauh. Lalu menghilang di balik pintu. Gadis itu menghela napas berat.
"Menakutkan sekali!" gumamnya, lantas berbaring di tempat tidur.
Baru tenang sebentar, tubuh gadis itu kembali menegang. Ia bangkit kembali.
"Hm ... kalau dipikir-pikir, pemilik tubuh asli ini benar-benar bodoh. Hidup enak, uang berlimpah, bahkan masih punya suami yang kaya dan tampan. Bisa-bisanya malah milih cowok mokondo!"
"Ponsel. Di mana ponselku?" Anindiya mencari benda pipih tersebut di atas tempat tidur.
Setelah menemukannya, gadis itu membuka aplikasi tempatnya menyimpan uang.
Seketika matanya melotot melihat rekeningnya yang kosong melompong. Bahkan tak menyisakan satu rupiah pun di dalamnya.
"Apa? Kosong?! Di mana semua uang-uangku?"
Astaga! Aku baru ingat sekarang. Beberapa hari yang lalu, aku malah mentransfer semua uangku ke b******n itu. Aih ... sial!
Menggerutupun sekarang sudah terasa percuma. Semua yang hilang tidak akan langsung kembali begitu saja.
"Gak bisa. Pokoknya aku harus ambil semua uangku kembali!"